Bulan: September 2020
-
Puisi Mored: Legenda Tangis
Oleh: Mahesa Asah* Rindu Si Gila ;Kekasih Mimpi Altar waktu perlahan memungut rindu, dari belantara hutan-hutan dan jalan menapak.Mengutukiku dalam rentetan pujangga. Sementara serupa mata-matamu membumbung embuun panyejuk mataku. Bukit menjulang bersaksi riangnya candu,berbaris rapi menyambut sepucuk rindu sebelum dungu. Walau,tak bermahkota permata dan berjubah raja destinasimu menerima si buruk rupa tuk bertamu.
-
Puisi: Manunggal Rasa
Manunggal Rasa Kemaren senja pucat pasih Memikul keranda air mata Sambil menunjuk-nunjuk Langit kemudian Bumi Menafsiri setiap desir angin Berembus mengolah kasih Lalu wajah yang lama ku hafal bertandang Membawa bingkisan roti impian Kemudian hening, lalu pening Lantaran bulan membawa sabit wajahmu Bersama alunan rebana Sampai ijab qobul Sampai melahirkan kasih-kasihmu Dalam lingkungan
-
Puisi Mored: Malam Monokrom
Oleh: Heru Mulyanto* Malam Monokrom Andainya malam bisa menggantikan siangDan siang tak pernah ada…Andainya senja tak pernah tibaDan malam menjadi abadi…Itu justru malah lebih baikHanya lampu, bulan, bintang, dan sepi… Jikapun senja tak pernah ada, maka Sukab tak akan mencurinya dan mengirimnya pada AlinaYah, aku juga tak tau mengapa kutulis tulisan iniLagi-lagi sampah… Aku hanya
-
Sebuah Kado di Hari Pernikahanmu
Liana yang manis, Liana yang sendu. Apa kamu masih menyukai senja ? Kamu selalu berkata sangat menyukai senja padaku, menikmatinya dengan duduk di bawah pohon cemara sambil bercakap-cakap dan melihat matahari yang perlahan tenggelam ke balik cakrawala. Dan tahukah kamu dimana aku berada saat ini ? Ya, aku berada di tempat dimana kita selalu mengahabiskan
-
Cerpen: Peti Mati
Boneka yang dipegang Keira tampak semakin kusut. Warna yang awalnya putih berubah agak kecokelatan gara-gara tangannya tak dicuci tatkala selesai makan dan bermain. Sepanjang hari ia tak bosan memeluk bonekanya, dan dari pelupuk mata turun air bening. Air mata yang jatuh terserap langsung oleh boneka yang dipeluknya. Entahlah, apa yang sedang ia pikirkan. Barangkali ia
-
Pilkada Situbondo dalam ‘Perang’ Musik Anak Muda
Oleh: Panakajaya Hidayatullah Pilkada Situbondo sudah semakin dekat. Ruang-ruang publik kini semakin disesaki banner-banner paslon yang sedang berkontestasi di tahun ini. Pembicaraan di warung-warung kopi semakin tidak asyik lagi karena didominasi dengan narasi-narasi politik daerah. Sementara pembicaraan tentang gibah tetangga dan kawan kini jarang saya dengar. Ada yang memuji, tidak sedikit yang menyerang. Hampir
-
Self-Validate: Cara Ampuh Menjaga Kewarasan
Oleh: Raisa Izzhaty Sejak kecil, saya terbiasa untuk tidak mengakui perasaan-perasaan yang muncul. Alih-alih berpikir soal perasaan, saya lebih sering mengelak perasaan marah, sedih, atau kecewa yang muncul. Ternyata, kebiasaan merepresi perasaan berpengaruh pada cara saya mengelola emosi. Saat ini, saya jadi kehilangan kemampuan untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya saya rasakan. Saya hanya mampu
-
Pilkada Situbondo: Kamu Pilih Siapa, Bro?
Oleh: Sainur Rasyid Beberapa minggu kemarin, ada seorang teman yang berkunjung ke rumah, sebut saja namanya Iink. Saya mempersilahkan masuk dan mempersilahkan Iink duduk. Sebelum duduk seperti biasa dia menanyakan kabar saya dan keluarga. “Alhamdulillah baik, bro”, Saya jawab singkat dan mempersilahkan Iink untuk duduk. Kita baru saja duduk, Iink langsung melontarkan pertanyaan. “Bro…
-
Puisi: Celurit yang Tergantung
Sumahya Di ruang hatimu Kutemukan hujan lihai mencipta kata-kata untuk kita Untuk puisi, untuk matahari yang gagal meminang pagi Dan kita adalah bocah-bocah kecil yang senang menanam gigil Dan waktu akan memetik kita sebagai kemuning daun pohon mati Yogyakarta, 2020 Di Sebuah Cafe Di sebuah cafe Sebuah
-
Resensi: Dari Patah Hati Hingga Tragikomedi
Identitas Buku Judul buku : Menghitung Percakapan Penulis : Alifa Faradis, dkk. Penerbit : Bashish Publishing, Situbondo Cetakan : Pertama, Agustus 2020 Tebal : xvi + 228 halaman ISBN : 978-623-93939-3-9 Peresensi : M. FirdausRahmatullah Bukankah kita sering mendengar tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan? Cinta sepihak lantaran sang kekasih sudah berpunya atau