Kategori: Cerpen

  • Cerpen : Bunga Mawar Merah Berduri

    Oleh: Rahman Kamal Malam sudah larut, tapi warga Desa Belimbing masih tampak ramai di pekarangan rumah Pak Kades. Hampir seluruh warga desa ikut membantu kesibukan di rumah Pak Kades. Seminggu sebelum hari pernikahan, orang-orang sudah berbondong datang mengucapkan selamat. Ada yang membantu di dapur, membantu mengaduk dodol, atau sekadar berjaga di malam hari. “Acara ini

    selengkapnya…

  • Cerpen: Untuk Seorang Perempuan yang Hanya Kepadanya Kesedihan Bertempat

    Oleh: Alif Febriyantoro Perempuan itu selalu bersedih, wajahnya selalu terlihat murung, setiap hari, dari pagi sampai malam, dalam keadaan sadar maupun dalam keadaan bermimpi. Ia bersedih di mana-mana; di rumah, di kantor, di pasar, di taman, di toko baju, atau semua tempat yang biasa perempuan kunjungi. Maka semua orang di kota ini pun mengenalnya. Dan

    selengkapnya…

  • Cerpen: Ingatan tentang Sepasang Mata

    Oleh: M Firdaus Rahmatullah Beberapa hari ini kepalaku pusing dan tak sempat menulis puisi. Aku pun tak sempat makan dan minum dan merokok dan juga mandi. Hal yang kusebut terakhir itu kulakukan enam hari yang lalu. Hampir seminggu sebenarnya. Jika Yani tidak meneleponku dan mengingatkanku bahwa hari ini adalah hari pernikahannya dan beberapa jam lagi

    selengkapnya…

  • Cerpen: Perempuan Capung Merah Marun

      Oleh:  Agus Hiplunudin Sssssst… bunyi yang keluar dari mulutmu, sambil menempelkan telunjukmu di antara sepasang bibirmu—yang merah muda. Telunjukmu bagaikan sebuah anak selot yang mengunci pintu.  Aku pun seketika diam dan duduk mematung. Sepasang matamu menatap seekor capung merah marun yang hinggap di ujung bunga gelombang cinta. Perlahan kau mengangkat pantatmu, lalu berjalan sangat

    selengkapnya…

  • Cerpen: Enam Cerita tentang Kenangan

    Oleh:  M Firdaus Rahmatullah Kenangan dan Perkelahian Jika kau bertanya, adakah yang lebih purba dari kenangan? Maka akan kujawab dengan ceritaku ini. Semenjak perkelahian itu, aku dan ia tiada pernah saling menyapa. Hatiku serupa batu yang paling purba dan tak dapat dikerat dengan alat apa pun. Apalagi dihancurkan. Aku membencinya setengah mati. Bagaikan tiada lagi

    selengkapnya…

  • Cerpen: Pulang

    Oleh: Moh. Jamalul Muttaqin “Ketika aku pulang, aku akan memberimu kabar, Sayang!” Dia bilang kepada tunangannya, Mila, sebelum kembali ke pondoknya. Sebelun mentari terbenam ke ufuk barat. Sebelum burung-burung kembali ke sarangnya. Sepanjang perjalanan dia ingat yang dikatakan Mila, “Kamu harus pulang!” Suara itu menghantui pikirannya. Seakan-akan dia tak mau kembali ke pondoknya, dia terlalu

    selengkapnya…

  • Cerpen: Perempuan yang Suka Melihat Hujan

    Oleh: Muhtadi ZL Perempuan itu duduk termangu di beranda rumah. Meramu kenangan pahit di masa silam. Dulu, terlalu banyak tangan-tangan hitam yang menjamah tubuhnya, sampai ia tak mampu menarik senyum di bibir ranumnya, hatinya perih, matanya pedih. Ingin sekali ia melebur ke dalam hujan di sore itu, agar suaminya tidak tahu kalau matanya mengembun. Gemericik

    selengkapnya…

  • Cerpen: Tanjung Kesedihan

    Oleh: Ahmad Zaidi “Kau tahu, mestinya kita tidak datang kemari.” “Ya. Aku tahu.” “Lalu, mengapa kau membawaku ke tempat ini?” “Sama sepertimu, aku tidak cukup punya banyak alasan.” “Jadi, bisakah kita selesaikan ini dengan cepat?” “Ayo. Lekas lakukan.” Lalu suara tembakan mengoyak malam yang remang, dua peluru meluncur berlawanan arah umpama garis nasib yang tak

    selengkapnya…

  • Cerpen: Perempuan Bayang

    Oleh: Ulfa Maulana “Maaf, Pa. Lea nggak sengaja.” Lelaki bertubuh kekar itu tidak peduli. Disiramkannya kopi panas pada tubuhku yang hanya memakai kaos pendek. Aku berjengit menahan tangis. Bahkan luka bekas pukulan papa kemarin belum kering. Perih rasanya. Aku yakin besok kulitku akan melepuh. Jangan menangis, Lea. Tangisanmu mengundang badai yang lebih besar. *** Baiklah.

    selengkapnya…

  • Cerpen: Kota Air Mata

    Cerpen: Kota Air Mata

    Di kota ini, air mata tidak dibasuh dengan tisu. Melainkan dengan tangan orang yang kita sayang. Di kota ini, tak ada pabrik yang memproduksi tisu.

    selengkapnya…