Kategori: Puisi
-

Mereka Berbicara Tentang Tuhan
Dalam sujudkukuserahkan beban pikirankupada bumi milik Tuhanku Kubebaskan waktuku Kunikmati ruang dan waktu Melepaskan diri sejenak dari penjara duniaKupasrahkan segala ketidaktahuanku. Ah, mereka terus berbicara tentang Tuhan,tetapi nasib sendiri tak mereka ketahui.Hari esok pun tak mereka pahami,bahkan mereka tak mengetahui apa yang bersemayam di dalam tubuh mereka sendiri. Rasul pun bersujud tatkala Isra’ Mikraj Tak
-

Timbangan dan Puisi Lainnya
Timbangan pagi belum genappasar lebih dulu percayapada bunyi-bunyinya logam beraduplastik ditarik panjangsandal menyeret sisa tidur berapa? kata itu jatuhsebelum niat selesai timbangan diletakkansedikit condong ke kiri cabai rawit dijatuhkansatu, duayang ketiga lama di genggaman “segini.” mata menimbangsebelum besi bekerja di piring lainutang kemarin ikut naikpagi yang lekas habis “kurangi.” jarum bergerakmelewati tengahkembaliseperti ragu “cukup,”(padahal belum)
-

Rimba Simularka dan Puisi Lainnya
Rimba Simularka kugali petak-petak malamketika kesepian bercabangpada tepian jurangserta lembahyang tak kupahami mengapaseniman besar larut dalam depresimerebahkan lehernya padakapak maut berserah aku dan Galactus mungkin samahaus kepala. mendamparkan 360berhala di tepian kabah. di jalanpenghabisan ke Madinah, Yastribyang renta seperti jaring lelaba kusidik gebalau di malam butaketika bibirmu menggerus bibirkuketika tapakmu mengelus pohonkukau cemburu; manusia pertama
-

Musnahlah dan Puisi Lainnya
Pemimpinku Sehelai daunyang mudah goyaholeh angin barat Eropadan angin timur Cina. Kami rakyatnya,terombang-ambing karenanya. Purbalingga, 2026 Al-Karim aku berjalan menyusuri kotaaku menyaksikan tukang becak bermandikan peluhaku melihat pedagang kaki lima berkarib dengan matahari, hujan dan malamaku menyaksikan penjual sayur membangunkan bumi dari tidurnyaaku melihat satpam-satpam meninabobokan bumi dan malamaku melihat penjual jamu keliling mengasah pikirannya
-

Sudamala dan Puisi Lainnya
Sudamala Setelah pepak sari dosa-dosasesap pada iras jernihmu, Umasetelah tapakmu penuh luka dan jelagahitam tandas di kujur tubuhmu Maka, telah tiba padamu setrakutukan Durga, kuburan subalsarang jin dedemit pelepas deritsumur tua tempat mambang berkobarrimba sulur akar mimang penebar bimbangalas werit dan glundhung pringisnanap menangis di tepian parit Juga, hilang paras landas pada dadamutergores nujum dan
-

Kanuragan Kelambu dan Puisi Lainnya
Puisi-puisi Muhammad Sholeh Arshatta KANURAGAN KELAMBU jika suaraku sedikit limbung biarlah ia meluruskan jalansebab aku tak ingin lagi kalem memeram ilmu di balik kelambumembiarkan seluruh kanuragan hanya berhenti di ujung kuku aku enggan menua diburu sesalmanusia dengan “banyak mau” namun kikir menebar bantualangkah malunya jiwa “bergaji rugi”memiliki tabungan di kepala namun bangkrut amal nyata maka
-

Bayangan Hari Kemarin dan Puisi Lainnya Karya Izza Hikmah
Bayangan Hari Kemarin Nasib bermula dari sepasang sore dan hujanMeninggalkan rindu yang tiap malam menggigilDan namamu menyesaki malam-malam sunyi Di kamar bulan pecah-pecahSeseorang membakar ranting harapan di kepalakuMembuat raib segala kata Peta hati bertengkar dengan waktuMenyoal kesakitan pada sejarahDan bayangan hari kemarinYang selalu musim hujan Selembar kabar dilipat rapi dalam lemariBersama rahasia-rahasia lukaDan kau, tak
-

Puisi: Ketika Bendera Berdetak
Ketika Bendera Berdetak (1) Ada bau mesiu menembus pagi,suara takbir bersahut dengan dentum meriam.Seorang ibu menutup telinga anaknyadan membuka dadanya pada kemerdekaan. Langit tak sempat menangis,terlalu sibuk mencatat nama-nama yang gugur.Sebuah kota terbakar,tapi yang menyala bukan rumahmelainkan iman. Di antara reruntuhan,ada sehelai bendera yang masih berdetak.Ia berkibar dari tangan gemetaryang belum tahu arti menang. Dan
-

Sepotong Lagu dari Dapur dan Puisi lainnya
Di Antara Dua Tiang Bambu pagi-pagi sekaliayah menancapkan dua batang bambu di halamanmengikatnya dengan tali tambang bekas jemuranibuku menyetrika benderadengan tangan yang gemetar pelan kami tidak tahuapakah bendera harus licin tanpa lipatanatau justru harus menyimpan kerut sejarah seekor kucing duduk di bawah tiangmelihat warna merah yang melambai seperti luka masa laludan warna putih yang terlanjur
-

Mozaik di Ruang Kelas dan Puisi Lainnya
Mozaik di Ruang Kelas Impian Sebab pendidikan, kutemukan, bukan pabrik cetakanMenghasilkan produk seragam untuk sebuah pasar persainganTentang merayakan yang istimewa, bukan mengasingkan Di ruang kelas impian semua anak dipandang berwarnaTak ada yang redup, tak ada yang terlalu nyalaMereka berpadu dalam rona jingga menorehkan kisah bersamaMenjadi mozaik indah, bukan serpihan tiada guna Di sanaKeterbatasan bukan sebuah