Rimba Simularka dan Puisi Lainnya

Rimba Simularka

kugali petak-petak malam
ketika kesepian bercabang
pada tepian jurang
serta lembah
yang tak kupahami mengapa
seniman besar larut dalam depresi
merebahkan lehernya pada
kapak maut berserah

aku dan Galactus mungkin sama
haus kepala. mendamparkan 360
berhala di tepian kabah. di jalan
penghabisan ke Madinah, Yastrib
yang renta seperti jaring lelaba

kusidik gebalau di malam buta
ketika bibirmu menggerus bibirku
ketika tapakmu mengelus pohonku
kau cemburu; manusia pertama itu
lupa menamai rusuknya sebagai
satu senyawa. mungkin Eva,
mungkin Sita, mungkin Asiah.
mungkin Medusa. mungkin Maria
atau Hannah?
tetapi tuhan telah
menarik bahasa
dari bibirnya

hanya seorang biasa
mengiris matanya
untuk sampai pada-Mu
angin membanting
jendela. hanya ada
Agatha. hanya ada
tabur garam
mendera tubuh kita

2025

Nisan Arkaik

pada punggung rumputan
gerimis mencatat kesepianku
seperti layang-layang pasrah
dipeluk curah hujan semalam

kusuntik serum kematianku
pada selang infus ruh
menangkap awan menghadap pagi beku
pada sembilan belas derajat kaki Semeru

selimut malam membentang
dari Tugu ke Malang
serta dingin mengkremasi daging
iri meremas dinding

seekor burung terusir
merenda sangkar dari api
lenting biola, senarnya kawat duri
mengalun permisi
melodi Idris Sardi|
mengairi rongga nadi

aku membaca buku kiri
dengan otak kiri
(semoga teguh bertanam di sini!)
di tanah yang menalak cita-cita
sebagai anomali kembara

serbet putih gantung di mimpi
mempertanyakan segala yang diterima
telur-telur kura terselip di pasir pantai
membilang selaksa deru cuaca

“hatiku terbuka pada suaramu,
seperti bunga-bunga
terbuka pada ciuman pagi,”

dan kecupan terakhir mendarat
tepat, sebelum kiamat
meledakkan bibir lalu tamat

para pelayat berlindung
membawahi payung jenazah;
air mata turun bagai jarum
menusuk jantung, tirai bedah

kukencangkan otakku
menyembah wajahmu,
kubasuh anjing kalbu
hingga jadi darahmu,

kusedot nafasmu
jadi ganggang
di atas ilalang
matahari purba
tiba di makam tua

2025

Seribu Teropong Tegak di Kepala

menahbiskan diri pada titian simbol
kugali nisan dalam dada
sementara malam hidup
gemuruh bersambar
menggiring roh jadi tetangga
dekat untuk raga

jagat di keningmu
jingga di atap gardu
tumpah. bentang layar
ke pulau dongeng
tak kunjung dinama

tanganku cacat
menyimpul tanganmu
tak sanggup menahan langit
yang kita junjung
agar tak runtuh perlahan
ke pematang sunyi
tempat segala tanggal
pecah sebagai ratna
serdadu di lintasan jauh
molekul dalam pembuluh
mengaliri liangku

seribu peluru bersarang di ulu
dan lipstik di buku itu
adalah cap bibirmu
mengering di halaman satu

aku meneliti dalam laboratorium diri
seribu teropong tegak di kepala
namun pandanganku gugur satu-satu
seperti bulan di maha angkasa
yang menyeret langkahnya sunyi
melawan megah alengka
pulang menyabung nyawa sendiri

layang-layang menjajah langit
mengukur luka dengan benang putus
melawan sastra darah biru
yang mengadili tunas baru

dan kini di hadapan semesta kucing
yang pandai merawat bulu
aku hanya sanggup menua
terbaring lugu melawan usia
tak lagi lincah seperti tunas muda
ketika senja masih percaya
pada tubuh yang teguh

2025

Penulis

  • Hamimie, tamatan Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UNUJA, Probolinggo. Menerjemah puisi dan esai Arab, melukis. Puisi-puisinya tersiar di Kompas, Harian Rakyat Sultra, Bangka Pos, Radar Banyuwangi, Sastra Berita Jatim, Ngewiyak dan media lain. Terpilih mengikuti Lokakarya Festival Sastra Kota Malang 2025 “Membaca Kota, Menulis Puisi”. Saat ini magang editor di MenulisID. Instagram @ham_im_i


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertorial

Teknisi Generator Set Handal di Indonesia

Ibna Asnawi Puisi

Kesedihan Nahela dan Puisi Lainnya Karya Ibna Asnawi

Agus Widiey Puisi

Puisi: Amsal Sunyi

Cerpen Mathan

Cerpen: Aku Tahu Kau Masih Ingin Hidup Lebih Lama Lagi

Apacapa

Mengenang Sumur, Menatap Luka yang Curam

Faris Al Faisal Puisi

Puisi: Merangkak Patuh

Berita

Seorang Musisi Melamun: Ide Semakin Mengalun

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Sastra Vs Game : Dinamika Peradaban

Ahmad Zaidi Cerpen

Balu dan Cerita-Cerita Aneh

Buku Syukron MS Ulas

Resensi: Novel Warisan

Ahmad Zaidi Cerpen

Kematian Bagi Kenangan

Alifa Faradis Cerpen

Cerpen: Pisau Takdir

Film/Series Hendri Krisdiyanto Ulas

Review Film: Si Bongkok

Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 3)

Diego Alpadani Puisi

Puisi: Pilihan Ganda

Apacapa

11 Rekomendasi dalam Kegiatan Temu Inklusi ke 5

Cerpen Uwan Urwan

Cerpen Seratus Perak

Cerpen Harishul Mu’minin

Cerpen: Ginjal Pembawa Kesedihan dan Penyesalan

Apacapa Hodo Nafisah Misgiarti Situbondo

Hodo dan Perjalanan Bunyi; Sebuah Catatan

Puisi

Klandestin dan Puisi Lainnya