Cerpen: Seorang Perempuan dan Tengkorak di Pelukannya

Sebaiknya, berapa lama sebuah pelukan harus bertahan?

Bertanyalah kepada perempuan di rumah tua itu. Di ujung jalan menuju kota kami.

Perempuan yang konon menghabiskan sisa hidupnya dalam pelukan seorang lelaki, kekasih yang ia temui di sebuah pesta kembang api. Tahun-tahun ia lalui dengan ciuman, selama bermusim-musim mereka bersama. Tak peduli di luar sana siang sedang terik, senja yang temaram, ataupun malam yang remang. Baginya, seperti juga kesedihan, cinta hanya bisa dibunuh dengan sebuah pelukan. Hingga purnama tumbang di matanya yang sendu.

Perempuan itu akan terus berpelukan, dengan cinta yang bisu, dengan gairah yang tak kunjung lelah. Tak ada percakapan, tak ada ungkapan sepasang kekasih, tak ada getir kegelisahan disebabkan pertengkaran. Dia, dan juga kekasihnya, barangkali telah sama-sama menemukan kebahagiaan di tiap detak jantung yang beradu. Mereka pun saling memutuskan untuk terus berpelukan.

Sayangnya, si lelaki lebih dulu mati, beberapa tahun kemudian. Jasadnya sudah berupa tulang, beberapa bagian raib entah kemana. Dengan posisi masih memeluk kekasihnya yang tinggal tengkorak itu, aneh, perempuan itu tak tampak menua sedikitpun. Justru kecantikannya semakin menjadi. Seakan waktu hanya mengitari setiap lekuk tubuhnya, tak bisa berbuat banyak. Seperti tak rela bila keindahan tersebut habis ditelannya. Seperti tak sanggup bila harus menyaksikan kulit yang serupa buih kapas itu mengerut seinci pun.

***

Cerita ini sudah lama beredar di kota kami. Siapapun hapal tanpa perlu mengingat-ingat lagi, begitu jelasnya seolah orang yang menceritakan pernah bertemu langsung, melihat dengan mata kepala sendiri, bercakap-cakap sebentar maupun lama dengan perempuan itu. Nyatanya, mereka semua hanya melanjutkan cerita yang pernah disampaikan seseorang. Entah siapa yang memulai pertama kali. Yang jelas, setiap kali melintasi rumah itu, orang-orang akan mengintip melalui lubang kecil pada dinding tembok. Dari sanalah, tampak seorang perempuan dan sebuah tengkorak yang dipeluknya.

“Bagaimana sebuah pelukan bisa menjelaskan apa yang belum diucapkan, sayang?” Tanya seorang perempuan kepada pasangannya, suatu senja di taman kesedihan.

“Entahlah.”

“Apa kau dengar apa yang orang-orang katakan?”

“Apa?”

“Di rumah tua itu, kabarnya ada seorang perempuan yang  menghabiskan sisa hidupnya dengan berpelukan.”

“Bukankah kita juga sering berpelukan?”

“Ini beda. Perempuan itu memeluk tengkorak. Tengkorak kekasihnya.”

“Ah. Romantis sekali. Apakah kau akan melakukan hal yang sama ketika aku mati nanti?”

“Jangan bodoh!”

***

Pada siang hari, rumah itu sebenarnya tampak biasa saja. Dari kejauhan samar-samar terlihat, letak perabotan di rumah itu masih tertata rapi, di ruang tamu, di dapur, di ruang makan hingga teras depan. Halamannya yang luas ditanami beberapa jenis tanaman hias. Hanya saja, lumut berwarna hijau kehitaman menjelma lukisan di dindingnya dan tanaman hias lebih pantas disebut tanaman liar. Namun kesan mistis akan terlihat pada malam hari, gerbangnya seringkali berderit berat bila digerakkan angin. Debu menebal pada setiap benda di rumah itu. Tak ada yang peduli. Serupa kenangan yang coba disembunyikan.

“Aku melihatnya kemarin. Astaga! Dia masih sama dengan beberapa tahun lalu. Waktu masih remaja.”

“Benarkah perempuan itu manusia? Jangan-jangan arwah gentayangan.”

“Ah, peduli setan! Manusia apa bukan, aku mau bila harus menggantikan tengkorak tengik di pelukannya.”

“Andai saja dia mau jadi istri keduaku.”

Begitulah, banyak lelaki hidung belang ingin mendatangi perempuan itu. Tak tahu karena rasa penasaran, sedang berahi, atau sekadar ikut-ikutan. Malam-malam, serempak mereka menyusup masuk ke dalam rumah tua di ujung jalan. Lalu keesokan harinya, saat pagi berselaput embun, gerombolan bedebah tidak pernah ditemukan. Ada yang beranggapan tubuh mereka diserap kekuatan mistis. Ada pula yang menganggap perempuan itu gila, sehingga memutilasi lelaki yang ingin memperkosanya. Tidak jelas bagaimana cerita sebenarnya.

Misteri, hal-hal yang belum pasti, terkadang menumbuhkan rasa penasaran manusia untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Meski tak jarang bahaya menunggu di depan sana. Rasa penasaran selalu menuntut ditunaikan. Sampai habis.

Hal itulah yang kurasakan.

Tanpa persiapan matang, tanpa mendatangi dukun adiluhung sekali pun, aku mendatangi perempuan itu. Lihatlah, kini aku berada di depan gerbang rumah yang karat itu. Mengendap-endap di semak ilalang. Untung saja tidak hujan, karena suara gemuruh disertai keretap hujan akan menambah kesan mistik. Bayangkan, malam-malam begini kau sendirian mendatangi gudang kematian.

Ketakutanku membantu ingatanku tentang cerita-cerita hantu, tentang film horror murahan belakangan ini. Seolah akulah pemeran utamanya. Seolah alunan musik tengah diputar, suara genderang sesekali ditabuh. Aku gemetar, nyaliku kian ciut. Setiap langkah yang kuambil adalah hitungan mundur ketakutan. Separuh dari diriku menyuruh untuk segera menjauh, separuhnya lagi menyuruh untuk terus.

Beberapa saat, kucari lubang yang biasa digunakan untuk mengintip. Tak kutemukan. Barangkali lapisan lumut menutupinya. Setelah agak lama mengitari rumah tua itu, aku memutuskan masuk. Mencari tempat perempuan itu memeluk kekasihnya.

Bulan seperti tenggelam dalam lautan kesedihan dengan sinarnya yang biru pucat. Siluet dari sebuah ranting pohon menusuk bulan itu tepat di tengah, di ulu kesendiriannya. Sementara gugus gemintang mengitari seperti kebahagiaan yang dipamer-pamerkan. Sinar bulan melewati kisi-kisi jendela, menjalari tubuh perempuan itu. Dari tempatku berdiri, dia tampak seperti Nude in Black Armchair masterpiece Pablo Picasso.

Aku akan menghampiri perempuan itu, akan kutanyakan bagaimana ia bisa mencintai seseorang hanya dengan sebuah pelukan. Apakah ia penyihir? Atau seseorang yang terkena kutukan?

Aku tidak peduli.Namun, apabila cerita ini berakhir di sini, jangan sekali-kali menemui perempuan itu.

Penulis

  • Ach. Zaidi

    Bapaknya Ayesha. Penulis buku kumpulan cerpen Mata Ingatan (2024)


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Fast Fashion sebagai Life Style Generasi Z

Apacapa Uwan Urwan Wisata Situbondo

Bukit Pecaron

Mored Puisi Silvana Farhani

Puisi Mored: Sabit Hingga Purnama

Apacapa

Bahasa Puasa dan Ramadan

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen – Hari Libur

Apacapa Imam Sofyan

Olean Bersholawat: Pengajian Ramah Disabilitas

Irham Fajar Alifi Puisi

Puisi-puisi Irham Fajar Alifi: Layu Kelopak Kamboja

Cerpen Robbyan Abel R

Cerpen : Kemari, Akan Kubacakan Puisi Karya Robbyan Abel R

Apacapa Esai Halimah Nur Fadhilah

Kemajuan Teknologi Dalam Dunia Pendidikan

Apacapa mohammad rozi

Tore Maca: Mengisi Situbondo dengan Literasi yang Menyenangkan

fulitik

Diserbu Peserta Jalan Santai Bareng Mas Rio, Bakso Agung Talkandang Raup Omzet Jutaan

Apacapa

Politik Menyegarkan Ala Mas Rio

Apacapa

Nabuh Immersive dan Keindahan Akustik

M Firdaus Rahmatullah Puisi

Hutan Baluran dan Puisi Lainnya

Hamidah Mored

Cerpen Mored: Impian Putra Taman Dadar

Apacapa

Sasaeng Culture: Sisi Gelap Dunia K-Pop

Puisi Madura

Puisi Madura: Bânnè Gârimisen Polè

Apacapa

Keselarasan Manusia dan Alam pada Masyarakat Jawa: Sebuah Tradisi dalam Pembangunan rumah

Buku Ulas

Sejarah, Tubuh, Dosa dan Diri dalam Merupa Tanah di Ujung Timur Jawa

Puisi

Klandestin dan Puisi Lainnya