Jika Awkarin dan Young Lex Terlahir di Situbondo

Barangkali tahun 2017 merupakan tahun emas bagi mereka yang memiliki akun instagram dengan banyak follower. Beberapa orang sukses menjadi selebritis dan memperoleh penghasilan dari mengiklankan beberapa produk di akun instagramnya. Bahkan beberapa selebgram ini juga merambah dunia tarik suara dan seni peran dengan gemilang. Dan saya tak perlu menampilkan figur yang sukses mondar-mandir di layar kaca maupun chanel youtube dengan riset dan data – data berupa statistik yang memusingkan. Sebut saja dua orang figur yang penuh kontroversi dan sensasi ketimbang prestasi, Awkarin dan Young Lex tentu saja. Bahkan beberapa public figure yang telah lama malang melintang di dunia showbiz tanah air kerap menghujat mereka, entah karena iri kehabisan job, atau karena memang kelakuan mereka yang pantas untuk dihujat. Wallahua’lam. Dalamnya laut bisa dikira dalamnya hati siapa yang tahu.
Saya pun penasaran sebenarnya seperti apa sosok dua figur yang mendadak melejit ini. Ditemani alunan Badass dari Awkarin dan Makan Bang dari Young Lex, pikiran liar saya mengelana jauh ke kampung halaman, saya membayangkan bagaimana jika dua public figure dengan jutaan haters ini terlahir di kampung halaman saya. Situbondo.
Kira-kira, berikut beberapa fakta yang akan terjadi ketika Awkarin dan Young Lex adalah warga kota santri.
Lagu Badass dari Awkarin akan di gantikan dengan lagu “Dhika Abini Duwe’”
Lagu Badass menceritakan tentang seorang wanita yang mencintai pria yang telah di miliki wanita lain, Awkarin menyanyikannya dengan beringas dan penuh emosi dalam video klip yang cukup memicu kontroversi, dia menunggang kuda dengan muka tertutup topeng dan outfit jaket kulit yang terbuka di bagian dada, seolah Awkarin ingin membiarkan dadanya merdeka dengan sempurna, dengan latar belakang padang rumput. Meskipun sedikit berbeda namun lagu Dhika Abini Duwe’[ dan Badass sama-sama mewakili kegelisahan seorang wanita tentang cinta yang terbagi dua. Awkarin menyanyikan  lirik “kaju loros bungkana duwe’, bule koros ka’, dhika abini duwe’“, dengan penuh air mata. Video klip akan berlatar belakang Pantai Pathek yang cukup ikonik untuk menjadi pilihan banyak video klip lagu-lagu berbahasa daerah dari Situbondo. Awkarin tersedu-sedu sambil mengendarai motor satria fu berknalpot brong dengan helm ink half face tipe telur warna kuning, outfit yang dikenakan adalah kaos bonek ketat berwarna hijau terang dan leging bermotif koran.
Young Lex akan menjadi ikon makanan khas Situbondo “tajhin palappa”
Tajhin palappa adalah makanan khas yang paling di rindukan setiap anak Situbondo yang merantau keluar kota. Bisa dibayangkan jika tajhin palappa dijadikan item makanan dalam video klip Young Lex yang bertajuk “Makan Bang”, tentu tajhin palappa akan menjadi viral dan lebih mendunia, dan anak-anak rantau akan lebih mudah mengobati kerinduan akan kampung halaman, karena tajhin palappa akan dijual secara sporadis di semua belahan dunia dengan sistem franchise selayaknya ayam goreng KFC.
Younglex ft. Awkarin. “Sanmisan ta’ nangale ka robena”
“San misan tak nangale ka robena” adalah lagu paling legendaris bagi warga Situbondo , hampir semua orang Situbondo pasti pernah mendengar lagu ini baik oleh penyanyinya langsung maupun di setiap hajatan pernikahan. Young Lex dan Awkarin akan me-remake  lagu ini dengan aransemen EDM yang lebih millenial dan dikemas dengan video klip yang menggambarkan kawula muda Situbondo masa kini, Young Lex mengendarai motor ninja melintasi jalan PB Sudirman tanpa helm, dengan kaos singlet hitam bertuliskan NDX AKA dan badan gahar yang penuh tatto, rambut pirang kaku, sambil menangis mengucurkan air mata dan sedikit ingus ikut bergelantungan syahdu di sela-sela kumis tipisnya. Sementara scene Awkarin tak kalah syahdunya dengan latar belakang air mancur alun-alun kota, Awkarin menyanyi tersedu-sedu dengan sebungkus tanglur di tangannya. Ah betapa syahdu dan menguras air mata.
Bayangkan betapa kota santri yang bersahaja ini akan lebih di kenal dunia, bukan hanya tentang banjir dan berita kriminalnya. Betapa netizen akan terkesima dan bertanya – tanya tentang Situbondo tanpa harus membangun taman penuh lampu dan warna, tanpa harus menegaskan hegemoni kota dengan memajang wajah bapak dan ibu penguasa di baliho besar jalanan kota, tanpa harus mengecat gedung pemerintahan dengan corak khas batik Situbondo yang penuh warna.
___
Oleh : Adhi, anak rantau.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Ardhi Ridwansyah

Bedah QLC Dalam Diri Seorang Pengangguran

Apacapa

Buku dan Perpisahan

Apacapa Nuriel Haramain

Hari Santri: Ajang Realisasi Jati Diri

Apacapa Nur Hasanah

Pemanfaatan Tanaman Lidah Buaya Sebagai Produk Kosmetik dan Obat Kesehatan Manusia

M Firdaus Rahmatullah Puisi

Hutan Baluran dan Puisi Lainnya

Ilham Wiji Pradana Puisi

Puisi-puisi Ilham Wiji Pradana: Rumah Pak RT

Ana Khasanah Buku Ulas

Ulas Buku: Mengabdi Adalah Seni Menjelajahi Diri

Apacapa

Film Pendek Lastarè: Sebuah Perjalanan Batin Korban Perundungan

Puisi Uwan Urwan

Sajak Orang Gila

Apacapa

Iduladha sebagai Perayaan Berbagi dan Menyelamatkan Sesama

Apacapa Fadhel Fikri

Gus Miftah dan Dakwah yang Merendahkan: Sebuah Kritik dari Perspektif Teologi Antroposentris

Apacapa

Jika Tidak Mampu Menjadi Pandai, Setidaknya Jangan Pandir

Azinuddin Ikram Hakim Cerpen

Cerpen: Pada Suatu Dermaga

Baiq Cynthia Cerpen

Cerpen – Ketika Tertidur Wajahmu Terlihat Menawan

Nurillah Achmad Puisi

Puisi : Levhicausta Karya Nurillah Achmad

Apacapa

Menata Ulang dan Merangkai Kata sebagai Langkah Kecil Penggerak Dunia Literasi di Nagari Amping Parak, Pesisir Selatan

Agus Hiplunudin Apacapa Feminis

Environmentalisme dan Eksistensi Kaum Feminis

Nila Afila Puisi

Puisi: Ibu Tani dan Puisi Lainnya

Apacapa fulitik Rasyuhdi

GOR BK Itu Narsisme Politik Saja Sih

Ayu Wulandari Buku Resensi Ulas

Resensi: Jungkir Balik Pers