Sudamala dan Puisi Lainnya

Sudamala

Setelah pepak sari dosa-dosa
sesap pada iras jernihmu, Uma
setelah tapakmu penuh luka dan jelaga
hitam tandas di kujur tubuhmu

Maka, telah tiba padamu setra
kutukan Durga, kuburan subal
sarang jin dedemit pelepas derit
sumur tua tempat mambang berkobar
rimba sulur akar mimang penebar bimbang
alas werit dan glundhung pringis
nanap menangis di tepian parit

Juga, hilang paras landas pada dadamu
tergores nujum dan syak wasangka
Batara Kala menyusupi arah angin
menyesatkan remang pendar kabut
menutup parak jejak pulang matahari
pada rumput-rumput

Sebelum kalut mala di taman bunga kenanga
hilang sauh bandar surga dan neraka
Uma, udara busuk di mayapada
adalah pertanda buruk dari nujum cuaca

Maka, ruwatlah jisim batinmu
ucapkan salam pada teduh paras itu
lelaki yang meretas langit
menadah pitedah gatra batara
: Sudamala, bungsu dari silsilah warna purnama

(2025)

Gitarja

Sadeng dan Keta melepas hantu
bangkit dari paras kuburan tua di masa lalu.

Gigir bangsal menyigi ringkik kuda
; isyarat tentang nujum dan tenung
menguar bersama parau kicau gelepar burung-burung.

Maka perempuan itu memilih pelana
dan beranjak dari arah sepi tanda tanya.

Paras surai perempuan itu diikat dengan bara api menyala
menerangi garis tepi deras tilas rahim sunyi warna suralaya.

Di teras lengkung sisi timur,
kilat pedang larut dalam gelas
disuguhkan kepada para lenggah menjelang petang.

Perempuan itu kelak akan pulang
dengan punggung berlubang,
dan wangi pandan yang lepas dari kibas ujung kain selendang.

Tunjuk jemarinya terurai menyebar percik warna baru
— menuju segala penjuru
seperti bayi-bayi ikan pada malam-malam kelahiran.

Barangkali perempuan itu adalah rahim umpama
asal mula ledakan alam semesta.

(2026)


Di Pusung Gedhe

Pusung Gedhe yang renta
ringkik kuda bertarung dengan jejak roda
debu tipis mengikis tipis kelopak mata
para pendatang dari tepi garis batas cuaca

Di lembaran warna abu
halaman terakhir itu pernah berdusta
sebagai laut beku yang batal melahirkan
anak-anak ikan dari tempurung
pada sebuah gigiran malam

Pusung Gedhe yang murung
seorang penundan menuntun jalan pulang
di sepanjang halimun
lenguh peluh jatuh menjadi ketuk palu
— jumlah angka yang telah ditempuh
atau hilang sebelum petang

Musim tenang kehabisan arah
gisik bisik lirih itu adalah pelukan isyarat pitarah
tentang hari lalu
tentang pijar batu
yang setia menjaga waktu

(2026)


Melawat Mordor

Siapakah yang pernah mati di dekap sunyi lereng batu
— di antara Ered Lithui dan Ephel Duath?
sebab gunung itu masih mendidihkan gemuruh api
redundan dendam tak bertepi

Pada ekor humilis dan magis gerimis
karat kilat pedang telah lindap
ke dalam tanah lapang yang lengang

Sementara di Gorgoroth bulan menyela
gurun pucat gemetar mendengar rahasia
seperti sebuah akrasia
oleh sisa legiun yang disusun
dari abu, kayu, dan pekat jiwa manusia

Siapakah yang menggurit tangis
pohon-pohon di hutan Fangorn?

Tiada sisa nyanyian setelah perang
kecuali oksimoron dalam Bahasa
— Orc, Elf, dan Dwarf memahat epitaph
dari parade pemakaman yang tak sempat dikabarkan

Lalu, adakah yang kelak melingkar di jari telunjukmu
selain resonan dari asal mula kesepian
— sebab Mordor masih menunggu
dan puing pintu Minas Irith adalah ductus
bagi rasa sakit dan kehilangan masa lalu

(2025)

Penulis

  • Ardiansah Putra Perdana, penulis yang merupakan seorang pengajar Bahasa Indonesia, pembina kelompok literasi Komunitas Selasan, sedang berusaha menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Malang. Beberapa karyanya dimuat di berbagai media dan antologi bersama.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen; Clarissa

Apacapa Nur Husna

Bullying Bukan Budaya Kita

Apacapa Thaifur Rahman Al-Mujahidi

Regiulisitas-fundamental dari Kaum Milenial untuk Indonesia

Cerpen

Cerpen: Harimau dan Gadis Kecil

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Ulas Buku – Menceritakan tentang Hubungan Manusia dengan Jasad di Kubur

Apacapa

Sekolah dan Makna Sejati Pendidikan

Anwarfi Citta Mandala Puisi

Puisi-puisi Citta Mandala

Apacapa

Merayakan Literasi

Buku Indra Nasution Ulas

Ulas Buku – Jurnalisme dan Politik di Indonesia, Biografi Mochtar Lubis

Puisi Saiful Arif Solichin

Puisi: Jalan Pulang

Apacapa

Mengenang Sumur, Menatap Luka yang Curam

Buku Fara Firzafalupi Ma’rufah Resensi Ulas

Resensi: Ikhlaskan Lepaskan Perjuangkan

fulitik Marlutfi Yoandinas masrio

Buka Bersama Seniman: Mas Rio Didoakan Menjadi Bupati Situbondo

Apacapa fulitik

Tenang! Ini Solusi Mas Rio Buat Teman-teman Honorer Situbondo yang Dirumahkan

Apacapa

Nabuh Immersive dan Keindahan Akustik

Puisi Zen Kr

Puisi : Moksa dan Puisi Lainnya Karya Zen Kr

Buku Putri Setyowati Resensi Ulas

Resensi: Memulai Kembali Hidup

Puisi

Bayangan Hari Kemarin dan Puisi Lainnya Karya Izza Hikmah

alif diska Mored Moret

Puisi Mored: Sepotong Puisi untuk Bunda dan Puisi Lainnya

Apacapa apokpak N. Fata

Ketika Elit Oligarki Berkuasa, Kemerdekaan Bukan Lagi Milik Kita