Musnahlah dan Puisi Lainnya

Pemimpinku

Sehelai daun
yang mudah goyah
oleh angin barat Eropa
dan angin timur Cina.

Kami rakyatnya,
terombang-ambing karenanya.

Purbalingga, 2026

Al-Karim

aku berjalan menyusuri kota
aku menyaksikan tukang becak bermandikan peluh
aku melihat pedagang kaki lima berkarib dengan matahari, hujan dan malam
aku menyaksikan penjual sayur membangunkan bumi dari tidurnya
aku melihat satpam-satpam meninabobokan bumi dan malam
aku melihat penjual jamu keliling mengasah pikirannya dengan menghafal jalan-jalan tikus
aku menyaksiakan Al-Karim pada tangan-tangan pekerja keras yang tak henti berjalan
ia tikam semua keluhan hidup
kesampingkan semua ego
demi meraih Al-Karim-Mu.

Purbalingga, 2026

Ar-Rahman

Jalanan rela diinjak agar kehidupan berlangsung
Tirai bumi dibuka, manusia mencari penghidupan
Ayam menumbalkan nyawa, memenuhi protein manusia
Tubuh pisang ditebang, buah pisang dimakan
Kayu membakar tubuhnya. Ayam dan sayur pun masak
Hujan terjun dari langit untuk meruwat kehidupan

Aku buka  mata telingaku,
mata hidungku,
mata mulutku,
mata hatiku.
Maka, aku menyaksikan Ar-Rahman-Mu
bertebaran di mana-mana.

Purbalingga, 2026

Musnahlah

saat engkau lebur
dalam api wujud-Nya,
maka dirimu musnah semusnahnya
yang ada hanyala Ia.

Purbalingga, 2026

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Diego Alpadani Puisi

Puisi: Rabu Malam

Apacapa Rahman Kamal

Menghidupkan Kembali Semangat Ki Hadjar Dewantara

Ahmad Radhitya Alam Cerpen

Ritual Kopi dan Mua’llaqat dan Microsoft Word dan Kiai Agus dan Menyendiri

Agus Hiplunudin Buku Feminis Ulas

Ulas Buku – Politik Gender karya Agus Hiplunudin

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Identitas Dangdut, Identitas Situbondo

Cerpen Sukartono

Cerpen Gelisah

populi Puisi rejeng

Puisi: Sekeping Sunyi

Uncategorized

Puisi Mored: Lembung Kejora

Apacapa Feni Fenawati

Fenomena Selebritis yang Terjun ke Dunia Politik: Antara Popularitas dan Kompetensi

Apacapa Uwan Urwan Wisata Situbondo

Bukit Pecaron

Buku Ulas

TUHAN Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya: Tertawa Sembari

Heru Mulyanto Mored

Bocah dari Palung Merah

Apacapa Imam Sofyan

Melihat Masa Depan Situbondo dari Lomba Flashmob Panarukan

Fahris A. W. Puisi

Puisi : Kisah Angsa Jantan Karya Fahris A.W.

Apacapa Nabila Septilani

Krisis Pelanggaran HAM Terhadap Anak di Lingkungan Pendidikan

Dhafir Abdullah Puisi Syi’ir

Ikhlas Ngajhâr

Cerpen

Cerpen : Hari yang Baik untuk Menikah

Cerpen

Rumah Dalam Mata

Apacapa Baiq Cynthia

Angin yang Berembus Rumor Mantan di Bulan Agustus

Puisi Toni Kahar

Puisi : Aku Mengecup Hujan Karya Toni Kahar