Kategori: Puisi

  • Seorang Santri dan Puisi Lainnya

    Seorang Santri dan Puisi Lainnya

    Serupa Musa Aku mendaki bukit hakikatBerangkat pagi membawa secangkir airdari mata air kesunyian jiwayang muaranya berasal dari lautan sukmaMendaki sendirianKarena sejatinya kita memang tak pernah ingin menduaKiri-kanan adalah kehampaanTempat singgah yang hanya bayang-bayangAku singgah namun aku merasa memilikiSerupa MusaKita sedang berjalan ke sebuah kesejatianKita muak dengan kecongkakanKepemilikan dan segala hal yang melipur kita dari-Nya. Purbalingga,…

    selengkapnya…

  • Remuk Redam dan Puisi Lainnya

    Remuk Redam dan Puisi Lainnya

    Pulang dan Menjauh tunggulah bila tiba masanyabertemu dalam sebuah rumahberbincang tentang jarak dan waktumengulang kembali semua ingatanmenangisi ataukah menertawakansebelum semua lupa menjadi sunyi aku pulangsetelah sekian lama bertengkardengan keadaan hati dan situasibiar saja semua menjadi pengingatbiar saja semua menjadi pelupa bila suatu saat tibalangkah tak dapat ditegahkembali mengulang jarakmendekatkan waktu menjauhpergi dan kembali hanyalahsebagai penawar…

    selengkapnya…

  • Klandestin dan Puisi Lainnya

    Klandestin dan Puisi Lainnya

    Barangkali Rindu Tak Bisa Kusemai Rindu adalah hujan yang menjatuhkan ujungnya paling tajam; menusuk kitaKau pernah taburkan benih agar tumbuh jadi payung, jadi pelindungTapi hujan lebih dari amuk dan gelegar guruhKita terhempas, dengan lengan-lengan yang tak lagi bertautan 2025 Klandestin Wahai sang penyendiriAku ingin kembali dengan percakapan-percakapan dahuluku Dunia yang kuciptakanIalah setumpak parunanYang melintang dan…

    selengkapnya…

  • Tanahku Bersaksi dan Puisi Lainnya

    Tanahku Bersaksi dan Puisi Lainnya

    Layar Tancep menatap layar yang buramserasa pikiranku nyenyakdalam mengklik tombol lanjuttak terasa ruang penuh khayalan berhamburan berita deritatanah Pusaka terlunta-luntamencari jalan sepi menguatkan jati diri Negerikita masih waras, etika menjadi tameng pemuda menyuarakan keadilanatas dasar kebebasan demokrasikita punya mimpimembuka gerbang kemerdekaan bangsa Purwakarta, 8 September 2025 Berkunjung ke Gedung menjemput rindu yang terpenjaradari keangkuhan penguasalemparan…

    selengkapnya…

  • Bahasa Perempuan dan Puisi Lainnya

    Bahasa Perempuan dan Puisi Lainnya

    / IBU ADALAH WAKTU/ keriput di wajahnya  menyimpan garis sungai    tempat usia bermuara tangan renta   serupa jam pasirmenyisakan butir kehidupan     yang perlahan gugur matanya  tetap terangmenyulut fajar     di tengah rapuh senyumnya. (2025) __ SEORANG ISTRI DI IBUKOTA lampu di beranda menyalamenyulut gelisah serupa lilinmenunggu langkah tak kunjung pulangangin malam menyibak tiraiada doa tak terucapberlayar tanpa alamatia menambal rusaknya waktudengan sabar yang…

    selengkapnya…

  • Luka Perempuan dan Puisi Lainnya

    Luka Perempuan dan Puisi Lainnya

    Kesalahan yang Menghantui Di penghujung hari aku mulai tak karuanGelap dan dingin malam membuatku ketakutan.Bayang kesalahan tempo hari terus menghantui tanpa jeda, tak hendak memberi ruang agar hati tenang.Nadiku terus berdenyut tapi jiwa enggan hidup, di pelupuk mata embun masih tersisa. Suara Hati Hati bertanya, apakah terus seperti ini? Ia terlalu lelah sekedar berucap “Aku…

    selengkapnya…

  • Kemerdekaan Sebatas Kalender dan Puisi Lainnya

    Kemerdekaan Sebatas Kalender dan Puisi Lainnya

    KEMERDEKAAN SEBATAS KALENDER Delapan puluh tahun negeri ini merdeka.Di jalan-jalan, bendera merah putihberkibar seperti jemuran baru dicuci.Di dada, entah kenapawarna itu sering tak terlihat. Orang bertanyaapakah merdeka itu hanya upacara,menyanyikan lagu dengan suara parau,dan lomba makan kerupuk yang tak pernah kenyang? Kami merdeka, katanya,tapi berita sore selalu membawa kabartentang orang-orang yang pandai mencuridari piring bangsa…

    selengkapnya…

  • Puisi: Sukma dan Puisi Lainnya

    Puisi: Sukma dan Puisi Lainnya

    Memori Kepada rasa sakit dalam memoriIzinkan kembali menelaah tatapanmuPada waktu yang jelas-jelas berlaluKepada sesunging senyumYang telah mengungkap kebenaranIa sebatas insulin yang diadu bersama sketsa dramaKelembutanmu sempat mengajarkan kepelikanNamun jika kupahami kembaliSemuanya adalah hidup dan sensiYang bisa saja menyita asa dan mimpi Sukma Sukma-sukma seperti rumus kimiaYang mendiami diafragmaSudah tiadaPadahal ini dikata biasaNamun, mengapa tak bisa…

    selengkapnya…

  • Leppet Madhura dan Puisi lainnya

    Leppet Madhura dan Puisi lainnya

    Falsafah Carok di Tangan Madura Madura masih menyimpan misteri ilahiSampai tanah dan darah yang merahTak merelakan harus terjadi di tanah ini Musim kemarau di bulan lalu mengabarkanPada hujan tentang celurit yang terkaparMadura, selalu tetap siaga, selalu tergesa-gesa Di sudut layar ini, mereka tak tahu arahSuara dari langit mengajak nada meragukanPadahal semua perjalanan telah dilaluinya Langkah…

    selengkapnya…

  • Puisi Maryatul Kuptiah: Di Sudut Kota

    Puisi Maryatul Kuptiah: Di Sudut Kota

    CERUK PERKOTAAN BERCERITA di kolong jembatan anak-anak bertingkah ria dengan tapi bekas diikat samping kanan roda mobil bekas miliknya, tak lupa dengan kaleng susu kosong—katanya itu kapal tenker dunia tak pernah tawar-menawar soal persinggahan “mau jadi apa dewasa nanti?” tanya satu ke yang lainnya “jadi pelangi” muncul setelah hujan sesaat gelak tawa memecah deru suara…

    selengkapnya…