Kategori: Puisi

  • Puisi: Pulang Kerja

      Puisi-puisi Zikri Amanda Hidayat   Pulang Kerja   Di ambang pintu, aku menggugurkan daun-daun letih Merapikan pilu di permukaan kusut baju dan hati Di balik pintu, aku menugasi ekor mata mendikte cahaya Seraya suara panggilanku membangunkan jam sepi   Ibu dengan segala mantra bahan masakannya Menyulap dapur itu menjadi laboratorium sihir Mengubah cinta menjadi…

    selengkapnya…

  • Puisi: Aku Ingin Pergi ke Suatu Tempat yang Tanpa Sendu

      Puisi-puisi Mohammad Ghofir Nirwana Sayur Kelentang Ibu   Sayur kelentang bergeming di atas meja Kuahnya hening, menyaksikan wajah-wajah yang entah   “Ayo dimakan, sayur ini demi masa depanmu, Bumbunya tercipta dari harapan-harapan” Ibu tersenyum begitu sempurna Hingga mencipta mantra-mantra ;   Sayur kelentang berpusar Begitu dahsyatnya Berusaha menyedotku Masuk ke dalam mangkuk Untuk bergumal dengan…

    selengkapnya…

  • Puisi: Bunga Malam

      Puisi-puisi Nanda Adi Kurniawan Kata rindu   mengingat–ingat senyum yang kau lontarkan saat waktu pertama kita di pertemukan sekarang hanya kata rindu yang terucap di antara sunyi dalam kehampaan   tak tahu dengan apa lagi mengungkapkan aku harap suatu saat  ada pertemuan untuk melepas rindu yang memuncak bukan hanya sebuah kata yang terangkai menjadi…

    selengkapnya…

  • Puisi: Mari Menikah

      Puisi-puisi Devi Ambar Wati   Menikah Hari Ini   Langkah kaki itu, tak lagi berjalan sendiri. Mereka, bergerak saling beriringan. Menyelaraskan, yang tinggi pun rendahnya. Maka, mari saling melaju bersama. Setara. Setujuan. ‘tuk singgah, di tempat-tempat indah bersama. Tanpa ada cerita penuh derita. Tanpa ada hati yang terluka.   Mari, menikah dengan penuh suka…

    selengkapnya…

  • Puisi: Mata Air Kehidupan

      Puisi-puisi Nurillah Achmad Mata Air Kehidupan I Puan Guru: Nyai Nazlah Hidayati Idris   Ada satu hari dalam hidupku, Guru. Aku berteduh di bawah rumah tanpa dinding.  Demikian kencang angin menerjang sampai-sampai buluh petung yang terpasang melintang di atas kasau terlepas dari ikatan ; serupa perasaanku yang kacau   Dalam telanjang aku tinggalkan rumah…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Mustain Romli: Pesona Kota dan Sepasang Mata

      Puisi-puisi Mustain Romli   Pesona Kota dan Sepasang Mata   Lihatlah, kota yang lelap-gemerlap rindu ditelan malam pelukan hangat hilang   apakah kau pernah mendengar tentang pesona keindahan sebuah kota terpencil di ujung sana   konon, di kota itu pencahayaan bersumber dari sepasang mata yang terjaga dari kesunyian dan kesedihan   dan sepasang mata…

    selengkapnya…

  • Puisi-Puisi F. A Lillah: Narasi Hujan

      Puisi-Puisi F. A Lillah Narasi Hujan   Hujan yang turun di kotamu kala sore Adalah rupa bahasa prosa Tanpa petir.   Sebaiknya jangan rebahan dulu Pergilah ke muka jendela Aku ada di sana Sebagai bunyi hujan Yang sering diabaikan.   Kontrakan IAA 2024       Morfologi Cinta   Harum daun jeruk purut di…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

    Puisi-puisi Faris Al Faisal: Merah Putih

    MENCINTAI BAHASA                  Aku mencintai bahasa, yang mengantarku memeluk kata, dan isyarat pada jiwa Aku pun berjalan ke sebuah lambangMendengarkan bunyiSeperti hujan turun ke lembah, ke sungai yang beningBercakap-cakap dengan mesraBatu-batu dan ikansegala peristiwaMeliput nyanyian para pejuang Hal yang mesti hidupLahir dan tumbuh remajaHarum gemersik, sebatang pohon berbuah budi   Indramayu, 2020 BUNGA BANGSA               Manisnya perjuanganDiisap mulut lebah, dari…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi Irham Fajar Alifi: Layu Kelopak Kamboja

     Menggenggam Hari Sakral   Bisa jadi, yang datang padamu Bukan hanya penyesalan Melainkan resah akan masa depan Legi, pahing, pon, kliwon kau tunggu; kau hitung   Sementara tak pernah kau pinang kebahagiaan Kecuali sepihak langkah ibu bapakmu Kini kau hanya mampu membiarkan tubuhmu dibanjur Diwarnai warna-warni kembang setaman. Padahal yang akan kau genggam bukan sekadar…

    selengkapnya…

  • Puisi-puisi S. Mandah Syakiroh: Mata

      Selimut Ibu   di tengah ribut angin juga sepanjang gang depan rumah yang becek ibu begitu khusyuk menjahit selimut baru yang bolong-bolong   pada setiap benang dan jarum yang saling melintang ibu kaitkan serupa doa yang menyembur dari sumur dalam tubuhnya    “semoga tak ada satu angin pun yang menusuk lalu memadamkan mimpimu. semoga…

    selengkapnya…