Kategori: Cerpen
-
Cerpen : Pesan Misterius dan Solidaritas untuk Lombok Versi Pengarang Amatir
Oleh: Haryo Pamungkas Bagaimana menurutmu jika Tuhan mengijinkan manusia tahu kapan ia harus mati? Apa semua akan baik-baik saja? Saya masih menatap heran layar handphone dan membaca ulang pesan itu. Saya bingung, akan saya jawab bagaimana? Adalah teman saya yang selalu melontarkan pertanyaan macam-macam. Pertanyaannya sering membuat saya bingung, ia terlalu terobsesi dengan takdir manusia.
-
Cerpen : Ketika Tubuh Bicara
Oleh: Ahmad Sufiatur R. Bom itu meledak menghancurkan tubuh pelaku bom bunuh diri. Membunuh dan melukai puluhan korban lain di sekitarnya. Tubuh pelaku berceceran bersama potongan tubuh lain. Polisi bersama ahli forensik mengumpulkan potongan tubuh di TKP dalam satu tas plastik. Tidak ada yang menyadari bahwa potongan-potongan tubuh itu masih dapat bicara. “Hei, di mana
-
Cerpen : Mimpi Rufus Karya Seto Permada
Rufus—si saudagar kaya Desa Mogal—duduk mematung di atas kasur busa. Pandangan matanya terpaku pada seekor cecak buntung di dinding polos yang kaki-kakinya lengket seperti terjebak permen karet. Butir keringat sebesar jagung menggeluyur dari dahi ke pangkal hidung, dari ujung hidung masuk ke bibir. Ia mencecap-cecap dan menelan dengan satu tegukan. Asin! Setelah kesadarannya pulih 100%,
-
Cerpen : Lidah
Oleh: Alif Febriyantoro Suara rel riuh. Subuh hampir dekat dengan matahari. Dan kota terbangun, bersama sisa hujan semalam. Seorang wanita mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan, lalu meninggalkan Pasar Kembang dengan membawa beberapa lembar uang di tangan. Tapi siapa ia kenali? Lampu kota? Harum embun pada peron? Atau sepasang anak yang menanti kepulangannya, di sebuah desa
-
Cerpen : Cerita untuk Kekasihku Karya Haryo Pamungkas
Cerpen Haryo .P Sebenarnya aku mulai melakukan ini selang beberapa hari selepas kepergianmu. Aku ingat saat itu, aku sering membuat cerita dan beberapa puisi untukmu. Dan setelah itu aku selalu membacakan semuanya di hadapanmu. Saat itu kamu pasti tersenyum tersipu. Wajahmu memerah seperti senja yang sendu itu. Namun sejak kepergianmu, aku memutuskan untuk tetap membacakan
-
Cerpen : Lapas dan Malam
Cerpen Ruly R Malam itu, Bashe duduk bersila di trotoar timur alun-alun kota. Matanya menatap para pengunjung yang lalu lalang. Bashe masih terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia masih ingin menghabiskan lebih lama sisa hidupnya di tempat yang selama ini dianggap rumahnya dan ingin sibuk menikmati segala kisah dengan kawannya di tempat yang dia tinggalkan
-
Cerpen : Bibit Dosa Karya Ken Hanggara
Oleh Ken Hanggara Pagi itu Bapak meninggal di kasur. Ketika pelayat berdatangan, aku pergi. Dan ketika aku pergi, orang-orang tidak menahanku. Mulanya aku merasa ada yang tidak beres. Sebulan terakhir Bapak pulang pagi, dan kalau ditanya dari mana, dia tidak menjawab. Lain kesempatan, kubanting piring di depannya. Bapak merespon dengan marah. Aku sadar, kalau melawan,
-
Cerpen : Kota dan Hujan di Pagi Hari Karya Haryo Pamungkas
blog.imrul.net Nazahra, di tepi dermaga yang kebetulan kosong ini, pada sebuah senja yang juga kebetulan sendu, aku mulai berandai tentang banyak hal. Tentang bagaimana puisi dan hujan bisa saling berhubungan, tentang sajak dan rindu yang sebetulnya saling berkaitan, juga tentang dirimu. Aku mulai berandai jika seandainya aku bisa ceritakan pengalaman beberapa waktu yang lalu. Saat
-
Cerpen : Belajar Dari Orang-Orang Idiot
Oleh : Nasrul M. Rizal Aku memutuskan berhenti mengerjakan skripsi. Keputusan ini kuambil bukan tanpa alasan. Satu tahun sudah aku mengerjakannya, dan selama itu tidak ada kejelasan. Entah karena aku yang bodoh atau dosen pembimbing yang terlalu pintar. Setiap kali aku menyerahkan draft skripsi selalu saja dicorat-coret. Bayangkan saja, bab 1 direvisi hingga enam kali.
-
Cerpen Elia
wide-wallpapers.net Elia Oleh : Imam Sufyan “Aku lebih mencintai mamamu di banding dirimu.” Wanita didepannya bungkam. Tak ada suara yang bisa diucapkan saat lelaki di depannya mengucapkan kata-kata yang sungguh diluar dugaannya selama ini. Ia pun menjadi bingung antara mengikhlaskan pacarnya atau membenci ibunya yang telah merebut pujaan hatinya. “Percayalah, rasa itu baru saja tumbuh.