Kategori: Cerpen
-
Rumah Dalam Mata
Oleh : Yudik Wergianto Ada rumah dalam mata Maliya, gadis yang kutemui dalam bus saat perjalanan menuju Surabaya. Aku melihatnya ketika kami berdua tanpa sengaja saling bersitatap. Mataku pun langsung bertemu pada kedua matanya yang agak besar dan tajam. Saat itulah aku bisa melihat sebuah rumah dalam pupil matanya yang agak kecoklatan. Tentu saja diriku
-
Rindi Rindu
Oleh : Irwant Aku selipkan surat rinduku dalam saku kiri jaket favoritmu. Sengaja aku tak beri tahu kamu karena aku memang tak ingin surat ini langsung kamu baca di hadapanku. Karena aku tak ingin melihat mata indahmu itu berlinang air mata. Sebab aku ingin menikmati malam ini bersamamu. Lampu taman begitu indah setelah direnovasi beberapa
-
Cerita dari Taman Kota dan Surat Kabar Misterius
Oleh : Zyadah* Gadis kecil berpipi gembil, bergigi hitam—rumah bagi ulat-ulat cokelat dan permen, rambut cokelat ikal dengan kucir kuda dan poni yang bergerak-gerak ditiup angin, dengan tangan kanan memegang erat tali balon karbida, sementara tangan kirinya dicengkeram oleh ibu, meronta berusaha melepas pegangan ibunya. Gadis itu ingin berlari-lari bebas di sepanjang jalan setapak di
-
Cerita Rakyat Asembagus
Oleh : Iffah Nailul Arum cepat-cepat melepaskan sandal jepitnya yang usang. Melipat celana panjangnya. Lalu, merendam kakinya buru-buru. Ia duduk di bibir sungai. Merendam kaki mungilnya di sungai kecil itu. Cara ini memang selalu ampuh melepas duka Arum. Dalam tatapan kosongnya, Arum terisak sedih kehilangan sahabat ‘tua’nya telah dibabat habis oleh orang-orang kekar yang membawa
-
Bocah itu Bernama Laut
Oleh : Achmad Zaidi Aku melihat seorang anak kecil berdiri di Pantai Tangsi ketika cahaya kemerahan merias langit bagian barat. Bocahitu membiarkan tungkai kakinya tenggelam separuh dimainkan permukaan air laut. Sebentar-sebentar menyentuh bagian lutut, sebentar-sebentar hanya menyentuh bagian betisnya. Bocah kecil itu tak bergeming. Apa yang dilakukan bocah itu sendirian di tempat macam ini? Kulit
-
Cerpen : Bicara Karya Uwan Urwan
Oleh : Uwan Urwan Sekarang sudah pukul 11:32 pm. Tahu apa artinya ini? Tengah malam? Iya benar—hampir. Ini sudah hampir tengah malam dan aku sedang muak mendengarkan radio yang pembawa acaranya terlalu banyak bicara. Laki-laki. Dia laki-laki dan aku pernah bertemu dengan orangnya dua kali. Aku mendengarkan siaran yang dinamakan ‘curhat galau’. Nama yang menjijikkan.
-
Randu Agung
Oleh : Ahmad Zaidi Pohon itu tumbuh di atas gundukan sepi. Akarnya mencengkeram setiap kenangan yang mengalir deras di dekatnya. Rantingnya menusuk langit, menghalau tetes-tetes air mata. Daunnya tak rimbun, tapi cukup untuk sesekali menggugurkan kesedihan. Kulitnya keras berlapis ketegaran. Seratnya begitu rapat memilin rindu, rindu yang teramat karena sekian lamanya ia hidup sendiri. Dan