Kategori: Cerpen
-
Cerpen: Aku Tahu Kau Masih Ingin Hidup Lebih Lama Lagi
Kau terjaga dengan kepala pengar dan depresi menyuruh kau gantung diri di halaman belakang rumah. Hujan turun sejak subuh. Udara dingin. Suasana muram semacam ini, konon banyak berpengaruh terhadap kondisi emosi seseorang. Kau jadi bertanya-tanya apakah penguin, beruang kutub dan hewan musim dingin lain punya sifat sedih yang abadi? Sewaktu kecil kau ingin membeli
-
Surat tentang Salju Abadi
Hari ini tertanggal 9 Juni 2050, sinar matahari telah menyelinap masuk melalui jendela kamar hingga menyentuh wajah. Suara alarm tak henti-hentinya berdering menunjukkan pukul 9 pagi. Laki-laki itu terbangun dari tidur dan mimpi yang telah dilewatinya sepanjang malam. Drenggg… dreengg… drengggg…. Dengan setengah sadar ia menggosok-gosok mata lalu mematikan suara alarm di sampingnya. Laki-laki itu
-
Cerpen: Bagaimana Cara Kita Berkenalan?
Ilustrasi by Kamila Ah, siapalah yang tidak mengenal Dinda? Perempuan cantik yang setiap sore selalu mengelilingi taman kota dengan berlari. Dia dikenal murah senyum, ramah dan pendiam. Di taman kota, tidak hanya dia, banyak juga orang-orang yang sama sepertinya: berlari. Ada yang berpasang-pasangan, bersama teman, keluarga, hewan peliharaan, jarang sekali ada yang berlari seorang diri:
-

Cerpen: Pagi Sepi
Pada akhirnya, kamu hanya bisa menyambut pagi dengan getir. Dengan gemuruh yang tak terbendung. Pagi tanpa sebuah pelukan hangat, atau kecupan lembut dari sepotong bibir perempuan. Pagi yang teramat sesak. Teramat pilu. Teramat pahit. Pagi yang terisi penuh dengan kenangan. Kamu beranjak dari kasur menuju dapur. Menjerang air hingga mendidih. Menyeduh kopi dalam dua buah
-
Cerpen: Janda
1 Pada sebuah dini hari yang kelam di malam Jumat, seorang perempuan menangis tersedan, sebab ketika ia terbangun hendak membuang hajat, dan karena takut berjalan sendirian, lalu ia mengguncang-guncang tubuh suaminya hendak minta diantar. Namun, yang dibangunkan tak bangun-bangun, dan ternyata suaminya itu telah tak bernapas, nyawanya telah pergi meninggalkan badannya, dan perempuan itu menjadi
-
Cerpen: Kirana dan Ibunya
Ember berwarna merah muda itu sampai pecah menjadi dua karena dipakai memukul anaknya. Anaknya sudah tidak kuat bahkan untuk sekadar menangis. Anak itu terduduk di samping mesin cuci, bersandar pada tembok. Tadi, ketika baru saja dipukuli, ia masih bisa berteriak dan menangis, “Tolong Kirana, Ya Allah. Ya Allah, tolong Kirana. Kirana minta tolong, Ya Allah.”
-
Cerpen: Di Bawah Langit Biru
Ketika aku membuka mata, yang pertama kali kulakukan adalah mengernyit dan menutupnya kembali, lalu membukanya lagi perlahan-lahan. Matahari bersinar begitu terik. Awan putih di langit yang biru cerah bergerak pelan. Aku merasakan sesuatu menggelitik kulit lenganku, kakiku, dan punggungku; terasa sejuk. Benakku bertanya-tanya, di manakah aku? Aku ingin bangkit dan melihat sekelilingku, tapi tubuhku entah
-
Cerpen: Nyonya Angel
Angel duduk sendiri di teras memandang anak-anak anjing itu menyusu pada Anggit, anjing besar miliknya. Uap hangat mengepul di atas cangkir teh—hilang ditiup angin bersama harum daun teh pilihan. Seorang pengantar koran melemparkan koran bergulung dari balik pagar sambil memanggil, “Selamat pagi, Nyonya Angel.” Ujung bibir Angel terangkat menampilkan senyum indah di pagi hari. Angel
-
Cerpen: Pisau Takdir
Perempuan itu menggores lengannya dengan pisau yang dibawanya dari dapur siang tadi setelah sebelumnya memperhitungkan tempat nadi di pergelangan tangannya yang ia perkirakan bisa membuatnya mati seketika. Perasaannya menggebu-gebu ingin segera mengakhiri hidup yang menurutnya sangat menyakitkan. Seringainya terbit bak psikopat yang gila pada rasa sakit. Sedetik kemudian, seringainya berubah menjadi suram. Ingatannya kembali pada
-
Cerpen: Rentenir
Oleh: Imam Sufyan* Hari ini adalah hari kedua ia tak mandi. Badannya yang kurus kerontang ditambah rokok yang sudah kayak sepur menambah bau ruangan ukuran 3×3 semakin pekat. Sudah hampir dua jam istrinya mengomel tak kunjung dihiraukan. Tetap saja, pria berperawakan gondrong yang sedang bersandar di tembok kamarnya masih khusyuk dengan bukunya. Tak terhitung berapa