Tahun: 2017
-
Menyimak Pengolahan Kopi Arabika di Kayumas
Kopi seperti kenangan. Apapun yang disuguhkan. Nikmati saja. 19 September 2017 Maka pada suatu pagi yang cerah. Saya dan kawan-kawan, melaju ke perkebunan kopi Kayumas. Meski mata terasa berat, berusaha tetap terjaga. Sembari kami bercanda, dan menikmati pemandangan apa saja yang bisa saya lihat dari dalam mobil. Berbelok-belok. Terus menanjak. Sepanjang perjalanan, bolelah saya habiskan
-
Menanti Sebuah Tulisan
Sampai sekarang aku masih tak bisa membedakan mana merindu dan mana tak bisa melupakannya. Oleh : Fathur Rahman Sore itu, aku tulis setiap apa yang muncul di dalam benak akan tetapi kata-kata itu rancu, tak ada yang kumengerti, bahkan untuk sejengkal katapun. Tak ada inspirasi dalam ruangan kecil nan bisu ini. Aku memutuskan untuk berdamai
-
Pesantren di Tengah Cengkeraman Kapitalisme Global
Masyarakat yang sudah terhegemoni oleh zaman modern, akan semakin gandrung menikmati produk-produk global yang diklaim sebagai bagian dari modernitas. Mereka asyik menikmatinya tanpa berpikir dampak yang akan terjadi pada pencerabutan akar tradisi. Oleh : Achmad Nur Secara historis, pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan yang berbasis pengajaran tekstual yang eksistensinya mulai tampak pada akhir abad ke-18.
-
KH. A. Wahid Hasyim; Perjuangan dan Pemikiran tentang Pendidikan, Politik dan Agama
Wahid Hasyim adalah salah satu tokoh yang berperan penting mengawal berdirinya Republik Indonesia. Ia telah ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia hingga masa revolusi, bahkan sampai pada setelahnya. Sosok Wahid yang sejatinya tumbuh dan dibesarkan di pesantren, telah mampu menunjukkan eksistensinya dalam panggug politik Nasional. Ini menunjukkan bahwa, secara keilmuan beliau yang lahir dari rahim
-
Belajar dari Semesta; Kematian Bangsa Koloni
Hari ini benar-benar sial, aku hampir mati, kemarin adikku mati. Lalu, sejam setelahnya kekasihku juga mati. Entah siapa lagi yang akan mati berikutnya? Oleh : Yudhianto Mazdean Sepertinya Tuhan sedang berpihak padaku, ini kedua kali selamat dari kematian. Beruntung sempat meraih sendok dalam gelas panas itu, segera mungkin aku membebaskan diri. Hupp! Lompat, dan selamat.
-
Pengaduan Orang-Orang Pinggiran
Banyak orang di pinggiran yang masih belum diperhatikan oleh pemerintah. Oleh : Indra Nasution Mereka yang berada di pinggiran sangat sulit untuk mencukupi kebutuhannya, hingga mereka tidak mampu mencukupi urusan makan dan minum apalagi mau mengenyam pendikan untuk mereka yang di pinggiran. Banyak orang yang tidak bekerja atau pengangguran. Bukan cuma banyaknya pengangguran, melainkan juga
-
Cinta Bilik Hati
Orang bilang cinta itu hadir karena tatapan mata turun ke hati. Tapi, bagiku cinta itu aneh. Cukup mendengar namanya desiran halus muncul sebilik hati. Tak pernah melihat sebelumnya. Hanya sekedar nama. Tak tahu rupa, tutur kata, cara menatapnya. Bagiku sudah cukup meski hadir sebuah nama. Semua nama yang hadir tak ada sedikit yang memahami. Apa
-
Menikah Tanpa Sepeser Uang
Menikah itu tidak melulu berbicara soal cinta. Aku paham betul bagaimana cinta itu yang tertuang dalam pernikahan. Aku pun mengerti bagaimana bersikap yang baik untuk pasanganku. Pernikahan itu adalah ikatan dan perjanjian antara hamba dan Rabbi-Nya. Tapi kebanyakan manusia sebagai pasutri belum mengerti dan memahami arti sebuah pernikahan yang sebenarnya. Oleh : Nanik Puji Astutik
-
Ironinya Negeri Ini
Bergema teriak rakyat bergumam seribu amanat Semarak menyerbu kursi pangkat Masuk, duduki bangku dewan Menerjang suatu puncak jaminan Tergugah terjun konflik rakyat Dibalik terangkat makna tersirat Nyata hasrat tahta, harta menghayat dalam bayang pekat Tak murni sepenuh hati, kerap jadi ironi Sebab timbul sana sini kasus dewan terduga korupsi Sunggu ngeri negeri ini, harta milik
-
Kita Telah Mati
Aku kira kita sudah mati Anak-anak kecil bermain telanjang Bersama darah dan nanah Makan batu, aksara, juga keabadian Perempuan-perempuan mulai kehilangan badan Tinggal kaki setangkup dan yang lain saling makan daging saudaranya Pria-pria bersama kelamin mereka bangga di atas matahari Jenaka dan rindang melenggak-lenggok Dan goyang kakinya bertetes peluh Aku congkak Sudah lama kutinggalkan Tuhan