Banjir Sumatra 2025: Ketika Alam Mengamuk, Manusia Lebih Dulu Merusak

Ilustrasi Banjir Sumatra

Oleh: Feni Fenawati, Thalia Salsabila, Garnisa Nur Azizah, Dewi Kusuma

Penghujung tahun 2025 menjadi masa yang kelam bagi sebagian masyarakat Pulau Sumatra. Banjir bandang tiba-tiba menerjang beberapa wilayah dan menghanyutkan apa saja yang dilaluinya. Banyak orang menyebutnya sebagai bencana “alam”, padahal jika ditelusuri dengan jernih, bencana ini bukan datang tanpa tanda. Hutan yang mulai gundul, tanah yang kehilangan daya serap, dan kehadiran siklon tropis Senyar yang membawa hujan berjam-jam adalah rangkaian sebab yang saling berkaitan erat.

Banjir bandang yang melanda Sumatra Utara pada 2025 tidak hanya dipicu oleh hujan biasa. Pada hari itu, siklon tropis Senyar terbentuk di wilayah sekitar Samudra Hindia dan membawa massa udara basah dalam jumlah besar. Dampaknya, hujan turun terus-menerus selama berjam-jam tanpa jeda, membuat debit air di hulu sungai meningkat secara drastis. Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani (2025), Siklon Tropis Senyar meningkatkan suplai udara basah dari perairan hangat Selat Malaka sehingga memicu pertumbuhan awan konvektif di bagian utara Sumatra. BMKG mencatat bahwa pusat siklon berada di sekitar 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan minimum 998 hPa dan angin maksimum 43 knot. Hujan deras seperti ini sebenarnya masih bisa ditahan oleh alam jika kondisi hutan di pegunungan tetap terjaga. Sayangnya, hal itu sudah tidak terjadi lagi.

Selama bertahun-tahun, hutan di kawasan pegunungan Sumatra Utara mengalami penggundulan yang masif. Pohon-pohon ditebang tanpa kontrol, dan lahan-lahan kosong dibiarkan begitu saja tanpa penanaman ulang. Akibatnya, wilayah yang seharusnya menjadi penahan air justru berubah menjadi area rawan longsor. Padahal, akar pohon memiliki peran penting sebagai “penjaring” air sekaligus penguat tanah. Ketika hujan ekstrem datang, tanah yang tandus itu tidak mampu menahan aliran air. Ia langsung melepasnya ke sungai dalam jumlah besar.

Karena hujan akibat siklon Senyar berlangsung lama, air terus menumpuk. Tanah yang semestinya menyerap air kini sudah kehilangan kemampuan itu. Air lalu mengalir bebas dari lereng-lereng bukit, membawa tanah, lumpur, dan kayu gelondongan menuju sungai. Tak butuh waktu lama sampai sungai meluap dan berubah menjadi arus besar yang menghantam permukiman. Banjir bandang pun tak terhindarkan. Seperti dikutip dari detikedu.com pada Sabtu (29/11/2025), Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.

Selain dari faktor alam, bencana ini juga diperparah oleh perilaku manusia di daerah hilir. Sungai yang menyempit karena tumpukan sampah dan sedimentasi membuat aliran air semakin terbatas. Drainase yang tersumbat membuat air tak punya ruang pelarian. Dengan kombinasi hutan gundul di atas, hujan ekstrem dari siklon tropis, dan buruknya pengelolaan lingkungan di bawah, banjir bandang tahun 2025 menjadi bencana besar yang sangat sulit dibendung.

Banjir bandang Pulau Sumatra 2025 bukan sekadar musibah yang muncul tiba-tiba. Ia adalah hasil dari rangkaian sebab yang jelas: hutan gundul, tanah yang kehilangan daya serap, dan hujan berjam-jam akibat siklon tropis Senyar. Ketika semua faktor itu bertemu, bencana pun tidak bisa dihindari. Peristiwa ini seharusnya menjadi peringatan keras bahwa menjaga lingkungan bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. Jika hutan kembali ditanami, sungai dijaga kebersihannya, dan pembangunan dilakukan dengan bijak, maka kita bisa mengurangi risiko bencana di masa depan. Pada akhirnya, alam hanya memantulkan apa yang kita lakukan padanya. Jika kita merawatnya, ia pun akan menjaga kita.

Daftar Pustaka

Yulianti, C. (2025, 29 November). Biang Kerok Banjir Bandang Dahsyat di Sumatera Terkuak, Begini Analisis Pakar ITB. DetikEdu. https://share.google/hJB9RwLDwVEo9pGeC

Zahro, A. A. (2025). Siklon Tropis Senyar Terbentuk, BMKG Minta Siaga Cuaca Ekstrem di Aceh dan Sumut (Siaran Pers). BMKG. https://share.google/1HRkctGhf7sVGsOFE

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Fendy Sa’is Nayogi

Kemarau Tiba, Hati-Hati Kekeringan

Agus Hiplunudin Apacapa Esai

Merajut Kembali Keindonesiaan Kita Melalui Gotong Royong di Era Millennials

Cerpen Imam Sofyan

Cerpen: Rentenir

Hamidah Puisi

Terima Kasih Cinta dan Puisi Lainnya

Film/Series Muhammad Rizal Ulas

Resensi: Kembang Api

Nur Akidahtul Jhannah Penerbit

Buku Warna Keraguan

Cerpen Ruly R

Cerpen : Lapas dan Malam

Cerpen Moret Taradita Yandira Laksmi

Cerpen Mored: Jangan Bilang I Love You

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Rekacipta Upacara Hodo: Belajar Dari Lenong

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Literasi Bergerak di Taman Siwalan

Apacapa Imam Sofyan

Kabar Duka itu Datang

Pantun Papparekan Madura Sastra Situbondo Totor

Pantun Madura Situbondo (Edisi 5)

Agus Hiplunudin Apacapa Esai Feminis

Rumah, Sumber Penderitaan Bagi Perempuan?

Apacapa Baiq Cynthia Wisata Situbondo

Panasnya Kota Situbondo dan Kerinduan Pangeran Kesepian

Apacapa

Kuliner Malam Situbondo : Nasi Jagung

Ahmad Maghroby Rahman Apacapa

Sebuah Refleksi Pengalaman: Pagi Bening dan Engko’ Reng Madhurâ

El Fharizy Puisi

Puisi: Santet

Uncategorized

Memaknai Langgar Dalam Perspektif Sosiologi Agama

Puisi T. Rahman Al Habsyi

Puisi: Merakit Tidur

Ahmad Zaidi Apacapa

Sebuah Usaha Menulis Surat Lamaran