Kategori: Apacapa
-
Merengkuh Bahagia di Bulan Maulid
Oleh: Rahman Kamal* Tidak terasa ya, Dik, bulan maulid telah tiba. Pasar buah mulai ramai sejak minggu kemarin. Dijejali ibu-ibu yang bejibun datang berbelanja buah untuk acara maulid. Ada yang membeli setandan pisang, sebungkus apel, salak sekilo, anggur setengah kilo (karena mahal hehe) dan buah-buahan lainnya laris manis diborong ibu-ibu. Tapi namanya juga ibu-ibu, Dik.
-
Komitmen Literasi untuk SDM Unggul
Oleh: Haryo Pamungkas* Agak mengejutkan, beberapa waktu lalu novelis Eka Kurniawan menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019. Melalui akun facebook pribadinya, penulis buku Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas dan peraih Prince Claus Award 2018 itu memberikan klarifikasi: penolakannya bukan sekadar penolakan, bukan semacam bentuk ‘arogansi’, penolakan Eka adalah satu bentuk kritik; upaya
-
Ironi Pertanyaan Mahasiswa
Oleh: Nurul Fata* Sejarah mencatat bahwa momentum-momentum perubahan besar dunia tidak pernah lepas dari peran pemuda. Hampir setiap gerakan revolusi menempatkan perjuangan pemuda di garda depan. Begitu pun di Indonesia, beragam cara mereka lakukan untuk memperjuangkan nasionalisme dan mengusir kolonialisme. Dari gerakan anarkis yang melibatkan kekuatan fisik dan senjata, sampai akhirnya beralih pada gerakan ideologis
-
Gemalaguna: Menjaga Alam, Menjaga Manusia
Oleh: Jamilatul Hasanah* Rangkaian acara Camp GEMA LAGUNA yang diselenggarakan selama 3 hari 2 malam sejak tanggal 25-27 Oktober 2019 di Wisata Kampung Kerapu, Situbondo telah selesai. Camp GEMA LAGUNA merupakan camp edukasi dan praktik tentang rehabilitasi dan konservasi ekosistem laut. Camp ini dihadiri oleh pemuda-pemudi dari berbagai kota se-tapal kuda (Situbondo, Jember, Bondowoso, Probolinggo,
-
Laut Memanggil, Dik. Sudahkah Kau Menjawabnya?
Oleh: Rahman Kamal* Dik, kamu pasti tahu kalau negara kita itu terdiri dari 70 persen lautan dan hanya 30 persen daratan. Negara kita juga terdiri dari ribuan pulau dan beragam suku serta budaya yang tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Mereka bersatu padu di bawah bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi, kenapa kita tidak bisa
-

Gemalaguna: Laut Tak Pernah Salah
Sebenarnya saya agak ragu mendaku bahwa memiliki kedekatan dengan laut. Tapi tinggal di Situbondo, daerah yang lumayan dekat dengan laut, membuat saya merasa dekat dengannya. Untuk pergi ke laut terdekat dari rumah dibutuhkan waktu kurang lebih 15-30 menit. Itu sudah termasuk dekat kan? Selain itu banyak hal tentang laut yang saya temui di kehidupan sehari-hari.
-
Jika Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan*
Oleh: Marlutfi Yoandinas Jurnalisme selalu identik dengan profesi wartawan. Bahkan ada yang menyebut wartawan ialah orang yang hidup dan bernapas dari bahasa. Profesinya menuntut mereka agar selalu berkecimpung dan berkreasi dalam bahasa. Mulai dari penggodokan konsep di meja redaksi hingga proses wawancara dan reportase, lalu menyusunnya menjadi satu karya jurnalistik berupa berita. Namun, sejak menjamurnya
-
Lelaki yang Kukenal itu tidak Punya Nama
Oleh : Nanik Puji Astutik Aku tidak mau berkenalan dengannya. Itu yang kuteguhkan dalam hati setiap kali melihatnya. Bukannya membenci tapi sekedar tidak suka. Terlebih kami hanya berbicara seadanya. Dan membuatku memiliki perasaan yang janggal saat pertama kali bertemu dengannya. Bukannya aku berfikiran buruk tentangnya. Tidak. Tapi lebih kepada melihat peringai kesehariannya yang membuatku tidak
-
Memaknai Batik Ala Jomlo
Oleh: Rahman Kamal* Selamat Hari Batik Nasional, Dik. Ya, setiap tanggal 2 Oktober setiap tahunnya, kita mengingatnya sebagai Hari Batik Nasional. Menyenangkan. Lega. Karena dua hari di depan tanggal 2 Oktober adalah hari-hari yang terlampau serius. Kamu tahu kenapa kan, Dik? Ya, itulah ya. Hehe. Nah, pada hari ini kita bisa ngobrol hal-hal menyenangkan tentang
-
GNI Indonesia 2019: Perjalanan Melepaskan Ketergesa-gesaan
Oleh: Ahmad Zaidi* Kau menyanyikan lagu ini, mengikuti suara vokalis yang memenuhi udara malam. “Sekian lama aku mencoba, menepikan diriku di redupnya hatiku, letih menahan perih yang kurasakan, walau kutahu kumasih mendambamu.” Lagu itu mengantarmu memulai catatan ini. Kau bersama lima orang kawanmu, di sebuah meja cafe di sudut Jember yang dingin. Dari lahan kosong