Kategori: Cerpen
-

Cerpen: Gadis Usia Delapan
Di bawah pohon rindang yang daunannya mengalun indah, Randu duduk sambil memperhatikan kucing putihnya berlari lincah ke sana kemari. Ia meletakkan tas rotan cokelat yang sedari tadi menggantung di bahu, mengeluarkan sebuah buku kuning bergambar bunga matahari. Dibukanya halaman terakhir buku itu, dan mengambil satu dari delapan surat yang tertulis dengan tinta tebal. Aku melihatmu
-

Cerpen: Menemukan Makna Keluarga
Hujan mengguyur kota dengan derasnya, membasahi kaca jendela kamarku. Rintiknya jatuh berirama, seolah menulis kisah sendiri di balik kabut sore yang muram. Di luar, petir sesekali menyambar, menggelegar bersahutan dengan deru angin. Namun anehnya, di dalam kamar, aku justru merasa tenang. Kopi hangat di meja kecil mengepul pelan, sementara aku bersandar di tepi ranjang, membuka
-

Cerpen: Keroncong Raboeni
Demi apa pun juga ini adalah pagi paling laknat yang baru dialami oleh Rayi. Sepanjang karirnya yang sudah lebih dari lima tahun belum pernah ia merasakan pusing paling busuk hingga tak dapat membuka mata. Gara-garanya tentu saja secret party di rumah salah satu anak pejabat setempat malam tadi. Marco Lendry, ya itu namanya, anak pejabat
-

Cerpen: Dia Kembali
“Mak … Mak … tolong …,” aku berteriak sambil meringis, tak ada yang bisa kuselamatkan kecuali sepotong kain berwarna biru yang menjadi saksi. Penduduk kampung keluar dari rumah-rumah panggung, dadaku sesak, pinggangku terluka dengan darah mengucur deras, aku berjalan sempoyongan. Terakhir yang kuingat beberapa penduduk mendekat padaku bertanya, ada apa gerangan? Aku terjatuh tak sanggup
-

Cerpen: Nona Muda
Tok… tok… bunyi pintu kamarku disengaja Mak Srini tanda permisi. “Non, sudah ditunggu tuan di meja makan.” “Iya, Mak.” Kusudahi riasanku, berdiri, bercermin sebentar, dan kupercepat langkah keluar segera turun menuju lantai dasar. Sang tuan telah lebih dulu berkutik dengan peralatan makan. Bunyi sendok mengenai piring yang lirih nyaris tak terdengar, tata krama di meja
-

Cerpen: Pasang
Riuh laut selalu membawaku mengingat memori lama. Hari-hari ketika aku selalu menunggu Ayah di tepian dermaga. Mengharap belas kasih Tuhan sembari menunggu keajaiban agar Ayah pulang sesederhana beralasan rindu pada anak yang telah ditinggalkannya bertualang. Aku hidup berhalaman hamparan biru lautan. Jangan tanya lagi seberapa aku mengenali indah dan ganasnya lautan. Pemandangan tatkala pasang datang
-

Cerpen: Sebelum Janin
Meski aku baru muncul dan belum berwujud, tetapi aku langsung bisa tahu banyak hal. Aku berada di tubuh perempuan muda, yang telah hidup selama dua puluh tujuh tahun. Aku muncul di dalam kepalanya, menyerap pengalaman dan perasaannya. Perempuan ini memiliki rambut hitam lebat yang jatuh hingga sepunggung. Dia mengenakan kerudung marun dan baju long dress
-

Cerpen: Juru Rawat Kenangan
Di kota yang dibangun dari kekonyolan ini, akan tuan temui seorang lelaki bermata keruh yang saban waktu ke sana-ke mari hanya untuk bercerita. Di jalan-jalannya yang lengang dan selamat dari kemacetan, lelaki kerempeng itu dengan keceriaan di wajahnya akan mengayuh sepeda tuanya. Ia akan berhenti setiap ada orang-orang yang berkumpul di taman-taman kota, warung kopi,
-

Setelah Canon In D, Aku Mungkin Tak Ada Lagi
Di suatu siang yang dilembutkan gerimis, ruang auditorium Pabrik Gula Panji telah didekorasi jadi tempat pesta pernikahan. Ada meja-meja dengan hidangan dan minuman. Pelaminan yang didominasi warna putih, dan sebuah piano di sudut kiri yang dihiasi ornamen bunga-bunga cerah. Nalea duduk di depan piano itu, mengenakan gaun hitam, bukan karena berkabung, tetapi karena itu satu-satunya
-

Cerpen: Bayangan Perpisahan
“Perpisahan memang tidak butuh perayaan. Tapi perpisahan selalu punya cara untuk melahirkan sebuah kenangan.” Awal bulan Agustus, saat Dirot baru pulang ngopi bersama teman-temannya, tiba-tiba ia tersekat di depan pintu rumah. Ketika hendak meremas gagang pintu, spontan ia terbayang sosok Dalot, kekasihnya. Sebab sebulan yang lalu adalah pertemuan terakhir mereka di rumah itu—rumah pribadi milik