Kategori: Cerpen

  • Cerpen: Pelangi

    Oleh: Moh. Jamalul Muttaqin Tentang pelangi yang tak indah di pandang mata. Pagi ini gerimis masih belum reda, orang-orang malas keluar rumah. Kelihatannya pintu-pintu rumah tertutup rapat, mungkin orang-orang sedang tidur atau bercerita panjang bersama keluarga. Pastinya banyak yang mengeluh hari ini. Bayangkan hujan turun sejak tadi malam dengan deras dan sekarang  tinggal gerimis. Anak-anak

    selengkapnya…

  • Cerpen: Tahun Baru Terakhir

    Oleh: Fahrus Refendi Peristiwa tengah malam itu menjadi duka yang tetap melekat di jiwa. Khususnya bagi ekstra kurikuler pramuka. Rabu malam Kamis, menjadi tahun baru berdarah bagi SMPN Joko Tarub. Bagaimana tidak, tiga belas dari tujuh belas anggota pramuka tewas mengenaskan terlindas truck fuso bermuatan asbes. Potongan tubuh menyebar di seluruh jalan; tangan terpisah dari

    selengkapnya…

  • Cerpen: Mereka Berbicara tentang Kamu

    Oleh: Qurrotu Inay Kamu bukan wanita binal, kawan. Hanya seorang wanita biasa yang terpaksa menjadi binal semenjak kabar burung itu santer terdengar. Sebenarnya bukan dirimu sendiri yang memilih menjadi seperti itu, melainkan lingkunganmu lah yang pada akhirnya mendesakmu untuk memilih sebuah lorong menuju neraka itu. Kamu bukan artis, kawan. Hanya kebetulan saja akhir-akhir ini orang-orang

    selengkapnya…

  • Cerpen: Malam yang Dingin, Pantai, dan Senja

    Oleh: Ahmad Zaidi “Ceritakan padaku tentang malam yang dingin, pantai, dan senja,” katamu. Maka, aku menceritakan ini kepadamu. Kita sedang duduk berhadap-hadapan. Di depan kita ada sebuah meja dengan dua cangkir dan piring kecil yang diletakkan di atasnya. Di luar gerimis. Kau memesan espreso dan chocolate sponge cake. Aku ingin memesan bir, tapi tentu kau

    selengkapnya…

  • Cerpen: Fragmen Ingatan

    Oleh: Alif Febriyantoro Tentang Bola dan Rumah Tua Usiaku masih enam tahun ketika dulu aku berlari ke arah rumah tua di depan rumahku. Aku berlari karena bola yang kutendang melayang ke atas dan masuk ke rumah tua itu. Namun langkahku terhenti, teriakan mamaku sangat keras. “Nikolas, jangan main ke sana. Berbahaya!” “Ayo pulang!” “Tapi, Ma.

    selengkapnya…

  • Cerpen: Bianglala dan Sisa Aroma Tequila

    Oleh: Nur Diana Cholida Sepertinya takdir ingin bermain-main denganku. Atau bahkan, aku yang mempermainkan takdirku sendiri. Ku tatap novel yang kau pinjamkan untukku. Aku masih menyimpannya. Kau tak pernah menagihnya, maka aku tak akan mengembalikannya. Ku tatap lekat novel itu. Setetes Embun Untukmu, itulah judulnya. Aku bernostalgia denganmu lagi. “Cinta ini terlalu riskan untuk kita

    selengkapnya…

  • Cerpen Mored: Jangan Bilang I Love You

    Oleh: Taradita Yandira Laksmi Aku ingat keseluruhan kisah meski acapkali terbolak-balik susunannya. Ya, untuk ketiga kalinya aku bermimpi sesuatu yang begitu nyata. Benar-benar seperti nyata. Entahlah, akan ada petualangan kisah apalagi setelah ini. Sebenarnya aku tengah berada di sekolah. Ya, baru selesai latihan hadrah. Saat kulihat Praja dan Azam beserta teman-teman laki-lakinya yang familiar di

    selengkapnya…

  • Cerpen: Giok

    Oleh: Baiq Cynthia “Aku tidak ingin menikah, jika giok itu belum ditemukan!” Pada suatu hari aku berkata kepada sosok pemuda yang berdiri di hadapanku. Wajahnya mirip pemeran artis papan atas tapi hanya pemeran figuran, jadi ya dibilang ganteng tapi biasa saja, dibilang jelek bukan Si buruk rupa. Aku melihat dengan tatapan setengah marah. Pasalnya sebuah

    selengkapnya…

  • Cerpen: Peri dan Kekuatan Kenangan

    Oleh: Ulfa Maulana “Tania rindu ayah, Mimi Peri,” ucap gadis kecil saat ditanya alasan ia merenung di bibir pantai. Perempuan bergaun putih itu tersenyum. “Kuncinya hanya satu, Sayang. Kekuatan kenangan. Kamu ingat masa-masa bersama ayahmu?” Tania mengangguk. Segala hal tentang sang ayah takkan pernah ia lupa. “Baiklah. Yuk ketemu ayah.” Perempuan yang Tania panggil mimi

    selengkapnya…

  • Cerpen: Gerimis Kedua

    image: sanket mahapatra Oleh: Wilda Zakiyah “Tidak ada yang mengenal gerimis, Lia. Jangan memaksa untuk berkenalan. Sebab gerimis dan hujan, sama saja.” *** Di sebuah kedai kopi  pinggir jalan, gadis kecil sekitar usia sembilan tahun duduk memunggungi jalanan. Rambut yang dikucir kuda dan hanya menyisakan poni yang bergoyang ditiup angin, gadis itu menyapu pandangannya ke

    selengkapnya…