Kategori: Cerpen
-
Cerpen: Siklus Selotirto
Oleh: Wilda Zakiyah Sebuah perjalanan di pagi-pagi buta, sepasang lelaki dan perempuan menyusuri perkebunan karet dan pohon jati. Tak ada yang berbeda dari sepasang kekasih itu selain kemesraan yang seolah ingin membuat sekeliling cemburu. Sesekali terdengar pohon dan semak-semak berbisik, membicarakan mereka. Jalanan bebatu dan terjal, ada sisa air embun yang masih menempel di daun-daun,
-
Cerpen: Perempuan Api Unggun
Oleh: Erha Pamungkas* Ketika matamu masih mendapati nyala beberapa api unggun menari-nari di dekat pintu kereta tikungan Sudirman, secepat bayangan ingatanmu terbang ke masa silam. Matinda, bagaimana ia sekarang? Kau telah meninggalkan kota ini dua puluh tahun lamanya. Ketika kembali, kau sedikit terperanjat; betapa waktu turut mengubah kota sekecil ini pula. Gedung-gedung semakin asing bagimu,
-
Cerpen: Carlina dan Dangdut yang Mencelakainya
Oleh: Eko Setyawan “Jembut!” umpat Carlina menyerapahi dirinya sendiri dan lelaki yang menyawernya dengan uang pecahan lima ribuan. Ia ucapkan kejengkelannya tepat ke telinga orang yang berjoget dan mengacung-acungkan uang pecahan itu. Baginya, saweran dengan uang yang nominalnya sangat kecil tak lebih dari sebuah hinaan yang ditujukan oleh manusia kere terhadap dirinya. Penghinaan atas keberaniannya
-
Cerpen: Hijrah
Oleh: Haikal Faqih Di sela pembelajaran, Ustaz Ubaid menasehati para muridnya. “Sekarang sudah banyak, Bhing[1], pemuda-pemudi seumuran kalian yang hanya mondok, tetapi diri mereka tetap tak jadi santri.” Lia yang mendengar bertambah cemas menyadari kenyataan buruk di sekelilingnya. Sebenarnya ia bukan tipikal orang yang teramat peduli kepada orang lain, akan tetapi satu orang yang dia
-
Cerpen: Takdir
Oleh: Moh. Jamalul Muttaqin Di sebuah daerah terpencil, hiduplah seorang anak dan seorang ibu yang berteduh di dalam gubuk yang tak begitu kokoh, semuanya di buat dari bambu tua. Kalau di terpa hujan deras, gubuk itu tak bisa menangkis air yang hendak masuk ke dalamnya, pastinya mereka berdua gigil kedinginan. Agar hal itu tidak terjadi,
-
Cerpen: Dinding-Dinding Rumah Seorang Pembunuh
Oleh: Surya Gemilang Saat tengah malam, gempa membangunkan si Pembunuh dan istrinya yang tengah hamil besar. Gempa tersebut berlangsung selama kira-kira lima detik, membuat seluruh dinding rumah si Pembunuh dipenuhi retakan, hingga tampak seperti cangkang telur yang hampir dipecahkan oleh seekor anak ayam dari dalam. Lucunya, langit-langit pun lantai tak terluka sama sekali. “Biaya renovasinya
-
Cerpen: Aku Pulang, Bu!
Oleh: HarishulMu’minin Malam mulai merangkak menuju wujud sempurnanya. Gerimis turun dari rahim cakrawala. Bulan yang semula bersinar pucat, kini sinarnya sudah tertutup awan dan tak lagi kelihatan, pun juga kerlip gemintang. Angin berembus pelan, menyelusup lewat celah jendela indekos Ardillah. Ia duduk di atas kasur. Pandangannya diarahkan keluar, melihat tetes demi tetes air yang mulai
-
Cerpen: Senja yang Menyakitkan
Oleh: Muhtadi ZL Di akhir bulan Januari, Mirna akan kedatangan tamu. Seorang lelaki jangkung, dengan hidung sedikit mancung dan gaya rambut yang dikepang. Lelaki itu kerap terbesit dalam benaknya ketika tidur dan melamun. Wajar jika Mirna benar-benar rindu pada Tarno, lelaki jangkung itu. Sebab mereka berpisah sudah dua tahun. Dengan rentan waktu yang cukup panjang
-
Cerpen: Jurang Ara, Lahirnya Para Perantau
Oleh: Norrahman Alif Barangkali serajut mimpi-mimpi untuk bertani lagi dengan baik dan benar di musim depan telah terhapus dari pikirannya–setiap kali meratapi derita hasil penen hanya memberi beban kesedihan atas hidup–dan bagi kaum padi yang sesering mungkin diserang hama dan penyakit mematikan bagi tumbuh-kembang padi-padi untuk berbuah meras. Akan tetapi mereka tidak secepat itu memutuskan
-
Cerpen: Ular-Ular yang Bersarang dalam Kepala
Oleh: Kakanda Redi Bertahun-tahun sebelum pada akhirnya Mas Ario mengajakku berkunjung ke kebun binatang yang terletak di pinggiran kota tempat kami tinggal, aku sudah punya rasa takut tersendiri dengan ular. Di kepalaku, hewan melata itu tak hanya membuatku bergidik lantaran ngeri, tapi juga jijik setengah mati. Rasa takut ini bermula ketika aku masih menempuh pendidikan