Kategori: Cerpen
-
Cerpen: Deja Vu
Oleh: Agus Hiplunudin Tatapan pasang mata sendunya dipancangkan ke luar. Di balik tirai kamar, ia memperhatikan sekitaran halaman rumah, seolah ia berkeinginan untuk menerjang hujan yang menderas menyerupai paku-paku air yang jatuh dari langit yakni hujan yang membasahi setiap sudut kota itu. Hujan yang dapat menghapus semua bekas jejak langkah telapak kaki manusia, saat mereka
-
Cerpen: Tentang Pelangi
Oleh. Moh. JamalulMuttaqin Siapakah yang tak menyukai warna yang tersusun dengan warna-warna pilihan sehingga indah dipandang mata, lalu orang-orang menamainya pelangi, menunggunya di setiap gerimis mereda, dan bercerita panjang kepada keluarganya tentang keindahannya yang tak pernah membosankan? Sayangnya, mereka selalu menutup mata saat pelangi berubah warna. Mereka tak pernah menghargai kenangan, padahal kenangan adalah keindahan,
-
Cerpen: Ginjal Pembawa Kesedihan dan Penyesalan
Oleh: Harishul Mu’minin* “Aku di mana, Bu?” “Di Rumah Sakit, May.” Setelah dua hari menjalani koma, Maya akhirnya siuman. Ia terkena luka berat di bagian pinggang dan kepalanya. Bu Lina syok saat mendengar kabar bahwa Maya masuk ke rumah sakit akibat kecelakaan tunggal. Adalah Kapolres setempat yang mengabarkan kejadian tersebut. Suara engsel pintu berderit, pintu
-
Cerpen Mored: Percaya
Oleh: Iffah Nurul Hidayah* Dedaunan kering mulai berjatuhan, perlahan lalu mendarat tenang di atas permukaan tanah yang digenangi air bekas tangisan langit semalam. Pesantren sedang ramai pagi hari ini. Ada yang sedang menyantap hidangan ala ibu-ibu dapur, ada yang sedang menyapu taman, ada juga yang duduk melamun tak jelas di ambang pintu kamar. Tepat di
-
Cerpen: Dengan Rasa
Oleh: Muhtadi ZL* Saat azan lima waktu berkumandang, aku ingin menjadi al-Quranmu, yang selalu kau lihat dan kau eja secara tepat sesuai makhroj dan tajwidnya. Tatapanmu tak pernah lepas dari rangkaian huruf hijaiyah itu. Ingin sekali aku seperti itu. Semoga kau mengerti bahwa setiap azan berkumandang aku ingin seperti al-Quran yang selalu kau pangku. Namun
-
Cerpen: Penjara
Oleh: Romi Afriadi Di kos barunya Sidik begitu merasakan kesepian karena tidak punya satu pun kenalan walaupun kos tersebut terdiri dari banyak kamar dan dihuni puluhan orang, namun masing-masing lebih suka menyendiri dan menjaga privasi. Beruntung kondisi itu tak bertahan lama buat Sidik, setelah bertemu dan berkenalan dengan Anton seorang mahasiswa Jurusan Filsafat, barangkali karena
-
Cerpen: Sebelum Membayar Dendam
Oleh: Toni Kahar Kamu akan merasa iba kepada ibumu jika tahu bagaimana ceritanya pada saat kamu ada di dalam kandungan. Ibumu, yang bernama Marni itu hidup sendiri menjagamu dalam kandungan. Kamu diklaim terkandung dalam rahimnya setelah dikuburkannya jasad ayahmu yang berdarah-darah, tersebab perkalahian. Ada yang memberikan kabar, jika Darso, tetangga dekat ayahmu mengganggu Ibumu. Mencak-mencak
-
Cerpen: Sebelum Kau Terjun Malam Itu
Oleh: M Firdaus Rahmatullah Seharusnya malam itu aku pulang terlebih dahulu sebelum Marni berhasil meloloskan diri dari kamar tidur yang kau kunci dari luar. Jika bukan lantaran menuruti kegembiraanku yang bergas, tentu kau tak perlu terjun dari lantai tiga kontrakan. Marni memang tak bersalah. Tentu saja. Usianya yang menginjak lima tahun masih belum mampu mencerna
-
Cerpen: Perempuan Penjaga Senja
Oleh: Alifa Faradis “Cinta itu tak bisa dipaksakan,” katamu sore itu, saat senja menggurat warna jingga di langit seperti sebuah lukisan abstrak pada kanvas biru di ufuk barat. Saat itu kita tengah duduk di rangghun; sebuah tempat bernaung untuk melepas lelah mirip gazebo yang terbuat dari lincak beratap daun-daun kelapa kering di pinggir pantai. Semilir
-
Cerpen: Kehilangan Sebelum Memiliki
Oleh: Sheila Primayanti Kamu tidak terlalu tampan untuk kupuja setengah mati. Tidak pula kaya untuk kubanggakan kepada tetangga-tetangga yang senang sekali mencibir seolah mereka sempurna. Tapi, entah mengapa aku senang sekali mengajakmu bicara. Aku senang melihatmu menjelaskan perihal mata pelajaran yang aku sendiri sudah paham. “Ini hanya tinggal bagi 3, kemudian kamu cari pemfaktorannya,” jelasmu