Kategori: Puisi
-
Kita Telah Mati
Aku kira kita sudah mati Anak-anak kecil bermain telanjang Bersama darah dan nanah Makan batu, aksara, juga keabadian Perempuan-perempuan mulai kehilangan badan Tinggal kaki setangkup dan yang lain saling makan daging saudaranya Pria-pria bersama kelamin mereka bangga di atas matahari Jenaka dan rindang melenggak-lenggok Dan goyang kakinya bertetes peluh Aku congkak Sudah lama kutinggalkan Tuhan
-
Seuntai Pengorbanan
Oleh : Zainul Anshori Hari semakin siang, matahari tepat di sekitar tengah tengah kepala. Rasa panas kulit tak sepanas saat hati terasa sakit, saat diabaikan semua rasa yang saya pikul, entah kepada siapa aku mengeluh,mengadukan nasib seberat semut memikul buah durian. Ya ……! Apakah patut, rasa yang ingin diperjuangkan bisa dikatakan pengorbanan …? Dan rasa
-
Langai; Selimut Duri
Oleh : Moh Imron Tubuhmu berduri Apa kau tak ingin melukai? Aku tahu Air matamu rontok dari rantingnya Kesedihanmu berguguran Apa lagi yang kau rindukan? Hujan? Hujan telah bersembunyi Di balik kantong orang-orang berdasi Kampungmu gersang Kampungmu dimiskinkan Kampungmu ditindas Kampungmu diterlantarkan Tak ada keadilan di Kampungmu Kau hanyalah perusahan kesedihan Kau hanyalah pabrik kesengsaraan
-
Alisa, Kamulah Puisiku
Oleh : Ipul Lestari Angin dan daun-daun gugur Entah kenapa suasana di ketinggian selalu menarik mataku Ribuan pepohonan yang rindang Hijaunya hutan belantara mewakili suasana hati yang rindu kala itu Dengan alasan yang tidak masuk akal kau pergi meninggalkan kota kecil ini, Alisa Malam datang lagi seperti bagian dari kehidupanku Malam selalu membawa gelap dan
-
Sajak Orang Gila
Oleh : Uwan Urwan Mereka adalah sekumpulan tabuhan dinding. Kelinting… Kelontong… Kelenteng…. Bunyinya berganti setiap detik. Ada yang berdangdut, berdansa, cuci kepala, sampai memotong leher sendiri. Mereka tetap anak-anak dalam wujud bohay dan gembrot. Mungkin mereka selalu hidangkan anjing mati dalam kudapan siang. Beramai-ramai ada kuda, cacing, lintah, kucing, ular, buaya, kadal, monyet, hingga kekasih
-
Pengharapan
Oleh : Raisa Izzaty Tak ada yang selesai pada hidup Juga panjang jalan ini Burung burung pulang ke sarang Juga rindu tiba tiba punya ruang Seperti ciuman basah di pinggir pantai sore itu Aku mengingat matamu Jauh Seperti sebuah lorong panjang yang tak kutemui ujungnya Kubilang tak ada yang tak selesai pada hidup Tapi tidak
-
Bersama Pariopo
Oleh Uwan Urwan Hai, aku menyapa Assalamualaikum, aku bersalam Bersama cahaya gemerisik Lindu, dan rindu aku menyesap batang-batang rokok Menjadi candu, menanti panas rahmat Dan hujan-hujan datang dengan rezeki tanpa batas Aku, Imron, Zaidi, Sufi kembali, setelah setahun silam menerjang batu Menguliti resah Mencaci maki hati yang tersedak Hujan, aku memanggilmu Pagi, siang, sore, dan