
“Soro Nemmo” adalah pintu pertama saya masuk ke dunia rap berbahasa Madura milik Hiqie, mungkin sudah enam tahun yang lalu. Sejak itu, saya mulai menelusuri lagu-lagunya seperti Bekna Sapa versi 1 dan 2, Taretan, hingga Salawat Nariyah yang rilis pada masa Covid-19. Perjalanan itu berlanjut sampai lagu berjudul “Apacapa”, dan entah bagaimana, saya benar-benar suka. Mungkin karena rap berbahasa Madura adalah bahasa keseharian dan dekat dengan saya. Dan genre musik seperti ini sangat jarang.
Beberapa hari lalu, tepatnya 17 Maret 2026, Hiqie merilis lagu berjudul Dajjal Hypebeast, tapi dengan bahasa campuran. Mungkin bisa menjangkau pendengar lebih luas. Lagu ini kini sudah tersedia di seluruh platform musik digital serta YouTube Music. Sedangkan tema yang diusung, bagi saya, cukup berat. Berbeda dengan tema lagu-lagu yang sering saya dengar baik tentang cinta, persahabatan, motivasi maupun refleksi. Meskipun ada beberapa lirik lagu dengan bahasa enjek-iye, yang kadang dianggap kasar, sangat cocok untuk ungkapan marah, seperti dalam lagu “Bekna Sapa”. Namun, pada konteks tertentu, penggunaan bahasa enjek-iye menunjukkan kedekatan atau keakraban, sebagaimana dalam lagu-lagu lainnya yang berbahasa Madura.
Nah, pada lagu Dajjal Hypebeast menggunakan bahasa yang lebih kasar, liar, dan tanpa kompromi.
“Akulah caleg si calon lenong gebleg…
pilihlah aku pasti korupsi”
Pendengar langsung dihadapkan pada sebuah dunia yang terbalik. Kejujuran justru muncul dari pengakuan kebusukan.
Tokoh “aku” dalam lirik ini sebagai representasi simbolik dari kekuasaan itu sendiri, yaitu adalah caleg, bupati, sekaligus presiden dalam satu tubuh. Penggabungan identitas ini menegaskan bahwa kritik ini ditujukan pada sistem kekuasaan secara keseluruhan. Sosok ini digambarkan sebagai makhluk yang kehilangan sisi kemanusiaannya: “darah setan”, “setan berbentuk manusia”, hingga metafora predator seperti “macan” memperkuat citra dehumanisasi tersebut.
Lagu ini hendak menyampaikan kritik sosial-politik yang tajam, terutama terhadap praktik korupsi, keserakahan, dan dominasi kapitalisme. Pengulangan frasa seperti “I like money, I like btch”* menjadi penegasan obsesif terhadap materialisme, sementara baris seperti “people workin’ for me” mengarah pada relasi kuasa yang eksploitatif. Dunia yang digambarkan telah memasuki fase distopia. Hal ini bisa ditandai dengan ungkapan apokaliptik seperti “Dajjal bentar lagi datang” dan “Dunia ini udah kacau”. Tidak ada ruang harapan, yang tersisa hanyalah kekacauan dan dominasi.
Dari sisi gaya bahasa, lirik ini memanfaatkan ironi, hiperbola, dan repetisi sebagai perangkat utama. Penggunaan campuran bahasa Indonesia dan Inggris memberi nuansa global sekaligus mengikuti tradisi lirik hip-hop modern, meskipun dalam beberapa bagian terasa kurang natural dan cenderung dipaksakan. Diksi vulgar dan agresif memperkuat karakter brutal tokoh “aku”, tetapi di saat yang sama berisiko mengurangi kedalaman makna karena terjebak pada efek kejut semata.
Bagi saya, beberapa lirik mengandung sejumlah penyederhanaan yang bisa dianggap sebagai cacat logika. Penguasa digambarkan sepenuhnya jahat, sementara rakyat sepenuhnya korban, sebuah pola pikir biner yang mengabaikan kompleksitas realitas sosial. Namun, dalam konteks artistik, penyederhanaan ini justru menjadi strategi, melebih-lebihkan kenyataan agar pesan terasa lebih tajam dan mengguncang. Dengan demikian, “ketidaklogisan” dalam lirik ini bukan kelemahan mutlak, atau bisa jadi bagian dari estetika yang disengaja.
Lirik ini mungkin lebih berhasil sebagai ekspresi emosional ketimbang argumen rasional dengan menampilkan potret dunia yang telah rusak dalam bentuk paling ekstrem. Kekuatan utamanya terletak pada keberanian dan intensitas, sementara kelemahannya berada pada keterbatasan eksplorasi makna dan kecenderungan berpikir biner. Begitulah Hiqie meluapkan atau berteriak keras melalui medium musik, meskipun tidak sepenuhnya logis, tetapi cukup kuat untuk membuat pendengar berhenti dan berpikir. []
Tinggalkan Balasan