Bulan: Februari 2020

  • Puisi: Stratocumulus

    Opening Speech Selamat datang kembali di sekujur tubuh yang benar-benar terlepas dari jurang cahaya. Di sisi lain sudah jelas tidak ada makam nabi ketika azan mendapatkan namanya sendiri. Hanya sekitar lima bulan kita merasa ditarik unta ke langit. Menyaksikan kekurangan tumbuh di bibir yang tak henti melelehkan suara-suara. Menanggapi gelap dan angin hujan malu-malu untuk

    selengkapnya…

  • Cerpen: Ular-Ular yang Bersarang dalam Kepala

    Oleh: Kakanda Redi Bertahun-tahun sebelum pada akhirnya Mas Ario mengajakku berkunjung ke kebun binatang yang terletak di pinggiran kota tempat kami tinggal, aku sudah punya rasa takut tersendiri dengan ular. Di kepalaku, hewan melata itu tak hanya membuatku bergidik lantaran ngeri, tapi juga jijik setengah mati. Rasa takut ini bermula ketika aku masih menempuh pendidikan

    selengkapnya…

  • Terima Kasih Cinta dan Puisi Lainnya

    Oleh: Hamidah, M.Pd* Terima Kasih Cinta Terima kasih atas dedikasimu padaku Tanpamu mungkin aku tak akan mampu mengenal dunia ini dengan baik Tanpamu mungkin aku lemah Tanpamu ku tak mampu  arungii samudra Tanpamu dunia terasa hambar Tanpamu gelora kan padam Tanpamu hampir kulupakan lantunan ayat2 suci-Mu Dan tanpamu tebar semyumku kan sirna Cinta…kau bahtera hidupku

    selengkapnya…

  • Puisi Mored: Sepotong Puisi untuk Bunda dan Puisi Lainnya

    Oleh: Alif Diska* Sepotong Puisi untuk Bunda Bunda… Apa kabar disana ? Apakah bunda sekarang sedang berbahagia ? Aku harap bunda baik baik saja Bunda… Aku rindu Rindu mendengar suaramu yang merdu Rindu melihat paras cantikmu itu Rindu atas segala hal yang membuatku candu Maaf, Atas segala hal yang membuat hatimu terluka Atas segala kedekilanku

    selengkapnya…

  • Terapi di Warung Kopi

    Dalam beberapa kasus, media sosial bisa begitu berisik. Kasus paling mencolok: saat pilpres lalu. Bahkan mungkin sisa-sisa kelahi dua golongan masih berlanjut hingga kini. Dan itu, sejujurnya agak menyebalkan, meskipun saya insyaf berekspresi di media sosial merupakan hak bagi penggunanya. Manusia berekspresi di media sosial; menunjukkan rupa-rupa wajah—dan saya teringat Rahwana. Sang Raksasa Rahwana memiliki

    selengkapnya…

  • Puisi: Kembalikan Tawaku

    Puisi WF Romadhani* BERANTAKAN Hari ini berantakan Berjalan tanpa tujuan Menulis tanpa pikiran Bicara penuh bualan Ketidakjelasan Ratapan Harapan Penyesalan Tentu masih terasa Dan diri ini mengakuinya Tak bisa menghilang Menyeretku Mengikatku Membelengguku Malang, 23 Oktober 2019 SEJAK ITU, BUNGA Sejak itu, bunga Kuurung memberimu pupuk Akupun lupa tempat timba berada Yang biasanya kugunakan ‘tuk

    selengkapnya…

  • Cerpen: Deja Vu

    Oleh: Agus Hiplunudin Tatapan pasang mata sendunya dipancangkan ke luar. Di balik tirai kamar, ia memperhatikan sekitaran halaman rumah, seolah ia berkeinginan untuk menerjang hujan yang menderas menyerupai paku-paku air yang jatuh dari langit yakni hujan yang membasahi setiap sudut kota itu. Hujan yang dapat menghapus semua bekas jejak langkah telapak kaki manusia, saat mereka

    selengkapnya…

  • Puisi: Laporan Pagi di Perempatan Trowulan

    Puisi-puisi Anjrah Lelono Broto 1/ Laporan Terkini dari Kubur Orang yang Mati Terbunuh sepasukan anai-anai berjalan tegap ekor mataku melihatnya sebelum lindap di antara lipat tanah yang gelap kalau irama kaki mereka terdengar tanpa gentar menggeletar karena mereka adalah makhluk penyabar apabila aku harus menyesali pertemuan dengan sepasukan anai-anai ini “tak berharga lagi,” pupus berulang

    selengkapnya…

  • Cerpen: Tentang Pelangi

    Oleh. Moh. JamalulMuttaqin Siapakah yang tak menyukai warna yang tersusun dengan warna-warna pilihan sehingga indah dipandang mata, lalu orang-orang menamainya pelangi, menunggunya di setiap gerimis mereda, dan bercerita panjang kepada keluarganya tentang keindahannya yang tak pernah membosankan? Sayangnya, mereka selalu menutup mata saat pelangi berubah warna. Mereka tak pernah menghargai kenangan, padahal kenangan adalah keindahan,

    selengkapnya…

  • Ketemu Mas Menteri di Warung Kopi

    Ada guru yang sabar, berusaha menahan-nahan sebab sadar pada pundaknyalah kecemerlangan manusia Indonesia dipertaruhkan, ujug-ujug malah jadi korban kekerasan. Ada yang tak tahan, menjewer kuping para bengal dan sudah pasti berujung tersangka. Keduanya sama-sama repot, tapi jadi murid pun tak kalah repot. Pendiam merenungi semesta dituduh tak aktif, kritis betulan dicap ngelunjak, kadang sok tahu.

    selengkapnya…