Koruptor, Pramoedya Ananta Toer

Oleh : Achmad Zaidi
Buku ini bercerita tentang Bakir, tokoh utama dalam
buku ini. Seorang lelaki tua yang telah beristri dan  mempunyai empat anak
dari pernikahannya. Bakir menjabat sebagai kepala kantor di sebuah instansi
pemerintah. Selama belasan tahun ia bekerja dengan jujur. Ia memberikan
kenyamanan kepada para bawahannya. Dan kemudian Bakir bosan setelah merasa
bahwa ada sesuatu yang tidak adil dalam hidupnya. Selama belasan tahun bekerja
sebagai pegawai yang demikian jujur, menjunjung tinggi keperwiraan, ia masih
mengendarai sepeda tua, tinggal di sebuah rumah sederhana, dan kerepotan
mengurusi biaya sekolah anak-anaknya. Bakir merasa seperti ada sesuatu yang
belum ia peroleh dari apa yang ia lakukan selama ini. Ia merasa kejujuran dan
sikapnya selama ini sia-sia.
Maka sejak saat itu, terjadi semacam konflik batin,
perang yang hebat di dalam tempurung kepala seorang lelaki tua. Perang antara
dua hal yang harus ia pilih dan putuskan segera. Terus hidup seperti yang ia
jalani. Atau sedikit melakukan manuver agar kehidupannya membaik. Dalam
kebimbangan seperti itulah terbesit di kepalanya akan hal-hal yang sebelumnya
ia jauhi: korupsi. Dengan jeli dan cermat, Pram menggambarkan suasana hati
Bakir. Apa yang bakir rasakan. Apa yang ia inginkan. Pram menyajikan sebuah
senandika yang tak henti-henti membuat saya terpukau.
Mula-mula, bakir mulai mempertimbangkan cara bagaimana
ia bisa melancarkan rencana busuknya. Ia perlu setelan yang meyakinkan. Dasi
dan sepatu mengkilat. Dijuallah beberapa alat di kantornya sepulang kerja,
setelah semua pegawai bawahannya pulang terlebih dahulu. Ia melakukan itu demi
mengubah penampilannya.
Istri Bakir yang mengendus rencana dan perubahan tak
wajar suaminya itu bertanya, berusaha mencegah dan mengingatkan akibat dari
perbuatan yang akan Bakir muluskan. Bakir berang. Tak henti-hentinya, si istri
mengingatkan hingga beberapa kali. Puncaknya, Bakir memutuskan pergi dari rumah
dan tinggal di sebuah gedung mewah. Hidup bakir berkecukupan. Apa saja bisa ia
beli sekarang. Namun tidak dengan satu hal: ketenteraman.
Pada bagian ini, kita diajak oleh penulis untuk
merenungi kembali tentang hakikat kebahagiaan. Secara samar. Bukan dengan cara
menggurui. Pram menyajikan dua hal berbeda yang bisa pembaca lihat dan
pertimbangkan seberapa jauh perbedaan itu. Bagaimana kehidupan bakir yang
meskipun miskin, ia tetap terhormat. Dengan kehidupan Bakir yang serba mewah,
namun setiap waktu dihantui perasaan cemas. Was-was akan  ada yang tahu
perbuatannya.
Setelah sampai di bagian akhir cerita, ada dialog yang
membuat mata saya berkaca-kaca. Bagian ini menceritakan tentang kesetiaan
seorang istri yang ditinggalkan selama bertahun-tahun mengurus keempat anaknya.
Istri yang ditinggalkan seorang diri sementara si suami hidup mewah bergelimang
harta dan rumah mewah bersama perempuan lain yang lebih muda, lebih segar dari
dirinya. Seorang istri yang masih mendatangi suaminya di saat tersulit,
menunggui proses peradilan, mengunjungi sewaktu suaminya di tahan menunggu
putusan hakim.
“Untuk apa engkau datang kemari? Hanya hendak
memperlihatkan bahwa engkau yang benar?” kataku pelan. Sebenarnya aku tak
berani memandangnya.
“Bukankah engkau suamiku?”
“Suamimu yang baik dahulu telah lama mati.”
“Siapa ada di sampingku saat ini?”
“Dia adalah koruptor yang menunggu putusan
hakim.”
“Ya. Dia adalah koruptor yang menunggu putusan
hakim.”
“Jadi engkau mengerti.”
“Ya.”
“Apakah engkau datang untuk menggugat aku?”
Ia menggeleng.
“Engkau,” katanya, “bagaimanapun juga
adalah suamiku. Biarlah aku dan anak-anakmu tak engkau ajak bersenang, tetapi
di dalam duka ini engkau tetap suamiku. Engkau tetap ayah dari
anak-anakmu.”
Setelah bagian itu, Bakir menyesali perbuatannya. Tapi
bagaimanapun, ia sadar harus tetap bertanggungjawab atas apa yang telah
diperbuatnya.
Sebenarnya masih ada beberapa tokoh menarik yang
sengaja tidak saya ceritakan. Selebihnya silakan baca sendiri. Tabik.
___

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Moh. Imron

Lahir: Menjadi Seorang Ayah

Apacapa Madura Totor

Sètan Nandhâng

Buku Resensi Ulas

Resensi: The Murder At Shijinso

Buku Junaedi Resensi Ulas

Merekonstruksi Ulang Ketidakadilan Spasial dan Politik Kewargaan Desa

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Situbondo Dik, Patennang!

Apacapa Indra Nasution

Pengaduan Orang-Orang Pinggiran

Cerpen

Menjelang Perayaan

Puisi Uwan Urwan

Kita Telah Mati

Apacapa Nanik Puji Astutik

Lelaki yang Kukenal itu tidak Punya Nama

Buku Feminis Mochamad Nasrullah Ulas

Resensi: Kesegaran (Perjuangan) Wanita dalam Menanam Gamang

Apacapa Denny Ardiansyah

Menjelajah Selawat Nariyah di Situbondo

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Sastra Vs Game : Dinamika Peradaban

Advertorial

Perkembangan Tipe-tipe Kamar Mandi

Aris Setiyanto Puisi

Puisi: Pendaki

Cerpen Kakanda Redi

Cerpen: Ular-Ular yang Bersarang dalam Kepala

Buku Muhammad Rizal Resensi Ulas

Resensi: Tentang Jalan Lurus dan Sungai yang Mengalir

Irham Fajar Alifi Puisi

Puisi-puisi Irham Fajar Alifi: Layu Kelopak Kamboja

Apacapa

Tarawih: Pakai Sarung tanpa Celana Dalam

Apacapa Mbak Una

Selamat Hari Buku Nasional

Apacapa

Iran-Israel: Perebutan Kekuasaan dan Solidaritas dalam Perspektif Ashabiyah Ibn Khaldun