Menjelang Perayaan

Musim-musim di negara utara menurunkan kristal-kristal kecil yang menggumpal menjadi salju. Menjelang Desember warga setempat memiliki kebiasaan berkumpul dan para wanita saling bekerjasama untuk menyajikan hidangan lezat yang dibagikan kepada anak-anak, semua orang termasuk bagi yang tidak berkewajiban merayakannya juga turut memeriahkan. Selain karena keseruan pertunjukkan Barongsai dan Liong para tamu juga akan diberikan angpao dan kue-kue lezat. Anak-anak tanpa diundang datang dengan sendirinya dan diterima dengan riang gembira. Meskipun salju turun dengan deras bahkan badai menerjang kota, orang-orang tetap bersemangat merayakan hari paling dinanti-nanti itu.

Mei, dan keluarganya mulai merias rumah, memasang lampu-lampu, bunga, dan kain-kain merah tentunya ditambah pernak-pernik di setiap ujung kain dan lampu. Dari arah belakang, ibu dan Liang di dapur membuat makanan untuk dihidang ke para tamu dan anak-anak. Permen-permen yang mereka hasilkan diolah dengan sangat baik tanpa adanya pemanis buatan atau pewarna. Keluarga Mei memang terkenal ahli dalam memasak, terutama makanan ringan. Banyak yang menyarankan pada mereka untuk berbisnis kue, tetapi keluarga Mei bukan berasal dari pedagang dan ayahnya adalah seorang kontraktor yang telah banyak membangun jalan di sepanjang Kota Taiki.

Ibu Mei sebelum menikah, ia adalah lulusan teknik Kimia dari kampus ternama di Tokyo. Sempat bekerja pada perusahaan minyak dan sempat memiliki jabatan walau hanya selama delapan bulan. Hal tersebut karena, Ibu Mei harus fokus menjaga kesehatan ayahnya yang mengidap stroke berat sehingga tidak lama kemudian menghembuskan nafas terkahir di awal musim panas. Ibu Mei merasakan kehilangan berat karena hanya ayah satu-satunya orang yang berjuang untuk dirinya dan adik-adiknya hingga mampu bersekolah tinggi. Ditinggal ibu karena kecelakaan saat berdagang membuat Ibu Mei memiliki trauma untuk berada di keramaian. Hal itu sempat membuatnya tidak berkeinginan untuk sekolah. Namun, sang ayah tetap menyemengati demi masa depan Ibu Mei. Di sela-sela keheningan di pemakaman, seorang pria menyapa Ibu Mei, pria itulah yang kini menjadi ayah Mei yang merupakan kepercayaan ayah Ibu Mei untuk menggantikannya agar dapat menjaga putrinya.

Saat memandangi suasana luar rumah, Ibu Mei terdiam bersandar di atas tempat tidur yang tidak jauh dari jendela kamarnya. Ayah datang lalu menyapanya.

“Apa yang sedang ada dipikiranmu sayang?” Tanyanya sambil memulas pundak istrinya.

“Tidak ada, pemandangan di luar sana begitu indah ya.”

“Apakah kita harus berlibur untuk perayaan kali ini?”

“Tidak perlu, jika kamu sedang banyak kerjaan. Itu lebih penting.”

“Bagiku yang lebih penting adalah keluarga. Lagipula Mei katanya ingin berlibur juga sekalian untuk anak-anak yang lain.”

“Coba kamu pikirkan lagi. Bagaimanapun aku siap menerima.”

Di waktu yang berbeda, Mei sedang berbincang dengan Liang.

“Kapan ya kita sekali-kali jalan-jalan keluar untuk menyambut musim indah ini, Liang? Aku ingin juga ke mana-mana.” Mei memulai pembicaraan sambil mengkukus bakpao yang telah dibentuk.

“Kau ingin jalan-jalan?”

“Iya benar aku ingin jalan-jalan, Liang. Kau mengerti betapa aku senang dengan suasana ramai di luar sana. Apalagi aku baru saja mengeluarkan tabunganku selama bertahun-tahun untuk membeli handphone ini.” Jawabnya sambil menunjukkannya.

“Kalau begitu, tanyakan saja pada ayah. Mana tahu ayah menyetujui saranmu untuk merayakannya di luar negeri. Kudengar, daerah Soriosa ada dibuka wahana baru, di bukit Pavilion ada kereta gantung atau donggola gitu. Teman-teman sekolah pada menghabiskan waktu di sana. Kita juga bisa meningap di vila.”

“Wah ide bagus itu, Kurasa waktu yang tepat saat makan malam nanti. Bagaimana menurutmu?”

“Iya itu ide bagus.”

Liang kembali membentuk  kue-kue itu dan membawanya ke dalam oven, sedangkan Mei izin ke toilet untuk bersiap-siap menyambut tamu. Semua hidangan telah selesai dan seluruh keluarga Mei terlihat sudah ada di teras depan menunggu sanak saudara berkunjung.

Makan malampun tiba, Mei sedikit ragu dan takut mengatakan keinginannya kepada ayah. Ia akan menunggu suasana sedikit sepi agar tidak ada yang memotong diskusi liburan ke mana nanti. Lebih dari empat jam Mei menunggu, makanan sudah habis dan jam menunjukkan pukul satu malam. Namun, ayah seperti tahun-tahun sebelumnya tidak akan tidur sampai tengah malam. Malam perayaan ini tidak boleh disia-siakan dengan tidur-tiduran saja. Bulan dan bintang akan bersinar terang. Lalu, jika mendung langit tanpa terang bulan dan bintang bagaimana? Ayah akan tetap berada di luar dengan jaket tebal dan syalnya untuk melihat angin disertai salju yang turun beriringan dengan orang-orang saat melintas di jalan raya. Jika bosan duduk, ia akan berjalan-jalan atau berkeliling. Sendiri, tanpa ada seorangpun di sekitarnya. Ia suka menyendiri, dan baiknya kota ini sangat aman dari kriminalitas.

Saat ayah duduk di depan, Mei datang menemuinya. Secangkir kopi terhidang di atas meja tempat ayah duduk. Mei sedikit tertatih untuk menemui ayah membahas rencananya. Tetapi, jika tidak ia sampaikan rasanya ada yang mengganjal di hati.

“Ayah….” Panggil Mei dari balik pintu.

“Oh Mei, putriku sedang apa kau di situ.  Bukankah kamu Sudah tidur?” Kopi baru setengguk yang diminum ayah, kehadiran Mei membuat pria tua itu segera menoleh merespon Mei dengan sedikit terlihat malu.

“Belum ayah ada yang ingin saya bicarakan. Boleh?”

“Boleh sayang.”

Namun, Mei masih tetapi berdiri di balik pintu. Ia enggan langsung bertemu dengan sang ayah karena pria itu walau wajahnya kaku tapi ia penyayang dan selalu memikirkan kebahagiaan keluarga. Bagi Mei, ayah adalah sosok luar biasa dan guru. Mengapa, karena ia adalah pejuang sekaligus yang menjadi teladan terutama bagi anak perempuan sepertinya. Karena setiap  kejadian di keluarga ini akan menjadi tanggungjawabnya.

Ayah memandangi wajah Mei yang masih berdiri di balik pintu.

“Mengapa tidak sini duduk di samping ayah.”

Mei tanpa menjawab pertanyaan ayahnya langsung menuju ke meja bundar itu dan duduk menghadap sang ayah.

“Emmmm apakah menurut ayah, jika kita keluar menikmati liburan akankah seru? Sebab, Mei pikir bosan juga di sini terus tiap tahun.”

“Emmm tidak buruk namun juga kurang baik menurutku.”

“Mengapa ayah? Kita  bisa liburan ke negara tetangga aja ayah. Kan di sana musim tidak sama dengan kita.” Jawab Mei sambil menunjukkan wajah kesal.

“Hahahahaha jangan marah sayang. Bagaimana di hari kedua saja atau lusa. Tidak baik, jika kita tidak merayakannya di sini. Setidaknya kita dapat sehari untuk bersama kerabat. Jadi saat pergi kita bertemu mereka mungkin sambil membahas tentang kelanjutan sekolahmu kebetulan ada Mister John di sini guru yang ayah ceritakan itu.”

“Iya ayah enggak apa-apa, Mei paham.”

Mei akan merasa dirinya sangat terlalu berani dan egois jika memaksakan sang ayah menuruti permintaanya. Karena ia juga memiliki saudara-saudara. Akhirnya, ia masuk ke kamar dan membiarkan tubuhnya terbenam dalam selimut lembut dengan aroma parfum pewangi casablanca.  Jikapun memang ayah belum bisa memenuhi keinginannya untuk berlibur ia juga tidak masalah. Masih banyak waktu lain untuk berwisata.

Penulis

  • Damay Ar-Rahman

    Damay Ar-Rahman atau Damayanti seorang penulis dan pengajar di sekolah menengah atas pada pelajaran Bahasa dan Sastra.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen M Firdaus Rahmatullah

Cerpen: Sebelum Kau Terjun Malam Itu

Alifa Faradis Cerpen

Cerpen: Perempuan Penjaga Senja

Ahmad Zaidi Apacapa Esai

Selamat Hari (Tidak) Jadi Kabupaten Situbondo

Apacapa

Realitas Paliatif, Situbondo, dan Kota yang Sangat Sederhana

Alifa Faradis Cerpen

Cerpen: Kirana

Puisi

Luka Perempuan dan Puisi Lainnya

Apacapa Catatan Perjalanan

Diorama Pasar Mimbaan

Apacapa Nanik Puji Astutik Prosa Mini

Surat Cinta untuk Anakku Kelak

Cerpen

Sepasang Kekasih yang Berpisah Karena Hujan

Anwarfi Puisi Saiful Bahri

Puisi-puisi Saiful Bahri: Tubuh Ramadan

Alex Cerpen

Cerpen: Dia Bukan Gatot Kaca

Apacapa Sholikhin Mubarok

Islam Nusantara Adalah Representasi Islam Universal

Apacapa Baiq Cynthia Wisata Situbondo

Panasnya Kota Situbondo dan Kerinduan Pangeran Kesepian

Uncategorized

Mohon Maaf Jika Tulisan Ini Tidak Terlihat

Agus Hiplunudin Apacapa Esai Feminis

Rumah, Sumber Penderitaan Bagi Perempuan?

Cerpen Moh. Jamalul Muttaqin

Cerpen: Tentang Pelangi

Cerpen Ramli Lahaping

Cerpen: Pelet Sodik

M. Suhdi Rasid Mored Moret

Puisi Mored: Ibu dan Puisi Lainnya

Resensi

Pelayaran Terakhir: Menyusuri Kehilangan dan Pergolakan Batin dalam Cerpen Anggit Rizkianto

Buku Indra Nasution Ulas

Antonio Gramci: Negara dan Hegemoni