Bermain-main di Sawah dan Puisi Lainnya Karya Supali Kasim

Menangisi Dewi Sri

dulu, dulu sekali, kata nenek
bidadari Dewi Sri tertusuk ketam
tumbuhlah sebatang tanaman
air mata menyiram
dan aku pun bisa makan nasi
dongeng antarkan tidur jadi mimpi
bertemu Dewi Sri
di sudut pematang menangisi diri

semesta tumbuhkan juga orang-orang
tak hanya tanaman padi
miliaran kepala bersama mulutnya
setiap hari menganga
sesuap demi sesuap dari Dewi sri
meski dengan air mata sedih

melihatnya, aku ikut sedih tapi bertanya
pada saat menjelang tidur
kini, kini sekali, kata nenek
bekerja keraslah Dewi Sri
tumbuhkan dirinya di lahan lain, pulau lain
tanah gambut, batuan cadas dan kering
menyuapi miliaran mulut menganga

mereka tak kenal padi awalnya
sagu, gandum, jagung telah terbiasa
angin lalu menggiringnya
di sudut pematang itu
aku menangis tersedu

2026

Ia Telah Datang

“ia telah datang.”
seperti tank baja divisi perang
potong, rontokkan, bersihkan
sudutkan aku
ke tepi paling haru

“komben, komben, engkau telah datang.”
melanglang terik siang
raung suara, getar di dada
seperti memotong langkahku
menuju taman-tamanku
rontokkan tiga bulan impian
malam-malam mencekam
bagai tahanan perang
aku terlucuti, tak bisa lagi mengerang

setelah traktor-traktor itu membajak
separuh jiwaku
combain harvester memetik dan memanen
separuhnya lagi
“dan ia telah lama datang.”
kini aku hanya lunglai
tak tersisa, ke mana lagi mencari nafkah
mesin telah berkawan sawah-sawah

2026

*keterangan:
combain harvester: mesin pemanen padi di sawah
komben: sebutan orang desa untuk combain harvester

Bermain-main di Sawah

akan kuulangi masa kecil bermain-main
di sawah musim kemarau
tanah retak-retak
jangkrik sembunyi
terbang layang-layang
angan-angan melambung ke negeri entah
hingga terjatuh di sini, tanah Arabia
hanya gurun gersang
jiwa retak-retak
terusir dari sawah sendiri
tergadai dan tersembunyi
uang pun terbang
maka akan kuulangi kini bermain-main
anggap bermain-main
merekatkan jiwa yang retak-retak
menyemai keringat di sini
betapa real harus segera dirupiahkan
merebut sawah kembali
untuk kuulangi lagi masa kecil
memburu jangkrik
dan terbangkan layang-layang
bagi anak-anak yang berlahiran

2026

Separuh Dunia

rumah warisan, kebun warisan
sawah warisan
hidup berkecukupan
betapa orang tua tinggalkan
bagai separuh dunia, seusai mereka
menggapainya dengan sulit, dengan sakit

betapa sulitnya mewarisi jiwanya
sakit mereka tak terasa. Hanya harta
warisan benda
tanpa ruh merasuk raga

dunia benda kini, mengantarku pergi
berpuas kebendaan lagi. Tak ada lagi
yang disesalkan
saat kebun dan sawah tergadaikan
sebelum terlepaskan

dan rumah, satu-satunya
–ingatan kembali pada orang tua–
bukan lagi tempat mewariskan jiwa
seperti ambruk separuh dunia
separuhnya lagi
entah aku bagaimana lagi

2026   

Penulis

  • Supali Kasim

    Supali Kasim, tinggal di Indramayu Jawa Barat. Menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah Jawa dialek Indramayu. Pernah menjadi Ketua DKI (Dewan Kesenian Indramayu) 2001-2003. Mendapatkan Hadiah Sastra Rancage (2021) dan Anugerah Seni dan Budaya dari Bupati Indramayu kategori Bahasa (2022) dan Sejarah (2025). Beberapa puisinya pernah di muat di media massa cetak, daring, maupun antologi bersama. Buku puisi tunggalnya, Bergegas ke Titik Nol (2008), Pergi ke Masa Silam Pulang ke Masa Depan (2023). Bisa disapa lewat Fb. Supali Kasim, email supalikasim123@gmail.com


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa fulitik

Talkshow Internasional: Mas Rio Undang Dubes RI, Buka Peluang Anak Muda Situbondo Kuliah di Luar Negeri

Buku Toni Al-Munawwar Ulas

Ulas Buku : Renungan Tasawuf

Ahmad Zaidi Cerpen

Randu Agung

Agus Hiplunudin Apacapa Esai

Merajut Kembali Keindonesiaan Kita Melalui Gotong Royong di Era Millennials

Ienna katanny Prosa Mini

Sebuah Pilihan

Apacapa hans

Son Heung-min, Sang Kapten Drakor yang Menenggelamkan Manchester United

Alexong Cerpen Hana Yuki Tassha Aira

Cerpen: Waktu yang Pecah di Balik Pintu

Buku Junaedi Resensi Ulas

Resensi: Passion Seorang Ganjar yang Gayeng Dalam Membangun Jawa Tengah

Apacapa Imam Sofyan

Mudik Sastra

Apacapa Imam Sofyan

Pengghir Sereng: Wisata Rumah Pintar Pemilu di Situbondo

M Firdaus Rahmatullah Mored Moret Puisi

Gunung Ringgit dan Puisi Lainnya

Buku Fatoni Prabowo Habibi Ulas

Review Buku Reinventing : Merawat Energi, Menatap Masa Depan

Opini

Antara Olahraga dan FOMO

ebook

ebook: Lorong Derita

Agus Hiplunudin Buku Ulas

Politik Agraria Petani Vs Negara dan Neoliberalisme

Aris Setiyanto Puisi

Puisi: Pendaki

Resensi

Koloni: Fabel Sosial Ratih Kumala yang Menjepit Realitas Manusia

Puisi Saifir Rohman

Puisi : Tikungan Berdebu Karya Ayif Saifir R.

Apacapa

Kicau PBB: Jebakan Paranoid Ala Riski

Cerbung Ipul Lestari

Cerbung : Raisha Karya Ipul Lestari