Merengkuh Bahagia di Bulan Maulid

Oleh:
Rahman Kamal*
Tidak
terasa ya, Dik, bulan maulid telah tiba. Pasar buah mulai ramai sejak minggu
kemarin. Dijejali ibu-ibu yang bejibun datang berbelanja buah untuk acara
maulid. Ada yang membeli setandan pisang, sebungkus apel, salak sekilo, anggur
setengah kilo (karena mahal hehe) dan buah-buahan lainnya laris manis diborong
ibu-ibu.
Tapi
namanya juga ibu-ibu, Dik. Proses tawar-menawar mereka sungguh di luar nalar dan
bikin pusing bakul buah menyiasatinya. Tersenggol sedikit batas harga yang
mereka pasang, maka ibu-ibu segera balik badan pura-pura tidak jadi beli. Aku
yang memanfaatkan momen maulid ini untuk berjualan buah tentu bingung, Dik.
Dilepas sayang, dibiarin jadinya gak laku. Cukup kamu saja yang ku lepas ke
pelukan lelaki lain (bohooong), pelanggan ibu-ibu itu jangan. Hehe
Toko
baju di dalam pasar juga mulai ramai sejak minggu ini, Dik. Ada bapak-bapak dan
ibu-ibu yang berbondong-bondong membeli sarung dan baju koko untuk dipakai ke
masjid di hari maulid. Berbahagialah para palapak baju di pasar Situbondo
mendapati serbuan musiman dari ibu-ibu dan bapak-bapak ini, Dik.
Maulid
adalah berkah, karena pada momen ini junjungan kita dilahirkan. Kadang aku
sering ditanya, kenapa yang diperingati adalah hari kelahiran, bukan hari wafat
seperti kebanyakan orang besar lain yang momen wafatnya dijadikan tanggal merah
di penanggalan mereka.
Sekli
lagi, maulid itu berkah, Dik. Berkah karena pada momen ini orang-orang bersuka
cita, berbahagia saling berbagi. Lantas kamu kapan mau berbagi sebongkah
perasaan menyambung rasa ku yang sudah tersirat bergitu terang ini?
Dik,  dari bulan maulid aku juga bisa tau banyak
hal. Pertama adalah kebiasaan ibu-ibu yang sering memborong buah menjelang
maulid, ya memborong buah muda menjelang maulid ketika harganya masih berada di
harga standart. Lantas diokep agar
matang dan layak dibawa ke acara maulidan.
Hal
selanjutnya yang aku ketahui, Dik. Banyak orang yang terlahir setiap hari,
banyak pula yang pergi mendahului kita setiap harinya. Di bulan maulid ini pun
banyak sanak saudaraku yang diberi kebahagiaan dengan lengkapnya bahtera rumah
tangga mereka dengan kehadiran buah hati kecil pucuk kasih sayang mereka.
Sedangkan
aku? Mungkin lebih baik kau tanyakan jawabanmu atas ungkapan kasih sayangku
dari semua tulisan yang pernah aku tuliskan untukmu. Ya. Untukmu!
Karena
kebahagiaan mereka, bayi-bayi yang terlahir di bulan maulid ini biasa diberi
nama Maulida jika perempuan dan diberi nama Maulidi jika laki-laki. Aku tau hal
ini bukan karena aku melakukan penelitian, tapi karena aku memperhatikan namanu
yang diawali dengan Maulida, kemudian dilanjutkan Rahmatul dan diakhiri dengan
Ilmi. Sebuah nama indah yang diberikan kepada seorang wanita yang dilahirkan di
bulan maulid. Berbeda denganku yang diberi nama seadanya karena dilahirkan di
bulan takepe’.
Dik,
hari ini hari maulid. Sejak semalam sudah banyak speaker masjid yang menyuarakan seruan untuk segera menuju masjid
untuk menghadiri acara maulidan. Di alun-alun situbondo juga ada acara serupa
yang dimulai dengan arak-arakan Ancak Agung.
Sejak
semalam, terhitung sudah 2 masjid yang kudatangi untuk ikut acara maulidan dan
saling bertukar buah dan penganan yang dibawa ke acara itu. Tapi dik, ada satu
lagi masjid yang  akan aku datangi.
Masjid yang letaknya ada di dekat rumahmu. Karena aku tau seorang wanita
bukanlah hal lumrah mengikuti acara maulidan, maka aku hanya ingin bersua
denganmu. Walau diwakilkan oleh buah yang dibawa oleh ayah atau adikmu ke acara
maulid itu.
Dik,
mari berbahagia. Ini bulan maulid. Bulan kelahiran junjungan kita semua yang
beragama Islam. Hari dimana sang panutan sejati tersebut lahir dan diturunkan
ke muka bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Mari
berbahagia. Mari, Dik.
————————————-
*)
penulis merupakan blogger. Suka memotret kenangan.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Puisi Madura

Puisi Madura: Pètto Bellâs

Apacapa Moh. Imron

Analisis dan Lirik Lagu Kala Benyak: Waktu yang Tepat untuk Bersedih

Apacapa apokpak N. Fata

Ketika Elit Oligarki Berkuasa, Kemerdekaan Bukan Lagi Milik Kita

Apacapa Imam Sofyan

Rajekwesi Suatu Magrib

Fahrus Refendi Puisi Puisi Madura

Puisi Madura: Sanja’

Buku Thomas Utomo Ulas

Teka-Teki Tenis, Sosok Misterius, dan Cinta Berlarat

Puisi Tjahjaning Afraah Hasan S. A.

Puisi: Harap 25 Sumsum

Agus Hiplunudin Apacapa Esai

Suku Jawa Menjadi Kunci Kemenangan Politik pada Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019

Apacapa

Kubangan dan Jalan Pulang

Puisi Syukron MS

Puisi: Malam Minggu

Puisi

Remuk Redam dan Puisi Lainnya

Apacapa Opini

Bagaimana Jika Situbondo Menjadi Kota yang Ramah Bahasa Indonesia?

Banang Merah Cerpen

Cerpen : Euforia Seorang Pelancong Karya Banang Merah

Puisi

Klandestin dan Puisi Lainnya

Cerpen Yuditeha

Cerpen: Berhenti Bekerja

Cerpen Moh. Jamalul Muttaqin

Cerpen: Pelangi

Ahmad Zaidi Apacapa

Kepala Dusun Langai yang Peduli

Puisi

Mereka Berbicara Tentang Tuhan

fulitik

Jalan Santai Bareng Mas Rio Dongkrak Penjualan Pelaku UMKM

Apacapa Esai Halimah Nur Fadhilah

Kemajuan Teknologi Dalam Dunia Pendidikan