Pendulum Rindu dan Puisi Lainnya Karya Agus Hiplunudin

ie-wallpapers.com

Puisi Agus Hiplunudin
Dengki
Setelah hari kiamat
Manusia digolongkan menjadi dua
Golongan pertama kaum pendosa
mereka bermuka keruh dan dihalau ke dalam neraka
Golongan kedua kaum shaleh
mereka bermuka jernih berseri-seri digiring ke dalam surga
Tuhan tersenyum di atas singgasananya
Melihat hamba-hambanya dalam surga
Hidup berkecukupan dan berbahagia
Tiada dengki tiada kebencian yang bersarang dalam hati mereka
Yang tersisa hanya rasa sukur pada Tuhannya
Tuhan mengunjungi neraka
Melihat hamba-hamba-Nya yang terpanggang api siksa
Namun, tiada keluh dan aduh kesakitan yang menyeruak dari suara mereka
Melainkan puji-pujian syukur pada Tuhannya
Tiada dengki tiada kebencian yang bersarang dalam hati mereka
Dan itu membuat api neraka tak lagi berbuah derita pada para penghuninya
Ah, jika saja setiap manusia sewaktu hidup di dunia
Tiada rasa dengki dan kebencian yang bersarang dalam hatinya
Tentunya hidup akan damai saling cinta
Tiada dendam tiada pertikaian
Tiada perang tiada pembunuhan
Yogyakarta, 19 Oktober 2015
Pendulum Rindu
/
Paling tidak
Pada suatu hari kelak
Engkau tak lagi mampu mengelak
Bahwa aku pernah hadir dalam hatimu yang bersinar bagai perak
//
Suatu hari nanti
Engkau akan mencari
Sesuatu yang telah hilang dari sanubari
Dan yang hilang itu adalah aku yang tersimpul dalam cinta sejati
///
Bila
Suatu masa
Engkau merasa
Dalam renungan cinta
Bahwa tak ada yang lain yang bertahta
Dan yang bertahta itu adalah aku yang tinggal kenang dalam rasa
Perlahan engkau pasti akan mengenang
Saat cinta kita sandang
Semua hanya kenang
Telah hilang
Hilang
Yogyakarta 9 September 2014
Seni
Seni itu ekspresi jiwa
Dalam seni bersemayam estetika
Dalam seni berumah etika
Wajah seni, wajah yang berisi keindahan
Perilaku seni, perilaku yang berisi sopan-santun
Bila hidup diekspresikan dengan cara seni
Maka antara kita tiada saling benci tiada saling kelahi
Jika seni menguasai jiwa
Maka yang hadir hanya cinta
Melalui seni, engkau dapat merenungi kekuasaan Tuhan
Melalui seni, engkau dapat merenungi makna kehidupan
Melalui seni, pergolakan batin engkau dapat terdamaikan
Yogyakarta, 19 Oktober 2015
Tanah Asalku
Di tanah asalku
Tempat tumpah darahku
Tempat ragaku ditanam
Lalu berkecambah
Melahirkan tanaman muda merekah
Oh, betapa malang melintangnya aku
Di tanah asalku sendiri
Tubuhku tiada mengakar
Kakiku tiada berpijak
Aku tercerabut dari tanah asalku
Di tanah asalku
Kecambah yang kutanam tak lagi hidup
Dijejali biji-bijian yang terbuat dari julangan tembok
Dirindangi daun-daun cerobong asap yang mengudara mengotori langit
Aku keluhkan betapa aku dan kecambahku
Lunglai menjadi tanaman layu
Nyaris mati
Di tanah asalku
Tak lagi ada diriku
Yogyakarta, 20 Oktober 2015
Biodata Penulis

Agus Hiplunudin adalah sastrawan yang terlahir dari alam, kumcernya yang terbaru “Diary of Love”.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Lailatul Fajriah

Maafkan Bunda, Kaka

Puisi Syukur Budiharjo

Puisi: Sajak Kenangan Kota Tua

Muhaimin Prosa Mini

Tahun Baru? Why Not?

Cerpen Fahrul Rozi

Cerpen: Nyonya Angel

Apacapa Setiya Eka Puspitasari

Potret Kemiskinan Di Balik Gemerlap Ibu kota

Nuriman N. Bayan Puisi

Puisi – Januari yang Yatim Februari yang Piatu

Buku Syukron MS Ulas

Resensi: Novel Warisan

Cerpen Wilda Zakiyah

Cerpen: Siklus Selotirto

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Literasi Bergerak di Taman Siwalan

Cerpen Rahman Kamal

Cerpen : Tukang Sarang

Cerpen Mathan

Cerpen: Aku Tahu Kau Masih Ingin Hidup Lebih Lama Lagi

Puisi Zulhan Nurhathif

Puisi-puisi Zulhan Nurhathif: Tentang Saat Ini

ana Hanisah Buku Resensi Ulas

Ulas Buku: Malam Seribu Jahanam

Cerpen Moh. Jamalul Muttaqin

Cerpen: Pelangi

Nuriman N. Bayan Puisi

Mata Darah dan Puisi Lainnya Karya Nuriman N. Bayan

Cerpen Muhtadi ZL

Cerpen: Perempuan yang Suka Melihat Hujan

Apacapa Imam Sofyan

Melihat Masa Depan Situbondo dari Lomba Flashmob Panarukan

Apacapa Ipul Lestari

Memeluk Bayangmu di 1250 MDPL

Apacapa Moh. Imron

Bolatik: Menyimak tim Preman Pensiun di Selowogo

Resensi Shendy Faesa Widiastuti

Resensi: Malioboro at Midnight