Avatar admin

Tentang Penulis

  • Ikhlas Ngajhâr

    Oleh: Dhafir Abdullah Adu bapak ibu guru Ngajhâr muret pa ikhlas ongghu Sabbhâr ngastètè dâlâm adhâbu Allah ta’ala pas e parabu  Niat bhâgus pas pasamporna Allah settong tojjhuânna Patengghi ongghu aghâmana Dunnya akherat mandhâr e tarema’a Ngajhâr murèt palaten ongghu Bueng rassa ru kabhuru Pa pèntèr anak sè ghi’ bhudhu Adidik muret nambei èlmu Akhlak samporna dâri nabina…

  • Wisata Perang: Gagasan Brilian Sang Bupati

    Oleh: Imam Sufyan  Baru-baru ini tersiar kabar bahwa Bupati Situbondo mengusulkan agar Kabupaten Situbondo memiliki wisata perang. Sebagaimana berita yang saya bagikan di dinding facebook beberapa hari lalu. Wacana itu kemudian ditanggapi oleh netizen dengan berbagai komentar. Mayoritas menanggapi dengan nada negatif dan itu hal yang biasa di era keterbukaan ini. Mengenai ide dan gagasan…

  • Cerpen: Pulang

    Oleh: Moh. Jamalul Muttaqin “Ketika aku pulang, aku akan memberimu kabar, Sayang!” Dia bilang kepada tunangannya, Mila, sebelum kembali ke pondoknya. Sebelun mentari terbenam ke ufuk barat. Sebelum burung-burung kembali ke sarangnya. Sepanjang perjalanan dia ingat yang dikatakan Mila, “Kamu harus pulang!” Suara itu menghantui pikirannya. Seakan-akan dia tak mau kembali ke pondoknya, dia terlalu…

  • Puisi: Merakit Tidur

    Puisi-puisi T. Rahman Al Habsyi Kepada Sumur Tua musim kemarau dari putih warna rambut di kepala luka-luka itu menganga air menyusur di udara kau lupa menitip rindu kepada angsa yang berenang-berenang lalu tenggelam tertanam sebuah nama pada hamparan do’a Singaraja, 2019 Menuai Rindu /1/ kau menuai rindu pagi ini aku biarkan saja sebab seluruhnya tumbuh…

  • Cerpen: Perempuan yang Suka Melihat Hujan

    Oleh: Muhtadi ZL Perempuan itu duduk termangu di beranda rumah. Meramu kenangan pahit di masa silam. Dulu, terlalu banyak tangan-tangan hitam yang menjamah tubuhnya, sampai ia tak mampu menarik senyum di bibir ranumnya, hatinya perih, matanya pedih. Ingin sekali ia melebur ke dalam hujan di sore itu, agar suaminya tidak tahu kalau matanya mengembun. Gemericik…

  • Biola dalam Kenangan

    Oleh: Wilda Zakiyah Saat pagi mengintip di celah mata yang terbuka, saya mendengar suara biola dimainkan dari arah matahari terbenam, bunyinya seperti kepak burung camar, gemericik air dan suara matahari menggerat subuh. Harusnya saya tidak sepuitis itu, semua mengalir begitu saja saat mendengarkan alunan senar yang digesek itu. Saya suka alat musik, pernah beberapa kali…

  • Muharrom sè Moljâ

    Oleh: DhafirAbdullah* Malem samangkèn dhisa –dhisa rammi Acara pawai dâri santrè ngajhi è masjid bân langgher bennya’ orèng ngajhi Anak yatim dhuafa è santuni Tahun baru Islam kodhu è parajâ sabâb muharrom bulân sè muljâ A ghendhu’ peristiwa sè raje Wâjib ètafakkuri muslim sadhâjâ Bulân nèka Allah nyipta langgi’ bân bhumi Rahmatta Allah toron pertama…

  • Dik, Mengapa Kau Tak Mau Menemaniku ke Kampung Langai Malam Itu?

    Oleh: Rahman Kamal* Dik, entah kenapa kamu tiba tiba menolak ajakanku pergi ke Kampung Langai malam itu. Dengan berat hati akupun melangkahkan kaki. Perlahan tapi pasti, aku tetap meninggalkan jejak. Menyimpan harap engkau datang menyusul sehabis menemukan jejak perjalananku menuju Langai malam itu. Dik, Langai begitu dingin malam itu. Andai kau tahu betapa dinginnya suasana…

  • Kampung Langai, Dik: Apa Kamu Gak Mau Nonton?

    Oleh: Redaksi Langai 1 | 7-8 November 2014 Kita berdua duduk di paling utara, dik. Beralaskan sandal masing-masing. Kita menyimak penampilan di sana. Dengan latar gedung Rumah Baca Damar Aksara, bertuliskan Kampung Langai, berwarna hitam. Kita juga menikmati jajanan buatan warga. Sembari disuapin olehmu, dik. Langai 2 | 6-7 November 2015 Di langai dua ini…

  • Cerpen: Perempuan Bayang

    Oleh: Ulfa Maulana “Maaf, Pa. Lea nggak sengaja.” Lelaki bertubuh kekar itu tidak peduli. Disiramkannya kopi panas pada tubuhku yang hanya memakai kaos pendek. Aku berjengit menahan tangis. Bahkan luka bekas pukulan papa kemarin belum kering. Perih rasanya. Aku yakin besok kulitku akan melepuh. Jangan menangis, Lea. Tangisanmu mengundang badai yang lebih besar. *** Baiklah.…