Avatar admin

Tentang Penulis

  • Cerpen: Gerimis Kedua

    image: sanket mahapatra Oleh: Wilda Zakiyah “Tidak ada yang mengenal gerimis, Lia. Jangan memaksa untuk berkenalan. Sebab gerimis dan hujan, sama saja.” *** Di sebuah kedai kopi  pinggir jalan, gadis kecil sekitar usia sembilan tahun duduk memunggungi jalanan. Rambut yang dikucir kuda dan hanya menyisakan poni yang bergoyang ditiup angin, gadis itu menyapu pandangannya ke…

  • Laut Memanggil, Dik. Sudahkah Kau Menjawabnya?

    Oleh: Rahman Kamal* Dik, kamu pasti tahu kalau negara kita itu terdiri dari 70 persen lautan dan hanya 30 persen daratan. Negara kita juga terdiri dari ribuan pulau dan beragam suku serta budaya yang tersebar luas dari Sabang sampai Merauke. Mereka bersatu padu di bawah bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tapi, kenapa kita tidak bisa…

  • Jika Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan*

    Oleh: Marlutfi Yoandinas  Jurnalisme selalu identik dengan profesi wartawan. Bahkan ada yang menyebut wartawan ialah orang yang hidup dan bernapas dari bahasa. Profesinya menuntut mereka agar selalu berkecimpung dan berkreasi dalam bahasa. Mulai dari penggodokan konsep di meja redaksi hingga proses wawancara dan reportase, lalu menyusunnya menjadi satu karya jurnalistik berupa berita. Namun, sejak menjamurnya…

  • Cerpen : Bunga Mawar Merah Berduri

    Oleh: Rahman Kamal Malam sudah larut, tapi warga Desa Belimbing masih tampak ramai di pekarangan rumah Pak Kades. Hampir seluruh warga desa ikut membantu kesibukan di rumah Pak Kades. Seminggu sebelum hari pernikahan, orang-orang sudah berbondong datang mengucapkan selamat. Ada yang membantu di dapur, membantu mengaduk dodol, atau sekadar berjaga di malam hari. “Acara ini…

  • Puisi: Telanjang Pudar Karya Erliyana Muhsi

    Puisi-Puisi Erliyana Muhsi Telanjang Pudar Pada barisan trotoar berlampu Kaki tanpa alas tertatih Berdarah-darah Mengosongkan ilusi dan mimpi-mimpi Tak ada layak pada tubuhnya Tapi awas, Jangan sampai buruk sangka pada akalnya Manusia memanusiakan manusia Terdengar seperti itu memang jargonnya Hidung saja tak selamanya sepi Inguspun berdiam pada kesepiannya Hati manusia mungkin seharusnya dibuatkan kacamata murni…

  • Cerpen: Ingatan tentang Sepasang Mata

    Oleh: M Firdaus Rahmatullah Beberapa hari ini kepalaku pusing dan tak sempat menulis puisi. Aku pun tak sempat makan dan minum dan merokok dan juga mandi. Hal yang kusebut terakhir itu kulakukan enam hari yang lalu. Hampir seminggu sebenarnya. Jika Yani tidak meneleponku dan mengingatkanku bahwa hari ini adalah hari pernikahannya dan beberapa jam lagi…

  • Memaknai Batik Ala Jomlo

    Oleh: Rahman Kamal* Selamat Hari Batik Nasional, Dik. Ya, setiap tanggal 2 Oktober setiap tahunnya, kita mengingatnya sebagai Hari Batik Nasional. Menyenangkan. Lega. Karena dua hari di depan tanggal 2 Oktober adalah hari-hari yang terlampau serius. Kamu tahu kenapa kan, Dik? Ya, itulah ya. Hehe. Nah, pada hari ini kita bisa ngobrol hal-hal menyenangkan tentang…

  • Puisi: Kota Melankoli

    Puisi Rizqi Mahbubi* Stasiun Kepergian Segenap doa, dilipat rapi dalam koper hitam Dinding, tiang, kursi tunggu berwarna perih perpisahan Kehilangan, dan ketabahan Bahwa tak ada jumpa yang baka. Dekap dan kecup teramat hangat dirangkai Agar di rantau kenangan tetap bising Serupa kereta melaju di rel-rel baja. Apa yang lebih perih di dengar Dari suara speaker …

  • Cerpen: Perempuan Capung Merah Marun

      Oleh:  Agus Hiplunudin Sssssst… bunyi yang keluar dari mulutmu, sambil menempelkan telunjukmu di antara sepasang bibirmu—yang merah muda. Telunjukmu bagaikan sebuah anak selot yang mengunci pintu.  Aku pun seketika diam dan duduk mematung. Sepasang matamu menatap seekor capung merah marun yang hinggap di ujung bunga gelombang cinta. Perlahan kau mengangkat pantatmu, lalu berjalan sangat…

  • Cerpen: Enam Cerita tentang Kenangan

    Oleh:  M Firdaus Rahmatullah Kenangan dan Perkelahian Jika kau bertanya, adakah yang lebih purba dari kenangan? Maka akan kujawab dengan ceritaku ini. Semenjak perkelahian itu, aku dan ia tiada pernah saling menyapa. Hatiku serupa batu yang paling purba dan tak dapat dikerat dengan alat apa pun. Apalagi dihancurkan. Aku membencinya setengah mati. Bagaikan tiada lagi…