Puisi: Telanjang Pudar Karya Erliyana Muhsi


Puisi-Puisi Erliyana Muhsi
Telanjang Pudar
Pada barisan trotoar berlampu
Kaki tanpa alas tertatih
Berdarah-darah
Mengosongkan ilusi dan mimpi-mimpi
Tak ada layak pada tubuhnya
Tapi awas,
Jangan sampai buruk sangka pada akalnya
Manusia memanusiakan manusia
Terdengar seperti itu memang jargonnya
Hidung saja tak selamanya sepi
Inguspun berdiam pada kesepiannya
Hati manusia mungkin seharusnya dibuatkan kacamata murni
Murni melihat
Murni memetak
Mana lebih asli
Berdandan akal mimpi, dari pada
Telanjang jati diri
Pak, pakai gedung apa untuk kedap suara
Uang dari aman membelinya
Dan bagian yang mana, jumlahnya kurang
Tapi dianggap biasa saja
Sepertinya memang iya
Hanya orang gila telanjangi hidupnya
Walau samar dimata hati yang berakal
Akan lebih berarti dimata Tuhannya
Hey manusia,
Sekali lagi
Jangan buruk snagka kepada yang gila
Barangkali lebih gila mereka
Yang berdandan layaknya senopati raja
Annuqayah, 08 Agustus 2019

Sajak Santri untuk Kiai
            ;KH. Maimun Zubair
Bila bulan menibakan ingatan untuk mengenang
Penduduk bumi kelahiran menidurkan khidmat di atas
Nampan perenungan
Bulan pahlawan kembali berduka
Mbah Kiai, paku negeri, telah kembali
Menghadap Tuhan menghaturkan amanah yang sudah usai
Sirat apa gerangan perihal kepergianmu mbah
Kembali tenang di peraduan
Membiarkan kami para santri
Mendamba wajah asri terakhirmu di sini
Sering kupandangi engkau dalam layar gambar
Manakala akalku mengiyakan
Darah segar mengalir menyisihkan kabut dalam pandangan
Aku pucat gemetar
Kabar kepulangan menampar jiwaku berulang-ulang
Betapa dukanya harapan
Putus perjalanan untuk mengikat tali pengokohan
Antara aku santri, dan
Mbah panutan sejati
Namun, manabisa waktu menolak kehendak
Mungkin hanya pada bait-bait puisi ini
Atau tahlil yasin di malam hari
Bisik dukaku meronta jarak pertemuan
Mbah Kiai,
selamat jalan
matur nuwun telah meletakkan cahaya-cahaya
di sepanjang trotoar jalan menuju lembah pulang
Hari Merelakan
Kisah Nabi Ibrahim masih mengalir
Dalam denyut Nadi dan Pekat syaraf-syaraf
Yang membuang durhaka karena ketundukannya
Seorang Nabi mulia
Yang menyerahkan nasib hidupnya
Tanpa ketidak setujuan, apalagi air mata
Terkenang dalam hari
Direkam alam untuk dijadikan saksi
“Eid Adha”
Hari rayanya orang-orang rela
Hari rayanya orang-orang berbagi cita rasa
Hari rayanya manusia-manusia
Memanusiakan ciptaanNya
Inilah hari, hari peninggalan Nabi
Saban tubuhnya tak akan beda wangi
Kecuali bumi tak ada
Kekal sudah hidup manusia di dunia ganti
25 Agustus 2019
Percuma
Saja
Aku mengutuk gelap
Biar tak ada samar
di setiap pertemuan
Membuang
ranting-ranting jantung ke selokan
Agar degupnya
hanya ada padamu
Menyatu dan
menggumpal menjadi rapal kasih sayang
Oh,
Waktu macam apa
yang membuang?
Memotong gumpal
merah di dalam dada
Mengirisnya dengan
halus
Darahnya habis
diisap
Dicecap-cecap
mendalami nikmat
Annuqayah, 02
September 2019
Biodata Penulis
Erliyana Muhsi, Santri
Annuqayah Lubangsa Pi sekaligus Mahasiswa Prodi PIAUD INSTIKA, anggota aktif
Lembaga Kepenulisan FRASA Lubangsa, Alumni PP. Al-IN’AM dan PP. Darul Falah.
Beralamat di:
erliyanaMuhsi@gmail.com

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Kekuatan Gaya Hidup sebagai Strategi Pertahanan Utama Kesehatan Mental

Cerpen Fahrus Refendi

Cerpen: Tahun Baru Terakhir

Ipul Lestari Puisi

Alisa, Kamulah Puisiku

Apacapa Moh. Imron

Jejak Kenangan di Festival Argopuro (Bagian satu)

Ana Khasanah Buku Ulas

Ulas Buku: Mengabdi Adalah Seni Menjelajahi Diri

Apresiasi

Puisi – Tentang Situbondo

Puisi Rizal Kurniawan

Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi

Resensi

Resensi: Teka Teki Rumah Aneh

Apacapa M Ivan Aulia Rokhman

Writing Camp, Sebagai Ajang Silaturahami antar Penulis

Buku Ulas

TUHAN Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya: Tertawa Sembari

M.Z. Billal Puisi

Puisi: Hujan Pukul 12.30

Agus Karyanantio Apacapa

Menanggapi Hari Jadi Kabupaten Situbondo

Ipul Lestari Prosa Mini

Perempuan yang Jatuh di bawah Hujan

Buku Rudi Agus Hartanto Ulas

Resensi: Tugasmu Hanya Mengizinkan

Puisi Madura

Puisi Madura: Bânnè Gârimisen Polè

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Selamat, Mas Rio dan Mbak Ulfi

Cerpen

Bocah itu Bernama Laut

Abi Alfatih Mored Moret

Satu Langkah Terakhir

Apacapa

Masih Pentingkah Festival Kampung Langai?

Anjrah Lelono Broto Puisi

Puisi: Laporan Pagi di Perempatan Trowulan