Kategori: Apacapa
-
Wisata Perang: Gagasan Brilian Sang Bupati
Oleh: Imam Sufyan Baru-baru ini tersiar kabar bahwa Bupati Situbondo mengusulkan agar Kabupaten Situbondo memiliki wisata perang. Sebagaimana berita yang saya bagikan di dinding facebook beberapa hari lalu. Wacana itu kemudian ditanggapi oleh netizen dengan berbagai komentar. Mayoritas menanggapi dengan nada negatif dan itu hal yang biasa di era keterbukaan ini. Mengenai ide dan gagasan
-
Festival Kampung Langai 6: Pertemuan dengan Sosok yang Lain
Oleh : Wilda Zakiyah Malam itu, 30 Agustus 2019, acara tahunan yang diadakan beberapa komunitas kreatif di kota saya dihelat. Itu sudah kali keenam. Acara bertajuk Festival Kampung Langai 6 itu, terasa mewah dan meriah. Terlihat dari beberapa dekorasi yang membuat suasana semakin luar biasa. Tema kali itu adalah burombu yang artinya sampah. Semboyannya: dibuang
-
Biola dalam Kenangan
Oleh: Wilda Zakiyah Saat pagi mengintip di celah mata yang terbuka, saya mendengar suara biola dimainkan dari arah matahari terbenam, bunyinya seperti kepak burung camar, gemericik air dan suara matahari menggerat subuh. Harusnya saya tidak sepuitis itu, semua mengalir begitu saja saat mendengarkan alunan senar yang digesek itu. Saya suka alat musik, pernah beberapa kali
-

Operasi Carthago: Mengenal Sejarah Pertempuran di Asembagus
Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur dalam peristiwa tersebut, dan sekaligus untuk mengingatkan kita agar tidak lupa tentang sejarah perjuangan pahlawan lokal khususnya di daerah Asembagus, maka kisah ini saya ceritakan kembali meskipun dengan sumber sejarah yang terbatas. Pada tanggal 05 September 1947, pasukan tempur Belanda di bawah Komando Marinir C. G.
-
Dik, Mengapa Kau Tak Mau Menemaniku ke Kampung Langai Malam Itu?
Oleh: Rahman Kamal* Dik, entah kenapa kamu tiba tiba menolak ajakanku pergi ke Kampung Langai malam itu. Dengan berat hati akupun melangkahkan kaki. Perlahan tapi pasti, aku tetap meninggalkan jejak. Menyimpan harap engkau datang menyusul sehabis menemukan jejak perjalananku menuju Langai malam itu. Dik, Langai begitu dingin malam itu. Andai kau tahu betapa dinginnya suasana
-
Maukah Kau Menemaniku di Kampung Langai, Dik?
Oleh: Mohammad Farhan* Sebelum aku mengajakmu, maukah kau mendengarkan curhatku, Dik? Curhatan seorang lelaki yang hatinya tak henti-henti dirundung pilu ini. Dik, aku menulis surat ini dengan hati yang tak cukup tenang. Aku masih terbayang kejadian di awal Maret, ketika perempuan yang kuharap menjadi teman hidup, memutuskan untuk pergi. Ia mengakhiri sebelas tahun perjalanan bersamaku.
-
Posisi Komunitas Muda Kreatif Situbondo dalam Revolusi Industri 4.0
Oleh : Marlutfi Yoandinas* Sejarah Revolusi Industri Sejauh ini, kita telah mengalami revolusi industri selama 3 (tiga) kali. Revolusi industri pertama ditandai dengan ditemukannya mesin uap dan kereta api pada tahun 1750 s.d. 1930-an. Tenaga manusia sebagai pekerja digantikan oleh mesin-mesin yang bisa bergerak secara otomatis sehingga barang-barang dapat diproduksi secara massal. Munculnya mesin-mesin pada
-
Kampung Langai, Dik: Apa Kamu Gak Mau Nonton?
Oleh: Redaksi Langai 1 | 7-8 November 2014 Kita berdua duduk di paling utara, dik. Beralaskan sandal masing-masing. Kita menyimak penampilan di sana. Dengan latar gedung Rumah Baca Damar Aksara, bertuliskan Kampung Langai, berwarna hitam. Kita juga menikmati jajanan buatan warga. Sembari disuapin olehmu, dik. Langai 2 | 6-7 November 2015 Di langai dua ini
-
Serrona Rèng Situbende è Bulân Rèaje
GPS Wisata Situbondo Oleh : Syaif Zhibond Rènk Qobhien* Dâlâm panaggâlân madurâ/Hijriyâh, bâdâ dubeles bulân dâlâm sataon. è molaè dâri bulân Sora, sappar, molod, rasol, dilawâl, dilahèr, râjjâb, râbbâ, puasa, sabâl, takep è’ terakhir bulân Reaje. Saongghuna bulân-bulân sè èsebbhut è attas gheniko padâ bik bulân dâlâm islam. Pèra’ bhidâ sebbhuthenna, sèbiasana dâlâm panaggâlân hijriyah
-
Rajekwesi Suatu Magrib
Oleh : Imam Sufyan* Tepat di gerbang Rajekwesi, saya memilih jalan kaki. Indra, aktifis Gepsos yang mengantar dari kota saya minta untuk pulang. Sempat terjadi keributan karena Indra memaksa saya untuk mengantar sampai posko 14. Tetapi saya tetap berkukuh untuk jalan kaki. Indra mengalah. Dia kembali ke Curah Jeru ke kampung halamannya, saya jalan kaki