Kategori: Cerpen

  • Kutu dan Monyet

    Oleh : Levana Azalika Kalau kalian menyangka ini cerita berunsur genre fabel, kalian salah besar. Ini cerita tentang dua orang lawan jenis yang kerjanya kalau nggak berantem, ya adu mulut. Eh, sama aja deng :v. ‘Chotto matte’ “Keiko- chan, nande?” ‘Aku takut gelap’ “Nani?” ‘Kamu tidak tau aku takut gelap dan kamu tidak tahu jika

    selengkapnya…

  • Negeri Kocar-Kacir

    Oleh : Imam Sofyan Jalan yang becek akibat hujan turun deras semalam. Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Manusia antusias datang tiap hari. Pemandangan satu orang membawa satu karung, adakalanya yang memakai keranjang lumrah terlihat saban pagi. Di selingi ingar bingar tawar-menawar antara pedagang dan pembeli. Sesekali pemandangan juru parkir memberi arahan pada seorang yang parkir

    selengkapnya…

  • Surat dari Akhirat

    Oleh : Sainur Rasyid Sore itu, Mat Sandal sambil memungut sampah plastik kemasan yang sedang berserakan di pinggir jalan. Ketika sedang jongkok, telinga Mat Sandal sedang menangkap sesuatu dari kejauhan di tumpukan daun kering Kreks, kresss…sskk “Mbah Yayan melihat sesuatu?” Mat Sandal berujar pada Mbah Yayan yang sedang bersamanya. Mat Sandal tetap pada posisi jongkok,

    selengkapnya…

  • Sepasang Kekasih yang Berpisah Karena Hujan

    Maka akhirnya kupilih mengirimkannya lewat hujan. Sebab aku pernah mendengar perkataan orang-orang bahwa hujan dan kenangan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Tetapi, tentu saja semoga di tempatmu hujan turun sama lebatnya. Dengan begitu kenangan pun akan bertandang ke rumah ingatanmu. Kuharap kau berkenan mempersilakannya masuk dalam ruang tamu otakmu. Tetapi jika kau keberatan,

    selengkapnya…

  • Kematian Bagi Kenangan

    Oleh : Ahmad Zaidi Suatu malam, ketika jarum jam mengerat kesunyian. Seorang lelaki sedang duduk di kamarnya sendirian. Ia menunggu kantuk. Namun, sebelum kantuk itu benar-benar tiba, teleponnya berdering. “Halo.” “Kamu belum tidur?” “Siapa ini?” “Ini aku. Maaf malam-malam begini mengganggu.” Telepon dimatikan. Lampu kamar dipadamkan. Lelaki itu berbaring. Berusaha memejamkan matanya. Lalu kenangan mengucur

    selengkapnya…

  • Lelaki yang Datang Bersama Hujan

    Oleh : Ahmad Zaidi Ia biasa datang saat hari telah padam. Dengan langkah kecil, perlahan-lahan ia menyisir rinai hujan. Di tangannya yang dingin, ia genggam sekuntum bunga mawar. Semula aku menduga suara napasnya yang berat adalah embus angin yang memainkan dedaunan. Dari dalam remang, tatapannya yang berkilatan cahaya begitu tajam menusuk. Setelah dekat, aku bisa

    selengkapnya…

  • Kau dan Kehilangan

    Oleh : Baiq Cynthia Ketika gelap menyapa sosok yang bercelana jin, angin malam berantuk kulit berbalut jaket.  Aku mengayuh sepeda di tengah temaram. Bekas rinai hujan, terus bertasbih. Pepohonan masih basah. Aroma tanah menguat diguyur langit. Tak ada rumah penduduk. Jejeran lahan sawah, sebuah toko bangunan telah tutup. Dingin menyergap kompleks pemakaman. Diiringi melodi sayap

    selengkapnya…

  • Lelaki di Tepian Pantai yang Memandang Gunung

    Oleh : Yudik Wergiyanto N. Satu per satu warung-warung mulai tumbuh berjejeran di sepanjang jalan. Rumah-rumah penginapan juga perlahan berdiri dan mengambil lahan sembarangan. Semakin tampak sesak suasana pantai itu. Pohon-pohon jadi enggan tumbuh. Perlahan keadaannya berubah dan berangsur menyedihkan. Tetapi tidak bagi seorang lelaki yang duduk di atas batu karang. Baginya, tak ada yang

    selengkapnya…

  • Damar Aksara; Puing-Puing Asmara

    Hari itu dua tahun yang lalu. Keluarga keduaku. Rumah ketigaku. Saudara-saudara terbaikku. Kampung Langai, Rumah Baca Damar Aksara beserta isi dan kenangannya. Aku benar-benar merindukannya. Dapur favorit untukku memasak. Dapur sederhana beralaskan tanah. Di sebelahnya adalah sebuah gudang. Sebenarnya ia masih satu ruangan. Hanya di sisi lain dari barangan dapur itu adalah perkakas yang sudah

    selengkapnya…

  • Kepada Yth. Bapak Bupati

    Oleh : Ahmad Zaidi Tubuh dekil itu terburu-buru menyusuri trotoar. Songkok nasional di kepalanya terbang dihempas angin. Tangannya menggapai-gapai, mencoba meraih, agar penutup kepalanya tak jatuh ke aspal kemudian dilindas ban kendaraan yang lalu-lalang. Tubuh kumal itu kembali berjalan, kali ini lebih cepat, lalu hilang ditelan gedung besar di tengah kota. Siapa pun bisa membaca tulisan besar di halamannya yang

    selengkapnya…