Kategori: Puisi
-
Puisi: Rutinitas Berkenalan dengan Diri Sendiri
Optimisme Dua Remaja 25 april, listrik padam di malioboro seorang perempuan, hijau, jadi bayang hitam, duduk di dekat tiang. “tuhan,” lirihnya. dan kalimat selanjutnya tak terdengar. tapi laki-laki yang ia sebut namanya ― dua tahun kemudian, di tempat lain, pada malam yang lain: dapat mendengar! dengan baik, sebaik mimpi menyimak sekarung gabah membaca sajak di lubang
-
Puisi Madura: Sanja’
Karya: Fahrus Refendi Sakѐlan Só Patѐ Mara kódhu bârâmma Sѐ manyekkenna atѐ Sópajâ tetep ѐnga’ ka pangѐranna Sabâlluna sakѐ’ bân patѐ Abâ’ mólar Kѐngeng kalerressan Manóssa ampón dâpa’ Ka jhâman se bânya’ abârri’ calaka’ Lѐbar du’a’ bulâ Kaangguy ngarep pastѐ Malar móghâ ѐparѐngѐ saѐ Sanajjân bâdân rómpal sakѐlan só patѐ. Coma Ate Sósóp Só mata
-
Puisi: Sejarah Maaf
3 Rasa #Rasa Sepi aku ingin menjadi pasar yang mendengar suara-suara, menghirup aroma tong sampah, dan menyaksikan kawanan burung merpati mematuk-matuk harapan dan bermeditasi di sepanjang kabel listrik saat rasa sepi menjelma sebotol air mineral mengalir ke dalam tubuhku. #Rasa Sayang menyayangimu aku seperti air gunung yang dengan nekat melintasi kesunyian hutan belantara hanya untuk
-
Puisi: Angon
Puisi-Puisi Indarka Putra Pratama* Merenungi Hidup Saat senja mataku tersingkap Di antara riuh angin menyelinap Juga kisah hidupku yang nisbi Menanti giliran agar direnungi Antara angin dan hidup berkelindan Mensinyalkan harmoni di ujung pesakitan Solo, Mei 2020 Polusi Ekologi Aspal raya berkepung menara Debu kepanasan merobek kulit manusia Besi-besi berbaris berkeliaran Udara dan air ringsuk
-
Puisi: Hikayat Keabadian
PUISI-PUISI FIRMAN FADILAH* HIKAYAT KELAHIRAN Aku seperti berada di dalam bejana sempit Bersama teman kecil yang menjuntai di perutku Aku ingin keluar bersama keramaian yang terdengar sangat menyenangkan Ada banyak hal yang ingin kucoba Makanan yang beragam, sedang di sini hanya ada darah Aku ketuk-ketuk dinding yang menghalangi ini Aku tendang sekuat tenagaku, tapi aku
-
Puisi: Pandemi
Pandemi Puan kini bertepi Menyendiri Dari sini aku mengerti Tentang inginnya menjumpai Pagi seperti dulu lagi Tentang rindunya kepada kicauan burung meramai pagi Sewaktu dirinya masih bayi Kala tak satu pun ia pahami Kini, mungkin terlambat tapi ia menyadari Semuanya telah berlalu pergi Yang mengawali harinya kini Hanyalah jeritan aspal yang terus meronta Oleh kerasnya
-
Puisi: Rabu Malam
Kumpulan Puisi Diego Alpadani Belang Puntung Rabu Rabu adalah puisi belang puntung yang digenjot puntung-puntung rokok, korek-korek api basah, dan Mantiko peneguk mineral hingga mabuk. Belang puntung rabu tidak kesurupan pada hari rabu yang awannya adalah dawat-dawat pena yang terserak begitu saja. “Mana mineral itu? Puntung rokok sudah menjadi abu aku tahu. Oh tidak. Aku
-
Puisi : Sabuk Asteroid
Tata Surya Bagian Dalam Aku mendatangi kuburanku saat mengunjungi kota ini. Bertanya kau padaku: kau ini apa? Menjawab aku padamu: aku ini seorang tahanan. Otak pucat itu menolak, tak terima melihat bumi masih sudi menampungku. Baik. Selesaikan cacah di langit dan jangan pikirkan rimbunan bebatuan di angkasa yang setia seperti bulan. Aku terus mendatangi kuburanku
-
Puisi: Merangkak Patuh
Puisi-puisi Faris Al Faisal Merangkak Patuh Setangkai tubuh merangkak patuh Merunduk tunduk dalam riuh biji-biji manik tasbih Mereka mensucikan Tuhannya Rukuk dan sujud Menghamba pada lengang-lengang jiwa Teduh dalam naungan payung kubah Hujan menderas dari sudut langit Luruh seperti ranting melepas daun-daun kecil Udara dingin melambungkan doa Mengulur benang layang-layang ke awan Menari-nari