Kategori: Puisi
-
Puisi Ruah Alam Waras
A Deliberately Fringed Lelakon / Nature / Participant joined 15 minutes before agenda as the late bird message. Well, was different from another webinar that gave meeting code and password or zoom link. Accessed Youtube a minute after schedule and Zoom at 8:24 pm. Due to prospective mango flor? Wanted to learn while…
-
Puisi: Tubuh yang Mengandung Hujan
juru takwil pendalungan udara pendalungan bau asap kemenyan, campuran manis gula dan asin garam. rumahmu gatal-gatal dalam bayang-bayang gagal ginjal. pandanganmu mulai kabur antara ke mana harus menuju atau menghindar dari semacam peluru. sejenis anggaran paling aduhai dalam perhitungan kepalamu. lalu kau menjadi juru takwil yang kejang-kejang dalam festival kebudayaan. menambal arsip-arsip bolong dalam…
-
Puisi Mored: Tarian Hujan
Oleh Alif Diska* Rasa Karsa Tidak ada yang sederhana dari cinta Jika kau masih menuntut lebih dari cinta Tidak ada yang serumit dari cinta Jika kau masih membesarkan apa yang sepatutnya kecil Tidak ada yang seluas dari cinta Jika kau masih mempersempit pola pikir dan rasa Karena cinta, seindah apa yang ada Situbondo,…
-
Puisi Mored: Legenda Tangis
Oleh: Mahesa Asah* Rindu Si Gila ;Kekasih Mimpi Altar waktu perlahan memungut rindu, dari belantara hutan-hutan dan jalan menapak.Mengutukiku dalam rentetan pujangga. Sementara serupa mata-matamu membumbung embuun panyejuk mataku. Bukit menjulang bersaksi riangnya candu,berbaris rapi menyambut sepucuk rindu sebelum dungu. Walau,tak bermahkota permata dan berjubah raja destinasimu menerima si buruk rupa tuk bertamu.…
-
Puisi: Manunggal Rasa
Manunggal Rasa Kemaren senja pucat pasih Memikul keranda air mata Sambil menunjuk-nunjuk Langit kemudian Bumi Menafsiri setiap desir angin Berembus mengolah kasih Lalu wajah yang lama ku hafal bertandang Membawa bingkisan roti impian Kemudian hening, lalu pening Lantaran bulan membawa sabit wajahmu Bersama alunan rebana Sampai ijab qobul Sampai melahirkan kasih-kasihmu Dalam lingkungan…
-
Puisi Mored: Malam Monokrom
Oleh: Heru Mulyanto* Malam Monokrom Andainya malam bisa menggantikan siangDan siang tak pernah ada…Andainya senja tak pernah tibaDan malam menjadi abadi…Itu justru malah lebih baikHanya lampu, bulan, bintang, dan sepi… Jikapun senja tak pernah ada, maka Sukab tak akan mencurinya dan mengirimnya pada AlinaYah, aku juga tak tau mengapa kutulis tulisan iniLagi-lagi sampah… Aku hanya…
-
Puisi: Celurit yang Tergantung
Sumahya Di ruang hatimu Kutemukan hujan lihai mencipta kata-kata untuk kita Untuk puisi, untuk matahari yang gagal meminang pagi Dan kita adalah bocah-bocah kecil yang senang menanam gigil Dan waktu akan memetik kita sebagai kemuning daun pohon mati Yogyakarta, 2020 Di Sebuah Cafe Di sebuah cafe Sebuah…
-
Puisi: kusisiri kota ini dengan puisi
kusisiri kota ini dengan puisi kusisiri kota ini dengan puisi sampai ke laut hanya berbatas samudra hindi mencari sisa-sisa masa lalu yang mesti dibanggakan atau kenangan yang kelak diceritakan tapi ada yang hilang terbawa angin atau sengaja dihilangkan bagai suara-suara aktivis yang mesti dibungkam-hilangkan dan menyisakan getir kenyataan menghubungkanku dengan sungai-sungai di…
-
Puisi: Untuk Gadis
Untuk Gadis Kubaca sejak─sajakku yang pula kau baca, jari kecil bergerak, gerangan menangiskah tertawa? ada perjurit di barak, sungguh jalang puan tak bisa tentang, memoarnya dirusak, namun luka lama pun makin riang. Gadis kecil, bernyali kecil, sudah besar rupanya dia! pulang ke kolong langit, berbekal senyum dibalik duka, di kering suka, di ambang…
-
Puisi: “Status 1: Apa yang Anda Pikirkan?”
Ahmad Zaidi Status 1 : Apa yang Anda Pikirkan? Dalam keriuhan ini kita kerap terjungkal ke dalam kubang validasi dan tali yang menjulur di tubir pengakuan sebagai uluran tangan itu terputus oleh diri sendiri. Kita mewakafkan diri sebagai murid yang berkhidmat pada reputasi. Kita menikmati bagaimana orang bertepuk sorai dalam pesta perayaan. Gelegar…