Kategori: Puisi

  • Puisi: Hikayat Keabadian

    PUISI-PUISI FIRMAN FADILAH* HIKAYAT KELAHIRAN Aku seperti berada di dalam bejana sempit Bersama teman kecil yang menjuntai di perutku Aku ingin keluar bersama keramaian yang terdengar sangat menyenangkan Ada banyak hal yang ingin kucoba Makanan yang beragam, sedang di sini hanya ada darah Aku ketuk-ketuk dinding yang menghalangi ini Aku tendang sekuat tenagaku, tapi aku…

    selengkapnya…

  • Selamat Datang di Negeri Dagelan: Bagaimana Kejahatan Dilakukan Tanpa Disengaja?

    Kepada para hadirin yang kami hormati. Kami ucapkan selamat datang di negeri tercinta ini, negeri yang kaya alamnya, negeri yang subur pejabatnya, Negeri Para Dagelan. Sebelum memasuki negeri ini, kami harap para hadirin sudah mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menerima kisah-kisah segar yang akan hadirin temui dan tentu saja akan mengguncang perut hadirin sekalian.…

    selengkapnya…

  • Puisi: Pandemi

    Pandemi Puan kini bertepi Menyendiri Dari sini aku mengerti Tentang inginnya menjumpai Pagi seperti dulu lagi Tentang rindunya kepada kicauan burung meramai pagi Sewaktu dirinya masih bayi Kala tak satu pun ia pahami Kini, mungkin terlambat tapi ia menyadari Semuanya telah berlalu pergi Yang mengawali harinya kini Hanyalah jeritan aspal yang terus meronta Oleh kerasnya…

    selengkapnya…

  • Puisi: Rabu Malam

    Kumpulan Puisi Diego Alpadani Belang Puntung Rabu Rabu adalah puisi belang puntung yang digenjot puntung-puntung rokok, korek-korek api basah, dan Mantiko  peneguk mineral hingga mabuk. Belang puntung rabu tidak kesurupan pada hari rabu yang awannya adalah dawat-dawat pena yang terserak begitu saja. “Mana mineral itu? Puntung rokok sudah menjadi abu aku tahu. Oh tidak. Aku…

    selengkapnya…

  • Puisi : Sabuk Asteroid

    Tata Surya Bagian Dalam Aku mendatangi kuburanku saat mengunjungi kota ini. Bertanya kau padaku: kau ini apa? Menjawab aku padamu: aku ini seorang tahanan. Otak pucat itu menolak, tak terima melihat bumi masih sudi menampungku. Baik. Selesaikan cacah di langit dan jangan pikirkan rimbunan bebatuan di angkasa yang setia seperti bulan. Aku terus mendatangi kuburanku…

    selengkapnya…

  • Puisi: Merangkak Patuh

    Puisi-puisi Faris Al Faisal Merangkak Patuh Setangkai tubuh merangkak patuh Merunduk tunduk dalam riuh biji-biji manik tasbih Mereka mensucikan Tuhannya Rukuk dan sujud Menghamba pada lengang-lengang jiwa Teduh dalam naungan payung kubah Hujan menderas dari sudut langit Luruh seperti ranting melepas daun-daun kecil             Udara dingin melambungkan doa             Mengulur benang layang-layang ke awan Menari-nari…

    selengkapnya…

  • Puisi: Kopi Mawar

    Malam Perindu Malam mekar di atas tembikar basah yang habis dibasuh jemari merekah ia belum lagi tuntas dibakar buat menjadi perabot rumah tangga kita Angin sendu membawa rindu Mengambang di matamu yang payau Malam ini seharusnya usai dengan cepat, aku tak sanggup lagi menanggung dingin kesendirian yang ditusuk-tusuk rindu penuh kegamangan  Blitar, 2019 Kopi Mawar…

    selengkapnya…

  • Puisi: Suatu Sore

    SEHABIS SORE TERBITLAH MALAM Sehabis sore saat aku tak bisa meneruskan perjalanan Tepat di seberang jalan Di antara anak sungai yang gemericiknya menabur keheningan Matahari pelan-pelan lepas dari peluk laut Sedang aku masih di sini melepas segala lupa pada dirimu Kekasih adakah kisah yang menakar hening kita Wajah-wajah asing satu-persatu berguguran Aku masih di seberang…

    selengkapnya…

  • Puisi: Undangan Baru untuk Kekasih Lama

    Di Bawah Bulan Aku berada di bawah bulan. Di atas bangku taman. Menikmati pemandangan kapal-kapal sebelum di pelabuhan Mencicipi dinginnya angin pantai Menghirup udara kesepian Lalu menelan beban-beban sebelum malam. “katanya ia ingin datang” Aku masih menunggu di bawah bulan. Di atas kursi taman. Dan di samping bayang pohon besar. Ia pandai dalam berkenalan. Ia…

    selengkapnya…

  • Puisi: Madilog Sepi

    Oleh: Firmansyah Evangelia* Madilog Sepi Pada sepertiga malam Merdu dzikir-dzikir daun mengeras di telingaku Mengajarikiu cara tawakal pada Tuhan Lalu perlahan, benakku berkata: “hidup hanyalah mimpi, sedang kematian ialah tempat kita kembali ke muasal” Disitulah dada bergetar Mencipta debar alir-alir birahi merangkum perih Mengabarkan kisah-kisah baka Dari berbagai keresahan Kini, pasrah kulalui masa keruh dalam…

    selengkapnya…