Kategori: Puisi
-
Puisi – Januari yang Yatim Februari yang Piatu
Puisi-puisi Nuriman N. Bayan Januari yang Yatim Februari yang Piatu Pada januari yang yatim tak seperti angin ia tertawa tanpa sebab. Pada februari yang piatu tak seperti daun ia menangis tanpa sebab. Ternate, 11 Februari 2018. Adakah Jalan Menunuju Rumahku Jika aku lepas dari aturan-aturan yang kau buat adakah jalan menuju rumahku? atau verba telah
-
Puisi – Bertanya Pada Minggu
Puisi-Puisi Joe Hasan Bertanya Pada Minggu Aku bertanya pada Minggu esok Dengan malam yang menusuk sepi-sepiku Dingin yang berselonjor di atas kulit Seakan aku menyerah sepanjang masa Bukankah telah kulukis kematian Di atas putih dan bersihnya kenangan Bisa saja ia berpaling nanti Ketika semua usia bertemu Namun aku sedang ingin berubah Ingin melupakan segala kebaikan
-
Puisi – Sang Bayu
Puisi-puisi Irma Muzaiyaroh Sang Bayu Ini tidak seperti biasanya Dia terdengar tak tenang Hembusannya semakin kuat Memaksa dedaunan yang rentah untuk luruh Suaranya bergemuruh tak sabar Meminta butiran-butiran halus beterbangan Sang Bayu sedang bergolak Mengundang papan kayu itu untuk berderik Merayu aur yang menjulang untuk menyanyi Embusannya Suaranya Akankah menandakan musim telah berganti? Tetes Pagi
-
Puisi – Masih Melawan Ketakutan di Rumah Tua
Puisi-puisi M Ivan Aulia Rokhman Medan Berjuang Selepas Menantang Kota Kecil Kota yang sepi Kereta hampir lewat menurut jam tangan Tak terasa nasib siang telah tertinggal jauh Perasaanku makin lumrah Sebelum pulang mengajak ke kota sejarah Mengambil gambar sekaligus mengakhiri penjelalahanku di kota kecil Kini saatnya berjumpa dengan kawanku Dari kota kecil kembali ke kota
-
Puisi – Lagu Masa lalu
Puisi-puisi Fahris a. w. Lagu Masa Lalu Lembayung syahdu, senandung rindu Sayup terdengar begitu merdu Melenggang elok melambai ayu Dalam peluk embus angin Bersama gulungan awan musim dingin Memecah sunyi Mencuri sepi Dimanakah asal Indah suara sang dara Membelai lembut ruang telinga Merangsang saraf-saraf bahagia Alirkan darah bercuaca gembira Amat menyentuh syair nona Mampu tentramkan
-
Puisi – Nostalgia Bangunan Tua karya Ahmad Syauqil Ulum
Nostalgia Bangunan Tua Ketika hujan tiba… Ribuan titik airnya menggenangi Ruas jalan yang aku tapaki bahkan Kain katun yang aku kenakan, Kini sehelai pun sulit mengeringnya Waktu terus berjalan mengikuti Detik jam yang berputar ratusan kali Hujan mulai mereda, tanda terang Namun air itu masih saja menelan mata kakiku Di tepi jalan, terpatri gerombolan semut
-
Puisi – Penantian yang tak Berujung
Puisi-Puisi Riski Bintang Venus Penantian yang tak Berujung Sadarkah kau di sini aku menunggu ? Aku menunggu dengan penuh rerintihan Aku menunggu seseorang yang kan menemani ruang hampaku ini Tidakkah kau dengar, setiap saat aku memanggilmu Ya, aku adalah tempat keabadiaan yang selalu menantimu Aku adalah rumah orang yang sendirian, yang penuh dengan kesusahan Aku
-
Puisi – Subuh yang Terjarah
Puisi Imam Suwandi Pada Subuh yang Terjarah Pada subuh yang terjarah Akulah rasa yang dulu pernah ada Lewat ingatan ingatan yang menjelma Dari tetesan yang terjamah Punggung malam belum usai terbaca Pada titik tempat aku mengadu luka Sayang, engkau selalu ada, di sudut ruang yang menghampa Pada subuh yang terjarah Akulah tubuh yang engkau pinta
-
Yang Muda Berkarya
Muda Berkarya, Muda Berprestasi Muda itu, berkarya bukan banyak gaya Muda itu, berprestasi bukan kebanyakan main ilusi Muda itu, banyak karya bukan banyak berbelanja Muda itu, banyak memberi bukan meminta Muda itu, selalu optimis dan berkreasi Menghasilkan karya agar bisa jadi inspirasi Muda itu selalu belajar bukan hura-hura Saat tua tidak lagi menyesal Karena masa
-
Ironinya Negeri Ini
Bergema teriak rakyat bergumam seribu amanat Semarak menyerbu kursi pangkat Masuk, duduki bangku dewan Menerjang suatu puncak jaminan Tergugah terjun konflik rakyat Dibalik terangkat makna tersirat Nyata hasrat tahta, harta menghayat dalam bayang pekat Tak murni sepenuh hati, kerap jadi ironi Sebab timbul sana sini kasus dewan terduga korupsi Sunggu ngeri negeri ini, harta milik