Kategori: Puisi
-
Puisi: Sajak Si Manusia Mesin
pixabay 1. Manusia Mesin yang tak Kenal Lelah Manusia mesin bergerak.. Tanpa mengenal lelah dia berteriak.. Aku manusia mesin yang hebat! Semua pekerjaan ku babat.. Namun Kemudian dia meringik.. Oh kapan semua pekerjaan ini berakhir.. Apa kah semua ini tiada ujung. Seakan membuat tubuh mesin ku menjadi buntung.. Meski tak Lelah ku
-
Puisi: Jalan Pulang
freepik Puisi-Puisi Saiful Arif Solichin Sajak Yang Pulang Ihda Asyrofi Pada sebuah jalan kenangan Beribu syair kini menyepi Merambah pada kesunyian malam Yang satir-satirnya perlahan runtuh Menyisih ke tepian pantai Dalam dekapan senja putih Risau penyair berbisik: Kini tak ada lagi kata terucap Bergeming di antara ruang kosong Sajak-sajak indah hanya
-
Puisi: Kita Tak Sendiri
frepik Puisi-Puisi Irham Fajar Alifi* Ritual Seperti yang kini tak pernah kita baca Kata-kata asing bersama wangi asap kemenyan Dalam perempatan jalan, tengah malam Perempuan tua bersama sahabat-sahabatnya, Melayani tamu yang ditolak kasihnya. Pemalang, 2021 Lily :Batu berjalan Ia pergi: lari Dalam magis semak belukar Bisik pepohonan Dan
-
Puisi: Dimensi Mimpi
freepik Dimensi Mimpi Karya: Mahadir Mohammed Aku mendambakan gelap Sebab, pada saat itu aku terlelap Mulutku tidak lagi berucap Jiwaku mulai menatap senyap Kemekaran senyummu Membuat pikiranku membeku Keindahan alis matamu terukir indah tidak bertepi Jiwaku dan jiwamu Serasa telah bersama Walaupun tidak di dunia ini Setidaknya hadir menyapa Di dalam
-
Puisi: Doa-Doa Semak Belukar
Puisi-Puisi Ratna Kuatiningsari* AKULAH PENGEMBARA HARAPAN BEKU Menjejakkan bekas kaki di lumpur Berpakaian sederhana berbalut perban Ku gendong tas yang meringkukkan raga Hanya bermodal pisau kecerdikan Memangkas semak berduri iktikad pejabat Akulah sang pengembara Dalam pengembaraan hutan harapan beku Yang dibekukan oleh pihak berselubung dusta Aku memikul keluh kesah rakyat
-
Puisi: Waw
Pohon Randu beban berat di kayumu kerja keras di akarmu angin rebah dari paru daunnya gugur satu persatu kalau sudah macam begitu dengan cara apa pula bisa kutopang dirimu, ma? Pasir Berbisik angin meniup pasir padang menghantam kuda bersijalan derai kabut meruap gunung tampak kabur tampak samar
-
Puisi: Hujan Pukul 12.30
Puis-Puisi M.Z. Billal Hujan Pukul 12.30 hujan jatuh deras sekali tepat pukul 12.30. aku menunggu di luar. di teras sebuah toko pakaian. sementara sebagian besar orang berebut masuk ke dalam rumah minum. tidak untuk mencari sesuatu. mereka tidak menginginkan apa-apa selain sampai tujuan. bahkan kehangatan sekalipun. dan kini jalanan dan halaman batu seperti
-
Puisi: Kapsul Cinta
Kapsul Cinta kuminum kapsul cinta seteguk saja di malam pelita kupanggil-panggil namamu membabi buta hidup adalah penantian kapan kau akan datang? aku ingin memandang dua belah bulan di matamu Alam Kesadaran aku berpikir dalam mimpi malamku ada sungai mengalir dari baktimu kepada rindu aku berpikir dalam jagaku
-
Puisi: Kayu Layu
freepik KERETA DARI KOTA Aku mengenang kejadian empat tahun lalu sebelum kita pernah berkunjung pada ingatan di hutan kita saling berpapasan aku membawa sekoper kepanikan berkejaran— dengan bayang-bayang malam sembunyi dari macetnya pagi buta sebagian hidup telah hancur menjadi sobekan kertas kecil lampu-lampu menarik selimutnya tulang-tulang rel patah segerombol manusia membunuh
-
Puisi: Menaksir Zikir
Menaksir zikir Ihda Asyrofi Di persimpangan jalan Dua katup mata nyalang memandang Lekat menatap ke atas tajam Kepada langit, ia meminta lindung Menyesap isak terasing dari renjana Di atas biduk terhampar Dua katup mata lelah meruah bergulu-gulut Terambang pasrah alur merajut Terbisik dalam dekap Sunyi gemericik Di selasar ruang mengiba Dua katup mata mengalun