Kategori: Puisi
-
Puisi: Harap 25 Sumsum
Four Skeletons, One Photograph as well A channel heart dechipers life codes of 4 photographs, 1 skeleton as well. Two skeletons deal with armful of affections, attachments, passions. Two photographs circumnavigate to embrace. Girl questions logical-mathematical intelligence tacked on 8518’s Instagram account. Acts as if lead to go for broke. Unshowered plants, broken
-
Puisi: Di Belakang Pondokan Teringat Du-Fu
Di Belakang Pondokan Teringat Du-Fu Ah! ditiup angin atap Tuan Du-Fu entah ke mana; sedang atap rumah sahaya gugur-ambruk di makan usia. Jadilah teladan bagi sahaya yang masihlah muda, yang masihlah dapat cari rumah untuk tulis lakon-cerita. (2019) Di Dekat Kolam Tua Seorang pangeran tampan dikutuk menjadi seekor
-
Puisi: Kisah dalam Buku dan Puisi Lainnya
Puisi Joe Hasan Di Sofa Hijau seperti pelangi yang kosong tanpa warna hari-hari berlanjut begitu saja mengikuti alur musim pandemi beberapa orang peduli beberapa lagi memanfaatkan gaji dan bantuan-bantuan yang masuk sebagai pengganjal nasib di sofa hijau itu saksi kekosongan yang terus berjalan setiap malam menyaksikan kebejatan di tivi itulah pembicaraan setiap saat
-
Puisi: Semadi Bulan
Puisi-puisi Gilang Sakti Ramadhan Di Langit Stasiun di langit stasiun, aku lihat awan melengkung seperti besi dan burung-burung mencari jalan pulang kau memintaku menaiki kereta yang menuju timur sedangkan kau menuju barat kau tak ingin mengingatku bahkan ketika burung-burung yang mencari jalan pulang berpencar dan mengikuti kereta kita dari belakang Juli,
-
Puisi: Kembara Rindu
Puisi-puisi Mundzir Nadzir Anak Ombak Asa kembali bernarasi pada legam di keluasan Sebelum kau sempat berbaring di ranjang Mengingat semalam ada pertaruhan hebat dengan badai membawa segumpal nyali Berbekal keyakinan kau arungi jalan maut Tak lupa sebotol kopi kau timang dengan sarung Penaku meronta melihat tinggkahmu. Dengan langkah Perkasa Di atas dermaga kau keliatan
-
Puisi: Inkarnasi dan Puisi Lainnya
Puisi-puisi Dani Alifian Inkarnasi sebelum lahir, telah dipersiapkan setumpuk takdir untukmu: malam kelam, udara kacau, dan musim gugur “tiada kesempatan kedua,” ucapmu pada Tuhan yang saat itu hendak meniupkan ruh kesempatan kedua selalu hadir usai kesempatan pertama, bertumpuk begitu terus dan seterusnya dan seterusnya sebagai pengendali takdir , kamu berhak menciptakan jalan sendiri,
-
Puisi: Ibu Tani dan Puisi Lainnya
Puisi-puisi Nila Afila IBU TANI Hari ini hujan menyapa Hingga waktu menjelang senja Membawa kenangan tentang iba Mengingatkan kisah pada suatu masa Masa ketika aku masih remaja Kala itu kulihat lorong dari dalam surau Tak ada satu kendaraan yang berlalu lalang Hanya ibu-ibu tani yang tengah bersenda gurau Saat mereka berjalan pulang dari
-
Puisi: Pilihan Ganda
Puisi-puisi Diego Alpadani Pilihan Ganda Bagaimana caraku membunuhmu? A) Dengan sukur dan puji sebelum kapak selebar sandal jepit tancap di keningmu. B) Menggunakan MSG seember cucian kain Emak masuk ke dalam mi goreng santapanmu. C) Memberikan catatan perjalanan seorang politikus mati di dalam kardus akibat lupa cara menyogok wanita-wanita yang merobek rabu dirimu.
-
Puisi: Sonet Api
Puisi-puisi Rion Albukhari Sonet Api Perlambang yang kukuh, tercermin dalam rangkamu, di dalamnya kobar kecemasan, mengintai bayang-bayangku. Dari dalam dirimu, meruyak kabut, melengking titah, menggelinjang amarah. Pada saat yang lain, kau merasuk ke mataku, berloncatan dari mulutku. Barangkali setelah ini aku benar-benar akan menjelma dirimu, oh bunga-bunga panas yang terbang, nantikan
-
Puisi: Sajak Kenangan Kota Tua
Puisi-puisi Syukur Budiharjo Sajak Kenangan Kota Tua /1/ Jejak kakiku tersimpan di sini. Jalan Kopi. Ditembak tajamnya tatapan mata pengojek sepeda. Diburu lenguh mikrolet dan bus kota. /2/ Jalan Kali Besar Timur Jalan Kali Besar Barat. Dibelah kanal menghitam kian sekarat. Dikepung Gedung Merah juga gedung tua kayu jati. /3/ Jalan Asemka