Jefribagusp, Cukup, dan Keberanian Menjadi Biasa

Sebagai lelaki yang pernah merasakan pahitnya perpisahan, saya hatam betul rasa lelah. Lelah karena tuntutan ini itu. Harus begini begitu. Harus seperti ini seperti itu.

Akhir-akhir ini, dunia rasanya menuntut kita untuk selalu jadi sesuatu: kalau tidak sukses di usia muda, ya setidaknya harus kelihatan bahagia di media sosial. Kalau tidak punya pekerjaan yang mapan, minimal punya rutinitas pindah-pindah ngopi di coffeshop.

Tapi buat kita-kita yang tinggal di Situbondo, hidup kadang kala bukan soal menaklukkan apa-apa, yang paling penting bagaimana bertahan hidup tanpa harus kehilangan akal sehat.

Keresahan macam itulah yang ditangkap dengan ciamik oleh Jefri Bagus Prakoso atau yang akrab disapa Jejek dalam karya musik terbarunya berjudul Cukup.

Jejek adalah seorang lelaki yang barangkali sampai saat ini sedang dalam pencarian belahan jiwa sembari mewakafkan waktu sekian tahun untuk terus merawat napas indie folk yang jujur dan tentu saja membumi.

Lewat album-albumnya seperti Beranda Kota (2021), Hedon (2022), dan lagu-lagu berlirik sosial yang akrab di telinga seperti Masa Kecil, Tanah yang Hilang, Gaya Hidup, hingga lagu fenomenal Situbondo Patennang, yang membuatnya masuk dalam bagian orkestrasi gerakan anak-anak muda Situbondo merebut kekuasaan. 

Jejek menjadi bagian perekam peka zaman. Dengan gitar akustik dan lirik tanpa omong kosong, ia kerap memotret kritik sosial, kesenjangan ekonomi, hingga absurditas gaya hidup modern.

Namun, di lagu Cukup, Jejek menurunkan sedikit kompas kritik sosial eksternalnya. Kali ini, kritiknya diarahkan ke dalam diri sendiri. Sekali lagi, sebagai orang yang berkarir solo, termasuk asmara, tentu sudah akrab dengan kesendirian sekaligus kemandirian dan impitan ekspektasi sosial, Jejek menyuarakan sebwa kegelisahan yang sangat personal, namun universal.

Kelelahan Berpura-pura dan Estetika “Biasa Saja”

Lagu ini dibuka dengan bait yang sangat terang:

“Tak ada yang benar-benar berubah / Hanya pagi yang datang seperti biasa / Kubuka mata, kubiarkan dunia / meski perlahan jatuh tanpa banyak kata.”

Secara keindahan, aduh gak enak nyebut yang ada kata “indahnya”. Gini aja deh, secara estetika penulisan lirik, Jejek menggunakan gaya narasi yang reflektif. Tidak ada metafora yang terlalu rumit atau bahasa bersayap yang bikin pendengar harus membuka kamus. Atau bergumam aria apa ra artena. Ia berbicara langsung, seperti seorang kawan yang curhat di warung kopi saat rokok tinggal sebatang dan kopi sudah dingin.

Di bagian Pre-Chorus, ia menegaskan tesis utama dari lagu ini: “Hari ini rasanya cukup / Tanpa harus jadi apa-apa.” Kalimat ini adalah sebuah bentuk perlawanan pasif (atau istilah kerennya, quiet acceptance) terhadap budaya hustle culture dan obsesi pencapaian yang terus-menerus dijejalkan kepada anak muda hari ini.

Mungkin, bagi seorang bujang yang pernah ditanya, “Kapan nikah?”, “Kerja di mana sekarang?”, atau “Kok begini-begini saja?”, keputusan untuk “tidak harus jadi apa-apa” adalah sebuah tindakan penyelamatan jiwa yang sangat radikal. Haha.. pasti ada yang gak setuju. Hayo ngaku?

Nah lanjut. Klimaks kejujuran Jejek meluncur deras di Verse 2:

“barangkali aku begitu lama / Berpura-pura bahagia di depan dunia / Sementara aku begitu lelah / Jika harus terlihat baik baik saja.”

Bagian ini terasa sangat relatable dan menyentuh. Kita semua pasti pernah berada di posisi ini. Berpura-pura tangguh, berpura-pura bahagia di media sosial, padahal masih ingat mantan. Yang kemudian diam-diam lihat ig-nya lagi lalu berujung hati terluka. Persis seperti yang Cak Rusdi katakan: Lelaki tidak menangis, tapi hatinya berdarah. Hmm..

Nah penggalan lirik tersebut seolah membawa kita ke dalam kamar lalu menyadari bahwa kita cuma manusia ringkih yang lelah memenuhi ekspektasi orang lain. Jejek dengan jujur mengakui kelelahan itu.

Paradoks Kebahagiaan dalam Balut Musik Folk

Saya bukan pengamat musik. Saya hanya pendengar musik. Nah kalau didenger-dengerin, musiknya Jejek ini, seperti karya-karya Jejek sebelumnya, pendekatan akustik yang dibawanya itu memberikan ruang bernapas bagi liriknya. Musiknya tidak riuh. Tak rami. Ia membiarkan vokal dan petikan gitar menjadi instrumen utama dalam menyampaikan emosi.

Nada-nada yang dipilih ngajak pendengar masuk ke dalam suasana kontemplatif: ini tu bukan kesedihan yang menye-menye atau meratap, melainkan ketenangan setelah badai emosi pelan-pelan mereda.

Lalu di bagian Chorus. Nah di sini Jejek menawarkan resolusi atas kegelisahan tersebut:

“Aku tak mencari yang luar biasa / Cukup hati yang tenang / Dan hari yang sederhana / Sebab kebahagiaan / Tak benar-benar pergi / Ia hanya menunggu / aku berhenti mencari.”

Gatra “ia hanya menunggu aku berhenti mencari” adalah sebuah paradoks yang manis. Beremma maksotta?

Begini. Sering kali kita sibuk mengejar kebahagiaan di tempat-tempat yang jauh. Di karir yang mentereng, hubungan asmara yang sempurna, atau barang-barang yang mahal. Padahal, kebahagiaan itu justru hadir ketika kita berhenti mengejar dan mulai menerima diri sendiri serta keadaan saat ini. Sepakat?

Swakritik dan Ketenangan

Mengulas karya Jejek sesungguhnya selalu menarik. Tapi ya jarang-jarang kita lakukan. Padahal kalau benar-benar kita internalisasi baik-baik, lagu-lagu Jejek menarik karena ia berada di persimpangan dua hal, menurut saya: ketajaman membaca realitas sosial dan kehangatan humor/kesederhanaan orang-orang biasa.

Nah dalam lagu Cukup, gaya penulisan liriknya memperlihatkan pendewasaan emosional. Jika di lagu “Hedon” atau “Media Sosial” Jejek bertindak sebagai pengamat yang mengkritik konsumerisme masyarakat, di lagu Cukup, ia memilih menjadi korban. Korban yang berdamai dengan keadaan. Lagu ini menjadi semacam terapi diri (dan bagi pendengarnya) untuk melepaskan beban menjadi “orang penting”.

Kalau kata Gus Baha, “Dianggap bukan siapa-siapa itu lebih menenangkan bagi saya”.

Jejek kayak mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa jika hari ini kita tidak menghasilkan pencapaian besar. Tidak apa-apa jika status kita masih sendiri dan hidup kita biasa-biasa saja. Selama hati tenang dan hari berjalan sederhana, itu sudah Cukup.

Terakhir. Lagu Cukup ini, menurut sayaberhasil menjadi ruang kejujuran bagi siapa saja yang lelah berpura-pura baik-baik saja di hadapan calon mertua dunia. Bagi saya, Jejek berhasil mencipta lagu yang easy listening, enak didengar. Jejek seolah ingin memberikan pelukan hangat lewat lagu dan kata-kata penenang bagi orang-orang yang sedang lelah berjuang.

Patennang!

Penulis

  • Moh. Farhan, pengusaha MaduBaik. Guru SMAN 1 Situbondo.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen

Rumah Dalam Mata

fulitik hans

Beginilah Cara Mas Rio Main Serius: Investor Global Datang, Rakyat Tetap Pegang Kendali

Irham Fajar Alifi Puisi

Puisi: Kita Tak Sendiri

Puisi Thomas Elisa

Puisi-puisi Thomas Elisa

Buku Indra Nasution Ulas

Ulas Buku – Jurnalisme dan Politik di Indonesia, Biografi Mochtar Lubis

Ipul Lestari Puisi

Alisa, Kamulah Puisiku

ebook

Ebook: Lovember

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen: Peristiwa Menjelang Pemilu Karya Ahmad Zaidi

Febe TP Puisi

Ironinya Negeri Ini

Agus Hiplunudin Cerpen

Cerpen: Janda

Apacapa

Setelah Bapak Mandi

Resensi

Resensi: Teka Teki Rumah Aneh

abdul wahab Apacapa fulitik

Tentang Anggota DPRD dan Aspirasi Rakyat

Alvin Hasany Apacapa covid 19

Covid 19: Vaksinasi dan Mobilitas Sosial

Apacapa Kampung Langai Situbondo Wilda Zakiyah

Festival Kampung Langai 6: Pertemuan dengan Sosok yang Lain

Fahris A. W. Puisi

Puisi – Lagu Masa lalu

Mohammad Ghofir Nirwana Puisi

Puisi: Aku Ingin Pergi ke Suatu Tempat yang Tanpa Sendu

Ahmad Zaidi Apacapa

Tentang Kita yang Terlalu Banyak Bicara Omong Kosong

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Novel Anak Bersudut Pandang Banyak

Apacapa Esai Rahman Kamal

Laut Memanggil, Dik. Sudahkah Kau Menjawabnya?