Polemik Gus Miftah dan Klarifikasi Habib Zaidan

“Sangat tidak masuk akal jika seseorang menertawakan sesuatu tanpa suatu alasan, kecuali orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan.” – Merawatingat

Akhir-akhir ini publik diramaikan oleh potongan video ceramah Gus Miftah yang isinya dianggap merendahkan pedagang es teh keliling ketika sedang berlangsung pengajian. Video tersebut mendapat banyak cibiran dari masyarakat luas. Pembaca yang budiman sudah pasti tahu terkait isi cuplikan videonya. Dalam video tersebut Gus Miftah mengeluarkan kalimat yang menyertakan kata Gobl*k terhadap pedagang es teh bernama bapak Sunhaji dan sontak ucapan Gus Miftah tersebut disambut dengan gelak tawa yang terbahak-bahak diseisi pengajian.

Melihat hal ini banyak diantara masyarakat memberikan tanggapannya bahwa hal tersebut kurang tepat secara adab apalagi hal kurang menyenangkan tersebut disampaikan oleh seorang pemuka agama. Meskipun Gus Miftah telah menyampaikan permintaan maaf langsung kepada bapak Sunhaji namun masyarakat seakan masih belum bisa menerima terhadap apa yang sudah dilakukan oleh Gus Miftah. Hal tersebut dapat kita amati dari makin banyaknya postingan tentang video Gus Miftah yang lainnya, yang dianggap oleh masyarakat juga keluar dari nilai-nilai luhur seorang pemuka agama.

Salah satu videonya Gus Miftah yang kembali menjadi sorotan adalah pernyataannya yang dinilai menghina seniman legendaris Yati Pesek. Dalam sebuah video pertunjukan wayang yang beredar, Gus Miftah tampak melontarkan komentar yang merendahkan fisik Yati, memicu kemarahan publik, khususnya dari kalangan seniman dan budayawan. Yati Pesek, yang telah mengukir prestasi di dunia seni selama bertahun-tahun, merasa tertekan dan sakit hati atas ucapan yang dianggap sebagai ejekan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa selama kariernya, ia tak pernah menerima perlakuan semacam itu, bahkan sampai menangis ketika mendengar komentar Gus Miftah yang ia anggap sebagai lelucon yang tidak pantas.

Tidak hanya sampai disitu saja Gus Miftah benar-benar dikuliti oleh Netizen Indonesia, video Gus Miftah menoyor istri juga berhasil diunggah ke publik, Gus Miftah mengejutkan publik ketika kamera menangkap momen tak terduga di mana ia menoyor kepala istrinya di depan umum. Aksi yang dianggap sebagai lelucon tersebut langsung menuai kritik dari netizen, yang menilai tindakan itu tidak pantas dan mencerminkan kurangnya rasa hormat terhadap perempuan.

Secara pribadi tentu saya sedikit memberikan opini terkait polemik yang sedang terjadi saat ini terkait sikap Gus Miftah mengingat kasus tersebut sudah terlanjur viral. Gus Miftah menyandang status sebagai tokoh agama bahkan Presiden mengangkat dirinya sebagai staf khusus bidang kerukunan beragama. Sebagai seorang pemuka agama dan bagian dari pemerintahan tidak sepantasnya Gus Miftah menggunakan kata-kata yang konotasinya negatif dan cenderung kasar karena sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila apalagi dengan PD-nya menganggap bahwa itu bagian dari metode dakwah seperti apa yang telah disampaikan oleh Habib Zaidan dalam video klarifikasinya. Bagi saya hal tersebut belum pantas disebut metode. Metode seperti yang kita ketahui bersama adalah sebuah cara yang teratur dan terencana untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan, namun jika sampai dalam sebuah metode seseorang merendahkan dengan menyertakan kata-kata kasar  itu bukan sebuah metode melaikan habits atau suatu kebiasaan dari Gus Miftah yang harus segera diperbaiki karena beberapa video yang beredar Gus Miftah memang sering menggunakan kata-kata bernada kasar seperti kata g*blok.

Klarifikasi Gus Zaidan Yahya

Setelah video Gus Miftah viral, Habib Zaidan yang terlibat dalam pengajian tersebut dan juga ikut menertawakan suasananya turut memberikan klarifikasi melalui postingan video yang pesannya bahwa dirinya tidak menertawakan bapak Sunhaji yang diolok-olok oleh Gus Miftah namun Habib Zaidan menertawakan suasana pada saat pengajian pada malam itu.

Logikanya, Gus Zaidan menertawakan suasana pengajian, suasana pengajian saat itu juga dipenuhi gelak tawa karena menertawakan bapak Sunhaji yang habis diolok-olok oleh Gus Miftah, berarti bentuk tertawa Gus Zaidan juga bagian dari menertawakan Bapak Sunhaji. Sangat tidak masuk akal jika seseorang menertawakan sesuatu tanpa alasan, kecuali orang tersebut mengalami gangguan jiwa. Kehadiran dan respon Habib Zaidan di momen tersebut akan semakin membuat publik semakin geram, mengingat statusnya sebagai seorang habib yang memiliki tanggung jawab moral. Seharusnya jika Habib Zaidan sadar, dirinya bisa saja langsung merespon keadaan pada saat itu, baik dalam bentuk teguran ataupun candaan yang tujuannya tidak membenarkan hal tersebut.

Penulis

  • Penulis bernama lengkap Indra Andrianto. Lahir di Bondowoso pada bulan Maret 1995. Penulis buku Kumpulan Opini #Merawatingat (terbit tahun 2018) dan Catatan Bingung (terbit tahun 2022). Penulis juga aktif menjadi pendidik di JB School Badung, Bali.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa

Yang Tidak Dilihat Firdaus soal Honorer Situbondo

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Teman Saya yang Sudah Menjadi Ayah

Apacapa

Kumpul Komunitas: Merdeka Belajar dan Belajar Merdeka

Apacapa

Solois dan Gejala Sosial

Advertorial

Rekomendasi Popok Bayi Terbaik Sesuai Usia

Apacapa Kampung Langai

Mengenal Festival Kampung Langai Situbondo

Apacapa Esai Fendy Sa’is Nayogi

Jangan Dilupakan, Folklor Sebagai Media Membentuk Karakter Bangsa

fulitik masrio

Relawan Mas Rio Bagikan 50 Ribu Kalender Patennang untuk Masyarakat Situbondo

Diego Alpadani Puisi

Puisi: Rabu Malam

Indra Nasution Prosa Mini

Daya Kritis yang Hilang

Apacapa Nur Husna

Bullying Bukan Budaya Kita

Cerpen Violeta Heraldy

Cerpen : Pertemuan Kembali

Apacapa apokpak N. Fata

Stop! Ngapain Banyak Baca?

Cerpen

Cerpen – Musim Kawin

Ahmad Syauqil Ulum Prosa Mini

Kenapa Aku, Siapa Aku?

Apresiasi Ridha Aina T

Musik Puisi – Sepi dan Emosi

Advertorial

Mengenali Gejala dan Cara Mengatasi Demam Berdarah Sejak Dini

Advertorial

Perkembangan Tipe-tipe Kamar Mandi

Covid Irene Dewy Lorenza Puisi

Puisi: Pandemi

Nuriman N. Bayan Puisi

Mata Darah dan Puisi Lainnya Karya Nuriman N. Bayan