
Bagaimana rasanya hidup sebagai perempuan ketika tubuhnya terus-menerus berada dalam situasi yang tidak aman? Pertanyaan ini tidak hanya menjadi pembuka resensi, tetapi juga menjadi benang merah yang menjahit keseluruhan pengalaman membaca kumpulan cerpen karya Raisa Kamila. Melalui cerpen-cerpen yang disusun dengan nada tenang dan reflektif, pembaca diajak menyelami pengalaman perempuan yang hidup di tengah ruang sosial yang tampak akrab seperti rumah, sekolah, pasar, lingkungan ibadah, dan ruang publik. Namun, sesungguhnya sarat dengan pengawasan, penilaian moral, serta ancaman terhadap tubuh perempuan. Pengalaman tersebut tidak disampaikan secara meledak-ledak, melainkan hadir perlahan sebagai kegelisahan yang menetap dan sulit dihindari.
Kumpulan cerpen ini memuat tiga belas judul, namun resensi ini secara selektif menyoroti lima cerpen yang paling kuat merepresentasikan tema besar buku, yakni ketidakamanan tubuh perempuan dan kontrol sosial yang menyertainya. Pemilihan cerpen dilakukan dengan mempertimbangkan konsistensi tema, kekuatan konflik batin tokoh, serta relevansinya terhadap isu gender dan kekuasaan. Dengan demikian, kelima cerpen tersebut dapat dibaca sebagai representasi yang saling menguatkan, sekaligus memperlihatkan pola pengalaman perempuan yang berulang dalam konteks sosial yang berbeda.
Secara umum, cerpen-cerpen Raisa Kamila tidak menghadirkan konflik besar yang bersifat dramatik atau alur yang bergerak cepat. Sebaliknya, konflik dibangun melalui pengalaman batin tokoh-tokoh perempuannya yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketidakamanan tidak selalu hadir sebagai peristiwa ekstrem, melainkan muncul dalam bentuk perasaan kosong, kecemasan, rasa bersalah, dan kewaspadaan yang terus-menerus. Tokoh perempuan jarang digambarkan melakukan perlawanan terbuka, mereka lebih sering berada dalam posisi menimbang, menahan diri, atau bahkan pasrah sebagai bentuk strategi bertahan hidup.
Tema ketidakamanan tubuh perempuan juga muncul dalam cerpen Peri Gigi, yang menghadirkan pengalaman masa kanak-kanak sebagai titik awal relasi perempuan dengan rasa takut dan ketidakberdayaan. Tubuh anak perempuan berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya ia pahami, tetapi membekas sebagai kecemasan yang menetap. Hal ini tampak dalam kutipan, “Aku merasa ada yang janggal dan aku diam saja.” (2024:21). Kutipan tersebut menunjukkan bagaimana kebingungan dan keterpaksaan sejak usia dini membentuk relasi perempuan dengan tubuhnya sendiri, bahkan sebelum ia memahami apa yang sedang terjadi.
Sementara itu, cerpen Kamar Mandi menempatkan ruang yang seharusnya paling privat sebagai lokasi munculnya rasa terancam. Kamar mandi tidak sepenuhnya menjadi ruang aman, melainkan ruang yang tetap berada dalam pengawasan dan kecemasan. Hal ini tercermin dalam kalimat, “Dia duduk di kloset dan melihat ke jendela di atap kamar mandi” (2024:31). Kutipan ini menandakan bahwa bahkan di ruang tertutup, tubuh perempuan tetap merasa terbuka, diawasi, dan tidak sepenuhnya bebas.
Tema ketidakamanan tubuh perempuan tampak kuat dalam cerpen Cerita dari Sebelah Masjid Raya, terutama melalui kontrol moral yang dilekatkan pada tubuh perempuan. Hal ini terlihat dalam pernyataan, “Kau tahu, kan, dosa perempuan yang belum menikah itu ditanggung ayahnya? Semua itu bermula dari sehelai rambut yang dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya.” (2024:75). Tubuh perempuan, khususnya rambut, tidak hanya diawasi, tetapi juga dijadikan simbol dosa dan bencana. Kekerasan terhadap tubuh perempuan dilegitimasi di ruang publik.
Cerpen Bagaimana Cara Mengatakan “Tidak”? memperlihatkan bentuk lain dari ketidakamanan tubuh perempuan melalui aturan yang tampak protektif, tetapi justru memindahkan tanggung jawab kepada perempuan itu sendiri. Hal ini tampak jelas dalam kutipan, “Orangtua murid diimbau untuk melakukan dua hal agar kejadian itu tak terulang lagi: pertama, tidak mengantarkan anak-anak ke sekolah terlalu pagi dan kedua, menyuruh anak perempuan untuk memakai celana pendek di balik rok seragam.” (2024:79) Kutipan ini menunjukkan bagaimana tubuh perempuan dikontrol sebagai solusi semu atas kekerasan, sementara pelaku dan sistem tidak benar-benar dipersoalkan.
Adapun cerpen Suatu Hari, Kamu Akan Mengerti menjadi puncak reflektif dari keseluruhan tema buku. Ketidakamanan tidak lagi hadir sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai trauma yang terfragmentasi dalam diri tokoh perempuan. Hal ini terlihat dalam pengakuan, “Ada tiga babak dalam episode kusut yang aku sebut tadi: kekerasan pertama, kekerasan kedua, lalu caraku untuk bisa tetap hidup.” (2024:103) Tubuh perempuan hadir sebagai ruang ingatan, luka, dan pemulihan yang tidak linear, menegaskan bahwa bertahan hidup adalah proses panjang yang tidak pernah sepenuhnya selesai.
Konsistensi tema dan pendekatan naratif dalam cerpen-cerpen ini tidak dapat dilepaskan dari latar belakang pengarang. Raisa Kamila lahir dan besar di Banda Aceh, wilayah dengan norma sosial dan keagamaan yang kuat dalam mengatur kehidupan publik, terutama tubuh perempuan. Selain itu, latar pendidikan pengarang di bidang filsafat dan sejarah tampak memengaruhi cara ia membangun cerpen yang reflektif, tidak menggurui, dan cenderung menempatkan pengalaman personal sebagai bagian dari struktur sosial dan sejarah yang lebih luas. Keterlibatannya dalam Perkawanan Perempuan Menulis juga mempertegas keberpihakan narasi terhadap pengalaman perempuan.
Dari segi gaya penulisan, Raisa Kamila menggunakan bahasa yang sederhana, lugas, dan cenderung datar. Pilihan sudut pandang orang pertama menciptakan kedekatan emosional antara tokoh dan pembaca, sehingga pembaca dapat merasakan kegelisahan tokoh tanpa perlu penjelasan berlebihan. Minimnya metafora dan dramatika justru memperkuat kesan bahwa ketidakadilan terhadap perempuan telah menjadi bagian dari rutinitas yang dinormalisasi.
Keunggulan utama buku ini terletak pada konsistensi tema serta keberanian pengarang mengangkat isu tubuh perempuan tanpa romantisasi penderitaan. Cerpen-cerpen ini tidak menawarkan solusi instan atau akhir yang menghibur, melainkan mengajak pembaca untuk merenung dan mempertanyakan kembali norma yang selama ini diterima begitu saja. Namun, suasana muram yang relatif seragam dapat menjadi keterbatasan karena berpotensi menimbulkan kejenuhan emosional, terutama bagi pembaca yang mengharapkan variasi konflik atau resolusi yang lebih eksplisit.
Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini berhasil menjawab pertanyaan pembuka resensi dengan menghadirkan pengalaman hidup perempuan yang tidak pernah benar-benar lepas dari rasa waspada. Dalam cerpen-cerpen Raisa Kamila, menjadi perempuan berarti hidup dalam situasi di mana tubuh terus dinegosiasikan: antara keinginan pribadi dan tuntutan sosial, antara keselamatan diri dan norma yang memaksa kepatuhan, serta antara diam dan risiko untuk disalahkan. Tubuh perempuan tidak sekadar hadir sebagai identitas biologis, melainkan sebagai ruang yang sarat makna, dikontrol, diawasi, dan sering kali dijadikan penentu moralitas. Melalui pendekatan penceritaan yang tenang, nyaris datar, namun justru menghantui, pengarang memperlihatkan bahwa ketidakadilan dan kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk ledakan peristiwa, melainkan melalui kebiasaan, aturan, dan cara pandang yang telah dianggap wajar.
Oleh karena itu, buku ini tidak hanya menawarkan pengalaman estetik, tetapi juga mengajak pembaca untuk melakukan refleksi kritis terhadap realitas sosial yang melingkupi kehidupan perempuan. Dengan kekuatan naratif yang subtil namun konsisten, kumpulan cerpen ini layak direkomendasikan bagi pembaca yang tertarik pada sastra bertema gender, pengalaman perempuan, dan kritik sosial yang disampaikan secara halus, jujur, dan menggugah kesadaran.
Info Buku
Judul : Cerita dari Sebelah Masjid Raya
Penulis : Raisa Kamila
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan : I, September 2024
ISBN : 978-602-441-353-8
Tebal :111 halaman
Tinggalkan Balasan