
Ada satu pertanyaan yang mengganjal pikiran saya dan barangkali beberapa orang juga sempat berpikir hal yang sama:
Jika saya mati besok, apakah dunia akan merasa kehilangan?
Mungkin iya. Mungkin juga tidak.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan klise. Namun justru karena kesederhanaannya, itu sering luput untuk diakui. Kita hidup di dunia yang sibuk merayakan keberhasilan, produktivitas, dan kebermanfaatan, tetapi jarang memberi ruang pada pertanyaan paling sunyi tentang keberadaan diri.
Dan jika kematian saya tinggal kurang dari 24 jam, apa yang akan saya lakukan?
Lagi-lagi pertanyaan itu mengingatkan saya pada sejumlah film legendaris yang berkisah tentang seseorang yang berniat mengakhiri hidupnya, lalu memilih menghabiskan tabungan untuk berkeliling dunia, menuntaskan daftar impian, atau sekadar menikmati hidup sebelum semuanya berakhir. Bedanya, tokoh-tokoh dalam film tersebut seringkali masih diberi satu peluang: kesempatan sembuh, kesempatan hidup kembali, atau keajaiban yang datang di detik terakhir.
Namun Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tidak bergerak ke arah sana. Novel ini tidak menjanjikan mukjizat. Ia justru membawa pembaca duduk diam bersama tokohnya yang dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup bisa terasa kosong, melelahkan, dan tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk dilanjutkan. Brian Khrisna membuka novelnya dengan perasaan itu secara telanjang:
โAku tidak pernah menyangka, kesepian ternyata bisa semembunuh ini.โ (hlm. 3)
Di titik inilah novel Brian Khrisna mulai berbicara tentang eksistensi manusia: tentang hidup yang tidak selalu memiliki makna, tetapi tetap harus dijalani.
Eksistensi, Absurditas, dan Krisis Identitas
Dalam filsafat eksistensialisme, Jean Paul Sartre menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia tidak dilahirkan dengan makna tertentu; kitalah yang dipaksa atau dipersilakan untuk menciptakan makna itu sendiri melalui pilihan-pilihan hidup. Kebebasan ini, alih-alih membebaskan sepenuhnya, justru sering melahirkan kecemasan dan kelelahan.
Ale, tokoh utama novel ini, tidak merasa hidupnya gagal karena satu peristiwa tertentu. Yang ia alami adalah akumulasi penolakan, pengabaian, dan kekerasan simbolik yang berlangsung lama. Ia hidup, tetapi tidak pernah benar-benar merasa ada. Dalam salah satu pengakuannya, Ale menyebut dirinya hanya sebagai โpemeran pembantu dalam cerita kehidupannya sendiriโ (hlm. 9). Kalimat ini bukan sekadar keluhan personal, melainkan penanda krisis eksistensi: ketika seseorang gagal mengakui dirinya sebagai subjek utama dalam hidupnya.
Ale mengalami krisis identitas bukan karena ia tidak mengenal dirinya, tetapi karena identitasnya dibentuk sepihak oleh penilaian sosial: tubuhnya, bau tubuhnya, penampilannya, hingga cara ia mengekspresikan emosi. Sejak kecil, ia belajar satu hal penting: bahwa marah adalah memalukan, sedih adalah cengeng, dan menjadi diri sendiri berarti siap dihukum. Orang tuanya tidak membela, lingkungan tidak memberi ruang, dan dunia mengajarinya untuk menelan segalanya dalam diam.
Dalam konteks ini, depresi Ale bukan semata persoalan kesehatan mental individual. Ia adalah produk relasi sosial yang timpang. Krisis identitasnya lahir dari pengalaman terus-menerus yang dianggap salah, berlebihan, atau tidak pantas. Ia tidak diberi kesempatan untuk membangun makna dirinya sendiri padahal, dalam eksistensialisme, makna hanya bisa lahir dari kebebasan menjadi subjek. Ketika kebebasan itu dirampas secara sosial, eksistensi runtuh dari dalam. Lantas bagaimana?
Albert Camus menyebut kondisi ini sebagai absurditas: benturan antara hasrat manusia untuk menemukan makna dengan dunia yang tetap diam dan tidak memberi jawaban. Dalam absurditas, manusia dihadapkan pada tiga pilihan: bunuh diri, melarikan diri ke ilusi (agama atau dogma yang menutup pertanyaan), atau menerima absurditas itu dan tetap hidup.
Nah, Ale dan keinginannya untuk bunuh diri tidak digambarkan sebagai tindakan dramatis, melainkan sebagai kelelahan eksistensial. Ia tidak lagi mencari kebahagiaan; ia hanya ingin berhenti. Dalam salah satu pengakuannya, Ale menyebut bahwa lelahnya bukan fisik, melainkan sesuatu di dalam dirinya yang ingin disudahi (hlm. 17). Ini adalah bahasa khas absurditas: keinginan untuk mengakhiri hidup bukan karena hidup terlalu singkat, melainkan karena terlalu kosong.
Namun lagi-lagi jika menengok pendapat Camus, bunuh diri bukanlah jawaban atas absurditas. Baginya, bunuh diri justru menghapus kemungkinan manusia untuk melawan absurditas itu sendiri. Dan menariknya, novel ini tidak membiarkan Ale mati begitu saja. Bahkan rencana kematiannya digagalkan oleh hal yang tampak remeh: mie ayam yang tutup. Hehe.
โMie ayamnya tutup. Bahkan untuk mati dengan cara yang aku inginkan pun aku gagal.โ (hlm. 30)
Kegagalan ini terasa ironis, nyaris lucu, tetapi justru di sanalah absurditas bekerja. Dunia tidak memberi kematian yang rapi. Dunia memaksa Ale tetap hidup meski tanpa alasan yang jelas. Di sinilah krisis identitas bekerja secara sunyi. Ketika seseorang tidak lagi mampu mendefinisikan dirinya selain sebagai beban, kegagalan, atau angka statistik, maka eksistensinya runtuh perlahan. Bunuh diri, dalam konteks ini, bukan sekadar kematian biologis, melainkan keinginan untuk menghentikan penderitaan eksistensial.
Dunia Sosial yang Melahirkan Kehampaan
Penting dicatat bahwa krisis eksistensi dalam novel ini tidak lahir dari ruang hampa. Brian Khrisna dengan cermat menempatkan tokohnya di tengah realitas sosial yang keras: kemiskinan, kriminalitas, relasi manusia yang dingin, serta sistem hidup yang menuntut ketangguhan tanpa menyediakan perlindungan.
Dunia dalam novel ini tidak jahat secara spektakuler, malah justru ke arah banal. Ketidakpedulian, rutinitas yang menindih, dan kesenjangan hidup menjadi latar yang membuat eksistensi manusia terasa kecil dan mudah dihapus. Dalam kondisi semacam ini, hidup bukan lagi ruang aktualisasi diri, melainkan sekadar usaha bertahan.
Eksistensialisme Sartre menegaskan bahwa manusia sepenuhnya bertanggung jawab atas hidupnya. Namun novel ini secara halus mengajukan pertanyaan balik: bagaimana mungkin seseorang diminta bertanggung jawab penuh atas hidupnya, jika dunia saja terus-menerus mempersulit bahkan untuk sekadar bernapas? Ya, kan?
Mie Ayam: Simbol Kesederhanaan di Tengah Absurditas
Di tengah keinginan untuk mengakhiri hidup, muncul satu hasrat yang tampak sepele: makan seporsi mie ayam. Keinginan Ale untuk makan mie ayam sebelum mati adalah salah satu simbol terkuat dalam novel ini. Mie ayam bukan makanan istimewa. Ia murah, akrab, dan sering dijumpai sehari-hari. Justru karena itu, ia menjadi penting.
Dalam kondisi ketika hidup kehilangan makna besar, Ale tidak mencari pencerahan spiritual atau tujuan agung. Ia hanya ingin merasakan sesuatu yang sederhana dan nyata. Dalam absurditas, pengalaman konkret sering kali menjadi satu-satunya jangkar manusia pada dunia.
Mie ayam, dalam novel ini, dapat dibaca sebagai simbol perlawanan kecil terhadap kehampaan. Ia mewakili kesederhanaan yang sering kita remehkan, tetapi diam-diam menopang hidup: rasa hangat, kenyang, dan hadir sepenuhnya di satu momen. Ketika hidup terasa terlalu berat untuk dimaknai, mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menjalaninya sepotong demi sepotong atau seporsi demi seporsi.
Simbol ini semakin kuat ketika Ale bertemu orang-orang pinggiran: mereka yang hidupnya jauh dari kata ideal, tetapi tetap bertahan. Dari mereka, Ale belajar bahwa hidup tidak selalu tentang diakui atau dikenang. Kadang, hidup hanya soal menyesuaikan diri, seperti pohon jati yang meranggas saat kemarau, tetapi tidak menyerah pada musim (hlm. 166).
Refleksi: Mari Bertahan Meski Dunia Tak Merestui
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati tidak menutup ceritanya dengan jawaban pasti. Novel ini tidak berkata bahwa hidup akan selalu membaik, atau bahwa penderitaan pasti berujung bahagia. Namun justru di sanalah kejujurannya.
Camus pernah menulis bahwa satu-satunya sikap filosofis yang benar terhadap absurditas adalah pemberontakan: memilih hidup, meski tanpa jaminan makna. Novel ini, secara implisit, mengajak pembaca melakukan pemberontakan kecil itu bertahan satu hari lagi, satu pengalaman lagi, satu porsi mie ayam lagi.
Dan bagi saya, novel ini bukan sekadar kisah tentang kematian, melainkan tentang keberanian: keberanian untuk tetap hidup di dunia yang tidak selalu ramah, tidak selalu adil, dan sering kali tidak memberi alasan yang jelas.
Barangkali memang tidak ada jawaban pasti atas pertanyaan โuntuk apa kita hidup?โ Namun selama masih ada seribu satu cara kecil untuk menikmati dunia, meski dunia tidak merestui, dan barangkali itulah hidup masih layak diperjuangkan. Iya, kan?
Info Buku
Judul : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Pengarang : Brian Khrisna
Penerbit : Grasindo
Cetakan pertama : Januari 2025
Tebal : 216 hlm; 13,5 ร 20 cm
ISBN : 978-602-05-3132-8
Tinggalkan Balasan