Bulan: September 2019
-
Puisi: Kota Melankoli
Puisi Rizqi Mahbubi* Stasiun Kepergian Segenap doa, dilipat rapi dalam koper hitam Dinding, tiang, kursi tunggu berwarna perih perpisahan Kehilangan, dan ketabahan Bahwa tak ada jumpa yang baka. Dekap dan kecup teramat hangat dirangkai Agar di rantau kenangan tetap bising Serupa kereta melaju di rel-rel baja. Apa yang lebih perih di dengar Dari suara speaker
-
Cerpen: Perempuan Capung Merah Marun
Oleh: Agus Hiplunudin Sssssst… bunyi yang keluar dari mulutmu, sambil menempelkan telunjukmu di antara sepasang bibirmu—yang merah muda. Telunjukmu bagaikan sebuah anak selot yang mengunci pintu. Aku pun seketika diam dan duduk mematung. Sepasang matamu menatap seekor capung merah marun yang hinggap di ujung bunga gelombang cinta. Perlahan kau mengangkat pantatmu, lalu berjalan sangat
-
GNI Indonesia 2019: Perjalanan Melepaskan Ketergesa-gesaan
Oleh: Ahmad Zaidi* Kau menyanyikan lagu ini, mengikuti suara vokalis yang memenuhi udara malam. “Sekian lama aku mencoba, menepikan diriku di redupnya hatiku, letih menahan perih yang kurasakan, walau kutahu kumasih mendambamu.” Lagu itu mengantarmu memulai catatan ini. Kau bersama lima orang kawanmu, di sebuah meja cafe di sudut Jember yang dingin. Dari lahan kosong
-
Puisi: Resonansi Karya Mim A Mursyid
Puisi-Puisi Mim A Mursyid* IBU Ibu adalah kesetiaan Pada cinta dan kasih sayang. Sering desing tangisku Membunuh lelap malam tenangmu, Namun tetap kau teduh tanpa keluh. Kerap aku bersikap tak ramah Kala dada sempitku direnggut amarah Sejenak pun tak pernah kau hilang tabah Lalu engkau memeluk dan meniup ubun-ubunku, Di sampingmu, Ibu Jibril mengamini nafasmu.
-
Cerpen: Enam Cerita tentang Kenangan
Oleh: M Firdaus Rahmatullah Kenangan dan Perkelahian Jika kau bertanya, adakah yang lebih purba dari kenangan? Maka akan kujawab dengan ceritaku ini. Semenjak perkelahian itu, aku dan ia tiada pernah saling menyapa. Hatiku serupa batu yang paling purba dan tak dapat dikerat dengan alat apa pun. Apalagi dihancurkan. Aku membencinya setengah mati. Bagaikan tiada lagi
-
Ikhlas Ngajhâr
Oleh: Dhafir Abdullah Adu bapak ibu guru Ngajhâr muret pa ikhlas ongghu Sabbhâr ngastètè dâlâm adhâbu Allah ta’ala pas e parabu Niat bhâgus pas pasamporna Allah settong tojjhuânna Patengghi ongghu aghâmana Dunnya akherat mandhâr e tarema’a Ngajhâr murèt palaten ongghu Bueng rassa ru kabhuru Pa pèntèr anak sè ghi’ bhudhu Adidik muret nambei èlmu Akhlak samporna dâri nabina
-
Tips Terbaik dalam Memilih Kendaraan Niaga
ktbfuso Kendaraan mempunyai dua fungsi yang bisa dipilih dan tergantung dengan kebutuhannya masing-masing. Misalnya untuk fungsi yang pertama adalah digunakan untuk membantu mobilitas seseorang sehingga digunakan sebagai kendaraan pribadi. Sedangkan untuk kebutuhan kedua adalah digunakan untuk kebutuhan komersil atau kendaraan niaga. Ketika Anda akan memilih kendaraan niaga, ada beberapa tips yang bisa digunakan sehingga nantinya
-
Wisata Perang: Gagasan Brilian Sang Bupati
Oleh: Imam Sufyan Baru-baru ini tersiar kabar bahwa Bupati Situbondo mengusulkan agar Kabupaten Situbondo memiliki wisata perang. Sebagaimana berita yang saya bagikan di dinding facebook beberapa hari lalu. Wacana itu kemudian ditanggapi oleh netizen dengan berbagai komentar. Mayoritas menanggapi dengan nada negatif dan itu hal yang biasa di era keterbukaan ini. Mengenai ide dan gagasan
-
Puisi: Melepas Air Mata
Puisi-Puisi Buday AD* RISALAH PERJALANAN Pada pagi kutitikan sebuah risalah Menjaga dalam sesuka hati dan jiwa Inilah kisah saat hari pertama kujumpa Dalam sebuah perihal menapaki jalan –jalan mutiara Dengan perjuangan sekeras empat lima. Kibarkan semangat! Bersamaku Kuarungi samudera yang beriak ombak Melawan segala tantangan menghantam Dengan doa-doa terus kulantunkan Pada tuhan sedalam-dalam. Semua akan
-
Cerpen: Pulang
Oleh: Moh. Jamalul Muttaqin “Ketika aku pulang, aku akan memberimu kabar, Sayang!” Dia bilang kepada tunangannya, Mila, sebelum kembali ke pondoknya. Sebelun mentari terbenam ke ufuk barat. Sebelum burung-burung kembali ke sarangnya. Sepanjang perjalanan dia ingat yang dikatakan Mila, “Kamu harus pulang!” Suara itu menghantui pikirannya. Seakan-akan dia tak mau kembali ke pondoknya, dia terlalu