Setelah Bapak Mandi

Saya tumbuh besar bersama seorang bapak yang luar biasa. Ia tidak banyak bicara, tapi tangannya yang kapalan dan wajahnya yang lelah setiap sore selalu jadi pengingat betapa berat perjuangan hidupnya. Setiap langkahnya terasa seperti doa yang dibungkus keringat.

Saya tahu, bapak sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga. Setiap rupiah yang ia bawa pulang bukan hanya hasil kerja keras, tapi juga wujud kasih yang tak perlu diumbar dengan kata-kata.

Namun, di balik segala keteladanannya, tentu ada sisi lain yang bikin jengkel juga. Bukan karena bapak kurang baik, justru karena bapak terlalu manusia. Dan salah satu hal yang paling “manusiawi” dari bapak adalah… bau kamar mandi setelah beliau selesai mandi.

Bau Kamar Mandi, Bau Perjuangan

Bapak mungkin tidak sadar, tapi setiap kali selesai mandi, kamar mandi rumah kami berubah jadi “arena uji napas”. Bau sabun bercampur keringat dan aroma entah apa itu kadang sampai membuat saya dan ibu saling pandang. Diam-diam kami menaruh kapur barus atau menyiram lebih banyak cairan karbol. Tapi kami tak pernah menegur bapak. Kami mengerti bapak sudah berjuang keras, dan tidak perlu mendapat beban tambahan lagi setelah pulang ke rumah.

Kami tahu, itu bukan sekadar bau. Itu bau perjuangan. Bau dari tubuh yang seharian berdiri di bawah panas matahari, yang menanggung tanggung jawab sebagai kepala keluarga tanpa banyak keluhan.

Bapak mungkin mengira itu hal sepele. Tapi bagi kami, setiap aroma yang tertinggal justru jadi pengingat bahwa ada seseorang yang pulang dengan tubuh lelah tapi hati lapang. Bahwa ada cinta yang menempel di setiap tetes keringatnya. Meskipun kadang tetap membuat saya jengkel dan bikin buru-buru menyalakan kipas di kamar mandi.

Tapi pak, kalau suatu hari bapak baca tulisan ini, boleh ya, sekali-sekali tuang karbolnya sendiri? Anggap saja bentuk gotong royong dalam mencintai kebersihan. Juga, mendulang pahala dari kami yang bersyukur tidak jengkel dengan bau kamar mandi.

Orang Paling Aman, tapi Sering Lupa Sendiri

Bapak juga punya satu kebiasaan lain yang unik: terlalu berhati-hati. Motor di luar jam tujuh malam pasti langsung dimasukkan ke dalam rumah. Sapu yang tergeletak di halaman cepat-cepat dirapikan. Bahkan, kunci pagar bisa dicek dua kali sebelum tidur. Semuanya harus melalui two step authentication sebelum bapak bisa merasa lega. Kalau masih belum, bapak pasti akan menggumam mengingatkan tak pakai lelah.

Lucunya, di balik sikap waspada itu, bapak kadang justru lupa sendiri. Barang-barang sering berpindah tempat, dan kami seisi rumah sibuk mencari sambil mengingat-ingat, “Ini pasti bapak yang mindah, deh.”

Kami tak marah. Kami tahu, itu cara bapak menjaga rumah dan keluarga. Di balik semua kekakuan itu, ada rasa cinta yang sederhana tapi nyata dalam bentuk rasa ingin melindungi dari bapak.

Di Balik Kekurangan, Ada Cinta yang Tak Tergantikan

Bapak bukan manusia sempurna, dan saya pun tidak mencari kesempurnaan darinya. Karena semakin dewasa saya, semakin saya sadar bahwa cinta orangtua tak pernah butuh validasi yang manis-manis.

cinta dan kasih sayang itu bisa muncul dalam bentuk tangan yang kotor karena bekerja. Dalam kamar mandi yang baunya “autentik”. Dalam sapu yang tiba-tiba sudah berdiri rapi di pojokan. Dalam keheningan yang penuh makna.

Bapak adalah bukti bahwa cinta kadang tidak perlu banyak kata. Cukup tindakan nyata yang sederhana tapi konsisten, meskipun tidak sempurna, dan kadang diikuti rasa jengkel juga.

Terlepas dari segala kekurangan, saya tetap sayang sampean, pak. Karena setiap langkah bapak, setiap kebiasaan kecil yang kadang bikin kesal, justru jadi pengingat bahwa cinta sejati tidak selalu wangi, tidak selalu indah, tapi selalu ada.

Selamat Hari Bapak. Semoga sehat selalu, agar kami bisa terus mencium aroma perjuangan yang sama. Meski dengan sedikit semprotan karbol setelahnya.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fahrus Refendi Puisi Puisi Madura

Puisi Madura: Sanja’

Agus Hiplunudin Apacapa

Tingkat Kepercayaan Masyarakat terhadap Parpol Diuji pada Pemilu 2019

Apacapa

Ramadan: Korban Keisengan Saat Tidur di Langgar

Fadhil Sekennies Puisi

Puisi: Restu Rindu Ayah-Ibu Karya Fadhil Sekennies

Apacapa Kakanan Situbondo

Tajhin Sora

Buku Putri Setyowati Resensi Ulas

Resensi: Memulai Kembali Hidup

Baiq Cynthia Cerpen

Cerpen – Ketika Tertidur Wajahmu Terlihat Menawan

Apacapa Mored Vania Callista Artanti

Curhat: Pak Menteri, Kami Jenuh!

Ahmad Sufiatur Rahman Cerpen

Cerpen : Ketika Tubuh Bicara

Moh. Yusran Moret

Puisi Mored: Madu Empedu dan Puisi Lainnya

Apacapa Hafizh Rafizal Adnan

Suka Duka Menjadi Anak Pejabat

Puisi Syukron MS

Puisi: Malam Minggu

Puisi Rion Albukhari

Puisi: Sonet Api

Puisi Zen Kr

Puisi : Moksa dan Puisi Lainnya Karya Zen Kr

Apacapa

Mengenang Sumur, Menatap Luka yang Curam

Cerpen Yuditeha

Cerpen : Sejarah Gumam

Apacapa Madura Totor

Sètan Nandhâng

Ienna katanny Prosa Mini

Sebuah Pilihan

Apacapa redaksi

Kampung Langai, Dik: Apa Kamu Gak Mau Nonton?

Apresiasi

Sajak Sebatang Lisong – WS. Rendra | Cak Bob