Lagu Berbahasa Rinengga: Peleburan Masa Kini dan Masa Silam

Ada peristiwa menarik dalam lanskap musik pop Jawa maupun dangdut koplo kiwari. Peristiwa itu ialah penggunaan bahasa rinengga sebagai lirik lagu. Lihat saja lirik lagu bertajuk “Kusuma Wijaya” (2025) anggitan Rendra Adi yang populer dewasa ini. Lihat juga lirik lagu “Kawitaning Sinawang” (2025) anggitan Setyo Puji yang tak kalah populer. Hampir seluruh liriknya dibalut dengan bahasa rinengga: puitik, indah, dan memesona!

Menurut Basuki dalam “Penelitian Seni Pertunjukan: Membaca Seni dan Kekuasaan” (2020), bahasa rinengga ialah bahasa Jawa yang dihias. Lebih lanjut, bahasa rinengga umumnya digunakan dalam kesusastraan Jawa, seperti naskah pewayangan, geguritan, tembang, dan lain sebagainya. Berlandas pernyataan itu, tujuan dari penggunaan bahasa rinengga ialah untuk memperindah suatu kalimat. Akibatnya, kalimat yang dihadirkan tampak menawan dan bahkan mampu melahirkan suatu emosi tertentu.

Penggunaan bahasa rinengga dalam lirik lagu tak hanya dilakukan oleh Rendra Adi maupun Setyo Puji saja. Tak sedikit pencipta lagu lain yang juga melakukan praktik serupa. Sebut saja Wahyu F. Giri, Dru Wendra Wedhatama, atau bahkan Denny Caknan yang menyelipkan sepenggal lirik bahasa rinengga dalam lagunya “Sinarengan” (2025). Syahdan, ada satu pertanyaan penting dari adanya peristiwa itu, yakni mengapa lagu berbahasa rinengga membanjir akhir-akhir ini?

Lampau

Sesungguhnya, penggunaan bahasa rinengga sebagai lirik sebuah lagu bukanlah hal yang baru. Gendhing-gendhing gamelan sangat banyak yang menggunakan bahasa rinengga. Lihat saja bagaimana liriknya yang disurat dengan bahasa sastrawi dan diiringi dengan kumandang gamelan yang mendayu-dayu.

Tak hanya itu. Lagu berbahasa sastrawi itu diinovasi menjadi bentuk yang lain, yakni langgam (perpaduan gamelan dengan keroncong). Kita bisa melihat ini melalui lagu-lagu dari Ki Narto Sabdo, macam “Kadung Tresno”, “Setyo Tuhu”, ataupun “Melati Rinonce”. Beriringan dengan Ki Narto, ada Andjar Any. Andjar Any turut menggunakan bahasa rinengga dalam lagu-lagunya, misalnya “Nyidam Sari” dan “Lintang Panjerino”.

Tidak selesai di situ saja. Dari data yang ada, penggunaan bahasa rinengga masih terus diinovasi ke bentuk lainnya. Lihat saja campursari (perpaduan gamelan, keroncong, dan musik barat)! Kita bisa melihat ini melalui lagu-lagu dari Manthous, macam “Panjerino”, “Bengawan Sore”, dan lain sebagainya.

Bahasa rinengga memang populer pada waktu itu. Akan tetapi, kepopuleran itu kian pudar di bentuk campursari terbaru. Kita bisa melihat realitas ini melalui dua sosok populer campursari pasca Manthous, yakni Cak Diqin dan Didi Kempot. Lirik lagu gubahan mereka nampak jauh dari bahasa sastrawi—rinengga. Liriknya lugas, sederhana, dan cenderung menggunakan bahasa sehari-hari. Jarang (bukan berarti tidak ada) sekali ada kiasan-kiasan yang puitik laiknya bahasa rinengga.

Saya kira, era Cak Diqin dan Didi Kempot menjadi fase lunturnya lagu berbahasa rinengga. Akan tetapi, sebelum-sebelumnya, bahasa rinengga telah mencapai fase keemasannya. Bahasa rinengga terus digunakan kendati lagunya berubah-ubah bentuk. Ini membuktikan bahwa bahasa rinengga ‘pernah’ menjadi unsur penting dalam melingkupi budaya musik Jawa.

Pop

Fase luntur itu lambat-laun kian berakhir. Keberakhiran ini dapat ditandai dengan menelurnya lagu bertajuk “Sotya” (2019) anggitan Dru Wendra. Lagu “Sotya” sungguh menarik perhatian publik. Lihat saja bagaimana lagu ini dikumandangkan di sudut-sudut kampung, dinyanyikan publik sambil beraktivitas, ataupun diaransemen ulang oleh banyak penyanyi. Pertanyaannya, mengapa lagu “Sotya” menjadi populer?

Lagu berbahasa rinengga memang identik dengan gendhing, langgam, atau campursari. Tak sedikit publik yang menilai bahasa rinengga itu arkais, kuno. Barangkali, pandangan itulah yang membuat bahasa rinengga ditinggalkan. Akan tetapi, pandangan itu terjungkir akibat lagu “Sotya”.

Lagu “Sotya” memang menggunakan bahasa rinengga tetapi bentuk lagunya diperbaharui. Ia berbentuk pop. Lihat saja bagaimana lagu ini dikemas dengan wujud yang sangat sederhana: petikan gitar dan vokal. Lihat juga bagaimana strukturnya: intro-verse-reff. Alur ini diulang dua kali laiknya kebanyakan struktur pop. Kendati demikian, bentuk dan struktur ini justru digandrungi tak sedikit orang. Sekali lagi, alasannya karena lagu ini berbentuk pop.

Sesuai namanya, aliran ini dinilai paling populis dibanding aliran lainnya. Lihat saja hasil survei dari Jakpat pada tahun 2024! Sebanyak 79% responden menyatakan cenderung mendengarkan pop. Tak hanya itu. IDN Research Institute juga telah melakukan survei pada tahun 2024 lalu. Hasilnya, sebanyak 59% generasi z cenderung mendengarkan aliran pop.

Dua hasil survei itu menunjukan bahwa aliran pop adalah aliran musik yang paling banyak didengarkan. Dalam konteks ini, penggabungan antara bahasa rinengga dengan aliran pop adalah formula yang jitu. Ia menggabungkan musikalitas lampau dengan kini menjadi perpaduan ciamik. Dengan demikian, bahasa rinengga dapat dibawa ke ruang yang lebih lebar, populis.

Formula tersebut pada kenyataannya turut diadopsi oleh pencipta lagu lainnya. Terbukti, setelah lagu “Sotya” populer, lagu-lagu lain mulai ditelurkan. Lihat saja lagu “Lintang Asmoro”, “Lamunan”, “Pujaningsih”, hingga “Kusuma Wijaya”. Hampir semua lagu berbahasa rinengga ini juga populer, bahkan diaransemen ulang oleh banyak musisi. Dalam konteks ini, formula inilah yang menjadi salah satu faktor banjirnya lagu berbahasa rinengga. Semoga banjirnya lagu berbahasa rinengga bukan peristiwa sesaat.

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cerpen Eko Setyawan

Cerpen: Carlina dan Dangdut yang Mencelakainya

Cerpen Sholikhin Mubarok

Cerpen : Asti Karya Sholikhin Mubarok

Mored Moret Muhammad Iqbal Mukhlis

Puisi Mored: Labirin Rasa dan Puisi Lainnya

fulitik

Billboard Diturunkan, Dukungan Masyarakat kepada Mas Rio Makin Meningkat

Buku M Ivan Aulia Rokhman Ulas

Resensi Buku Ramadan Undercover

Muhammad Husni Puisi

Puisi: Untuk Gadis

Anwarfi Puisi Ramli Q.Z.

Puisi-Puisi Ramli Q.Z.

Apacapa

Selamat Molang Are, Orang Pilihan

Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 4)

Puisi Rizal Kurniawan

Puisi-puisi Rizal Kurniawan: Ibu Kota Baru Suatu Pagi

Halim Bahriz Puisi

Puisi: Rutinitas Berkenalan dengan Diri Sendiri

Uncategorized

MMI Dukung Anak Muda Plalangan Wujudkan Impian

Moh. Rofqil Bazikh Puisi

Puisi : Orang Bukit Karya Moh. Rofqil Bazikh

Apacapa

Sebuah Cerita Horor Tentang Pernikahan

Amaliya Khamdanah Buku Resensi Ulas

Resensi: Melintasi Zaman di Kudus Melalui Novel Sang Raja

Alex Cerpen

Cerpen: Dia Bukan Gatot Kaca

Apacapa

Mengapa Harus Puasa?

Joe Hasan Puisi

Puisi: Kisah dalam Buku dan Puisi Lainnya

Advertorial

Rekomendasi Popok Bayi Terbaik Sesuai Usia

AF. Qomarudin Puisi

Secangkir Kopi dan Puisi Lainnya Karya AF. Qomarudin