Koloni: Fabel Sosial Ratih Kumala yang Menjepit Realitas Manusia

Nama Ratih Kumala sudah akrab lewat Gadis Kretek. Namun, perkenalan serius datang belakangan, saat tugas kuliah semester tiga mewajibkan mencari buku terbitan tahun 2025. Dari situlah muncul novel terbarunya, Koloni. Jujur saja, awalnya ide cerita fabel soal semut itu terdengar biasa saja dan kurang menggugah. Ternyata, pandangan itu langsung terpatahkan, begitu membaca pengantarnya, rasa penasaran itu langsung menjerat. Koloni ternyata bukan fabel anak-anak, melainkan sebuah kisah dewasa yang menggambarkan intrik sosial dan kelakuan manusia yang lengkap dengan drama kekuasaan dan ambisi lewat kehidupan para semut.

Koloni Karya Ratih Kumala memang menyinggung aspek biologis kehidupan semut, termasuk proses perkawinan mereka, tetapi penyajiannya jauh dari kesan vulgar atau berlebihan. Adegan tersebut justru digambarkan secara ilmiah dan kontekstual, sebagai bagian dari siklus hidup serta naluri alamiah semut untuk mempertahankan keberlangsungan koloninya. Bukannya terasa janggal, bagian ini justru memperkaya pemahaman pembaca tentang dunia semut dan memperkuat pesan simbolik yang dibangun penulis.

Selain ceritanya yang enggak main-main, sampul Koloni ini benar-benar mencuri perhatian. Desainnya sangat nyentrik, mirip kartu Joker tapi diganti kepala semut merah dan biru yang saling berhadapan. Sentuhan kontras disini bukan hanya sebagai gaya, melainkan langsung menegaskan tema dualisme dalam cerita, kekuasaan lawan pengorbanan, atau hidup di atas lawan di bawah tanah. Visualnya yang artistik dan misterius sukses membuat novel ini makin menggoda untuk dibaca..

SINOPSI BUKU

Novel ini berpusat pada Darojak, ratu muda penyintas yang koloni asalnya musnah karena pembabatan hutan yang mengacu pada isu IKN. Ia diselamatkan semut jantan bernama Sunar dan bersembunyi di sarang Ratu Gegana, di bawah perlindungan Mak Momong yang menyadari potensi Darojak. Namun, rahasia terbongkar saat feromon cinta Darojak dan Sunar tercium. Konflik tak terhindarkan pertarungan dua ratu yang melambangkan perebutan kekuasaan, ambisi, dan kontrol. Ratih Kumala menggambarkan dunia semut secara detail dari hierarki hingga komunikasi feromon sebagai kritik ekologis terhadap kerakusan manusia yang merusak tatanan alam.

ISI BUKU

Novel Koloni lahir dari pertanyaan “bagaimana jika kehidupan semut yang super teratur ternyata sama bobroknya dengan manusia?.” Ratih Kumala mengajak kita melihat dunia bawah tanah, sarang semut yang berfungsi sebagai miniatur masyarakat manusia, terstruktur, fungsional, namun diam-diam menekan kebebasan. Semuanya diatur oleh kodrat bahwa ratu melayani kehidupan, pekerja menjaga keseimbangan. Namun, Ratih memposisikan sistem fungsional ini sebagai metafora yang menekan kebebasan personal, seperti digariskan dalam kutipan pedas.

Koloni adalah sebuah fabel berlapis yang mengisahkan kehidupan semut dengan resonansi yang sangat manusiawi. Fokus cerita jatuh pada Darojak, seekor semut betina yang tak hanya menjadi tokoh utama, tetapi juga simbol perjuangan perempuan yang harus menemukan pijakan dalam sistem sosial yang keras. Perjalanan emosional Darojak bermula dari tragedi kehancuran koloni asalnya oleh alat-alat berat manusia, sebuah opening yang langsung menyentil isu ekologis. Ia diselamatkan oleh Sunar, semut jantan dari koloni lain, dan dibawa ke sarang Ratu Gegana, penguasa yang digambarkan keras, ambisius, dan paranoid terhadap ancaman kekuasaan.

Di sanalah Darojak bertemu Mak Momong, ibu Ratu Gegana dan ratu lama yang kini bekerja sebagai pengasuh. Mak Momong, dengan kebijaksanaannya, menyadari potensi Darojak dan diam-diam mempersiapkannya sebagai ratu penerus, memberikannya peran penting sebagai semut pengasuh. Namun, Darojak menyimpan rahasia berbahaya, yaitu menjalin hubungan cinta terlarang dengan Sunar. Dalam tatanan koloni, persatuan dengan semut luar adalah pengkhianatan, dan feromon cinta mereka menjadi sumber konflik besar.

Ratih Kumala menggunakan koloni ini sebagai panggung untuk menyoroti hierarki yang cacat, kekuasaan yang korup, dan ketidakadilan. Ratu Gegana digambarkan sebagai pemimpin yang menolak melepaskan tahtanya meski tenaganya menurun, bahkan tega membunuh Sunar demi melenyapkan ancaman. Sementara itu, Mak Momong, yang menyaksikan kezaliman anaknya, menjadi lambang pengorbanan ibu yang memilih diam demi stabilitas, meski hatinya remuk.

Kisah mencapai titik haru ketika Darojak menjadi ibu. Ia melahirkan Jantung Hati, semut cacat bersayap tak sempurna, dan Hari Bahagia, yang digadang-gadang sempurna. Namun, Darojak membuat pilihan pahit yaitu mengusir Hari Bahagia untuk mendirikan koloni baru, sementara Jantung Hati diasuh dengan segala keterbatasannya. Melalui nasib kedua anaknya, Ratih Kumala menyoroti pesan universal tentang keberanian untuk bertahan, penerimaan ketidaksempurnaan, dan kekuatan cinta seorang ibu yang tak terbatas.

KELEBIHAN BUKU

Salah satu kekuatan utama Koloni terletak pada keberanian Ratih Kumala menghadirkan fabel dengan kedalaman filosofis. Ia tidak sekadar menulis kisah tentang semut, melainkan menulis tentang manusia dalam rupa semut. Melalui dunia kecil itu, pembaca diajak melihat kembali bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana cinta bisa menjadi hal terlarang, dan bagaimana pemimpin perempuan memikul beban tanggung jawab di bawah tekanan sistem yang keras. Ratih menggambarkan tokoh-tokohnya dengan emosi dan psikologi yang tajam. Ratu Gegana, misalnya, bukan hanya simbol penguasa, melainkan juga representasi dari pemimpin yang tersandera ambisinya sendiri. Mak Momong menjadi lambang kasih dan kebijaksanaan yang tak lekang waktu, sedangkan Darojak mewakili perempuan muda yang belajar memimpin dengan hati. Ketiganya menunjukkan berbagai wajah perempuan yaitu penguasa, ibu, dan penerus.

Dari segi alur dan bahasa, Koloni terasa ringan dan mengalir. Alurnya cepat tanpa terasa terburu-buru, dan bahasanya rapi serta mudah dipahami. Pembaca tidak akan kesulitan mengikuti jalannya cerita meskipun karakter-karakternya berupa semut. Ratih juga sukses menjaga keseimbangan antara konflik politik, refleksi sosial, dan romansa, tanpa membuat ceritanya terasa berat. Selain itu, novel ini mengandung pesan feminis yang sederhana namun kuat. Ratih menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan tidak selalu identik dengan sikap keras atau dominan. Justru, kekuatan sejati perempuan terletak pada empati, kasih, dan naluri melindungi, sesuatu yang ditunjukkan dengan sangat indah melalui figur Darojak dan Mak Momong.

Kelebihan lain adalah penggambaran simbolik yang kuat. Dunia semut di sini bukan hanya latar, tetapi cerminan mini dari dunia manusia yang penuh hierarki, intrik, dan sistem sosial yang menuntut ketertiban. Melalui narasi yang sabar dan rinci, Ratih menulis dengan ritme seperti langkah semut itu sendiri teratur, kecil, namun mengarah pada tujuan yang besar.

KEKURANGAN NOVEL

Walaupun Koloni begitu memikat dari segi ide dan penulisan, ada satu bagian yang bisa dianggap sebagai kelemahan, yaitu akhir cerita yang terasa menggantung. Ratih tidak menutup kisah dengan kesimpulan yang jelas apakah tokoh-tokohnya menemukan kebahagiaan atau tidak. Akhirnya tidak bisa dikatakan bahagia, tetapi juga tidak sepenuhnya tragis. Hal ini menimbulkan kesan tidak tuntas bagi pembaca yang mengharapkan resolusi yang lebih konkret. Namun, bagi sebagian pembaca lainnya, akhir yang menggantung justru memperkuat kesan reflektif dan realistik. Hidup, sebagaimana koloni semut itu sendiri, tidak pernah benar-benar selesai. Akan selalu ada generasi baru yang lahir, berjuang, jatuh, dan bangkit kembali.

KESIMPULAN

Secara keseluruhan, Koloni adalah novel wajib baca yang melampaui fabel. Ratih Kumala dengan cerdik menggunakan dunia semut untuk menghadirkan renungan besar tentang kekuasaan, peran perempuan, dan eksistensi manusia. Dengan detail yang konsisten, seolah menulis dengan kesabaran seekor semut membangun sarang. Novel 245 halaman ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran. Ratih Kumala memaksa pembaca bertanya “Sebebas apa kita dalam sistem sosial ini?” Akhirnya, Koloni menutup dengan pesan kuat bahwa kekuatan sejati bukanlah dominasi dan kekuasaan, melainkan keberanian untuk tetap ramah di tengah dunia yang keras.

Penulis

  • Aulia Sall Sabilla Wibowo, lahir 28 Agustus di Kota Susu, Boyolali, adalah Mahasiswi semester tiga Tadris (Pendidikan) Bahasa Indonesia, Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Jawa Tengah. Pernah terpilih sebagai Penulis Menulis Bareng dalam Halo Penulis tahun 2025. Sapa ia lewat @inisaasa_


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bulan Nurguna Cerpen

Cerpen: Kirana dan Ibunya

Cerpen Uwan Urwan

Cerpen Seratus Perak

Firman Fadilah Puisi takanta

Puisi: Hikayat Keabadian

Ahmad Sufiatur Rahman Apresiasi

Puisi Relief Alun-Alun Situbondo

Apacapa Marlutfi Yoandinas

Tentang Anak Muda yang Semalam Suntuk Meresapi Cerita Mamaca

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Novel Anak Bersudut Pandang Banyak

Madura Puisi Madura

Puisi Bahasa Madura: Bilâ Billâ

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen: Peristiwa Menjelang Pemilu Karya Ahmad Zaidi

Apacapa Bayu Dewo Ismadevi

Menyiapkan Generasi yang Hebat

Apresiasi

Puisi – Tentang Situbondo

Apacapa

Orang Situbondo Keturunan India?

Mored Moret Puisi Nur Akidahtul Jhannah

Puisi Mored: Jeritan Pantai Peleyan dan Puisi Lainnya

Cerpen Toni Kahar

Cerpen: Sebelum Membayar Dendam

Agus Hiplunudin Apacapa Esai Feminis

Perempuan dalam Pusaran Konflik Agraria di Indonesia

game Ulas

Metal Gear Solid Delta: Sebuah Game Klasik Dengan Sentuhan Modern

Apacapa

5 Tips Mencari Tiket Pesawat Murah Jelang Tahun Baru 2018

Puisi

Remuk Redam dan Puisi Lainnya

Cerpen

Cerpen – Rindu

Cerpen Ruly R

Cerpen – Bashe

Ahmad Zaidi Apacapa

Sebuah Perjalanan : Tentang Kayumas Bersastra