Ramadan: Korban Keisengan Saat Tidur di Langgar

 

Oleh: Rusdi Mathari

Hampir setiap akhir pekan, kami selalu tidur
bersama di langgar kakek. Kami akan mulai berkumpul di langgar sekitar sejam
selepas tadarusan dengan membawa sarung. Itu adalah waktu yang selalu kami
tunggu-tunggu setiap Ramadan, menjadi sebuah kegembiraan tersendiri karena
sebelum tidur, ada-ada saja yang kami lakukan.

Ada yang main gaple dengan hukuman diolesi bedak di
wajah, ada yang membagi cerita soal siksa kubur, ada yang pamer karena usai
makan dengan lauk sate ayam, dan sebagainya. Lalu teman yang paling cepat
tidur, biasanya akan jadi “korban” keisengan kami yang masih melek.

Kadang kami mengikat sebutir garam di ujung benang,
lalu memasukkannya ke mulut mengangah teman yang tidur. Dan kami bisa
terpingkal-pingkal karena melihat teman yang diisengin, dalam keadaan setengah
terjaga, mulutnya “mengejar” garam yang kami masukkan ke mulutnya.

Kadang kami mengikatkan benang ke salah satu jari
kaki teman yang tidur. Benang kemudian kami bakar, dan ketika baranya merambat
hingga ke ikatan di jari, teman kami yang tidur sontak terbangun.

Salah seorang dari kami yang paling iseng adalah
Aang, adik saya. Keisengannya sudah kesohor di antara kami teman-temannya. Dan
korban keisengannya tak hanya kami teman-teman sebayanya, melainkan juga orang
tua.

Selain Pak Madun yang suka waswas, [almarhum] Pak
Saleh juga pernah jadi korbannya. Pak Saleh adalah tukang labur (mengecat
dengan gamping) yang dikenal paling rapi di kampung. Sebulan penuh sebelum
Ramadan dia panen permintaan melabur dari para tetangga.

Pernah, sepekan sebelum puasa di satu bulan
Ramadan, bapak-ibu meminta Pak Saleh melabur rumah kami. Bila pagi-pagi Pak
Saleh datang, sebelum berangkat kerja ibu biasanya membuatkan secangkir kopi
dan menyediakan kudapan, sementara Bapak meninggalkan sebungkus rokok. Bila
siang, seorang tetangga yang dimintai tolong oleh ibu, akan membantu
mengambilkan makan di dapur rumah untuk Pak Saleh. Begitulah yang terjadi
setiap hari bila Pak Saleh melabur di rumah.

Suatu siang, Pak Saleh yang sedang istirahat usai
makan, meminta Aang agar membuatkan kopi untuknya. Aang yang baru pulang
sekolah menuruti permintaannya dan membuatkan kopi ala kadarnya dengan air
panas yang tersedia di termos. Pak Saleh senang, tapi setelah itu, setiap
siang, setiap Aang pulang sekolah, dia keranjingan meminta Aang untuk
membuatkan kopi hingga semuanya berakhir pada suatu siang yang lain.

“Ang, kopi yang tadi kamu buat dicampur apa?” tanya
Pak Saleh.

“Ya dicampur gula Pak Saleh. Memangnya kenapa?”

“Rasanya kok lain ya…”

“Lain gimana?”

“Kepalaku agak keliyengan setelah minum kopimu kali
ini.”

Mendengar Pak Saleh mengaduh semacam itu, Aang
tahan untuk tidak tertawa atau membuka “rahasia” kopinya di depan Pak Saleh.
Dia membiarkan Pak Saleh penasaran. Aang baru bercerita yang terjadi pada kopi
Pak Saleh kepada kami ketika malamnya kami berkumpul di langgar.

“Kapok Pak Saleh. Dia enaknya sendiri. Dibuatkan
kopi sekali minta dibuatkan setiap hari,” Aang membuka cerita.

“Terus kamu apakan kopi Pak Saleh?” tanya seorang di
antara kami.

“Kopinya tak hanya aku campur gula…”

“Kamu campur apalagi?”

“Aku campur micin (vetsin)…”

Keesokannya, Pak Saleh benar-benar jera meminta
Aang untuk membuatkan kopi. Dia tampaknya tak mau lagi minum kopi campur micin,
penyedap masakan itu.

Pernah pula Aang mengisengi seorang teman yang
sedang tidur di lincak di teras rumahnya pada sebuah Ramadan. Dengan lidi dia
mengambil tahi ayam yang berwarna cokelat (kami menyebutnya tamancok lencung)
lalu dia oleskan ke punggung telapak tangan teman yang sedang tidur itu.
Sesudahnya, dengan bulu ayam, Aang menguser-user hidung teman tadi hingga teman
yang apes itu mengusap-usapkan punggung telapak tangannya yang penuh tahi ayam
ke hidungnya.

Tak lalu Aang yang suka iseng tak pernah jadi
korban keisengan teman-teman. Kami semua tahu, Aang adalah paling penakut. Dia
takut pada gelap dan takut pada apa yang disebut hantu. Kalau kami tidur di
langgar, dia akan tidur di tengah-tengah di antara kami. Dan bila seorang kami
bercerita soal hantu, Aang akan menutupkan sebagian sarungnya ke mukanya.

Pada suatu malam, teman yang jadi korban keisengan
Aang karena tangannya diolesi tahi ayam, mengajak kami untuk ngerjain Aang.
Kami semua pura-pura tidur ketika Aang sudah rebahan di tengah-tengah kami.
Menjelang tengah malam, ketika Aang benar-benar pulas, lampu langgar kami
matikan dan kami semua keluar langgar. Seorang teman lantas mengenakan mukena (pakaian
salat perempuan) yang ada di langgar sehingga mirip orang mati yang dikafani. Dia
rebahan di sebelah Aang dan mencolek-coleknya, sementara teman-teman yang lain
menunggu di belakang langgar.

Beberapa menit setelahnya mudah ditebak yang
terjadi: Aang yang terbangun karena dicolek oleh teman yang mengenakan mukena,
menjerit. Dia terbirit-birit keluar langgar dan berlari menuju rumah. Kami
semua tertawa, dan sejak itu, Aang jarang ikut tidur di langgar bersama kami,
meski keisengannya tak pernah berubah. []

 

TENTANG
PENULIS

RUSDI
MATHARI (Situbondo, 12 Oktober 1967 – Jakarta, 2 Maret 2018) Pernah bekerja
sebagai wartawan lepas Suara Pembaruan (1990-1994), redaktur InfoBank
(1994-2000) dan Detik.com, anggota staf PDAT majalah Tempo (2001-2002),
redaktur majalah Trust (2002-2005), redaktur pelaksana Koran Jakarta
(2009-2010), redaktur pelaksana BeritaSatu.com (2010- 2011), pemimpin redaksi
VHR Media (2012-2013), dan terakhir sebagai redaktur eksekutif Rimanews.com
(2015-2017). Peserta crash program reportase investigasi (ISAI Jakarta) di
Bangkok, Thailand, serta pernah mendapat penghargaan untuk penulisan berita
terbaik dari beberapa lembaga. Buku yang merupakan ulasan kritik terhadap media
baik di Indonesia maupun global ini adalah buku keempatnya setelah Aleppo (EA
Books, 2016), Merasa Pintar, Bodoh Saja Tidak Punya (Buku Mojok, 2016), dan Karena
Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan (Buku Mojok, 2018). Laki-Laki yang Tak
Berhenti Menangis (Buku Mojok 2019).
Laki-laki Memang Tidak Menangis,
Tapi Hatinya Berdarah, Dik (Buku Mojok, 2020).

 

ILUSTRATOR

@Anwarfi, alumni DKV Universitas Malang tahun 2017,
freelance designer, owner @diniharistudio Situbondo.

 

Penulis

  • Rusdi Mathari

    Rusdi Amrullah, lahir di Situbondo, Jawa Timur pada 12 Oktober 1967.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa fulitik masrio

Mimpi Mas Rio untuk Situbondo

Puisi

Pengharapan

Cerpen Ramli Lahaping

Cerpen: Pelet Sodik

Apacapa

Maukah Kau Menemaniku di Kampung Langai, Dik?

Curhat

Selimut Air Mata

Apacapa

Orang Madura Tanpa Toa dan Sound System, Apa Bisa?

Apacapa Esai Imam Sofyan

Wisata Perang: Gagasan Brilian Sang Bupati

Mored Puisi Silvana Farhani

Puisi Mored: Sabit Hingga Purnama

Cerpen Sainur Rasyid

Surat dari Akhirat

Apacapa Marlutfi Yoandinas

“CACAT” DI UU CIPTA KERJA

Advertorial

Cara Praktis Daftar Akun M-Banking BRI Lewat Mesin ATM serta Manfaat Menggunakannya

Puisi

Luka Perempuan dan Puisi Lainnya

Moh. Rofqil Bazikh Puisi

Puisi : Orang Bukit Karya Moh. Rofqil Bazikh

Buku Ulas

Koruptor, Pramoedya Ananta Toer

Buku Fara Firzafalupi Ma’rufah Resensi Ulas

Resensi: Ikhlaskan Lepaskan Perjuangkan

Fathur Rahman Prosa Mini

Menanti Sebuah Tulisan

Apacapa

Santri Tanpa Templek

ebook

Sudut Kota: Kumpulan Cerita Situbondo

Apacapa Moh. Imron

Tellasan dan Ngojhungi

Apacapa Elsa Wilda

Islam Aboge Onje Purbalingga Menurut Perspektif Sosiologi Agama Dasar