Santri Tanpa Templek

Di Pulau Santri, entah siapa orang pertama yang menjuluki pulau itu dengan panggilan sakral tersebut. Bukan karena mayoritas penduduk pernah menyantri. Urusan ini saya kira ada sekian pulau-pulau lain yang lebih berhak secara statistik. Faktanya adalah para kiai di pulau itu sangat bermasyarakat. Di banyak potret kehidupan setempat, acapkali—tak ada undangan, tak ada hajatan—ulama turun bertamu-tamu dengan orang bawah. Istilah football: jemput bola. Tak berdiam menanti umpan. Walau, untuk “profesionalisme” tetap tergantung individu tiap-tiap “pemain”. Ada yang tetap “menyandang sorban”, terdapat pula yang memilih mencopot dan menanggalkannya. Sama-sama beralasan.

Versi pertama, kekiaian sudah begitu melekat. Tentu yang kita harapkan ialah “isi” dari kekiaian itu; yakni ilmu. Bukan sekadar pangkat sosialnya. Sehingga di mana pun dan bersama siapa pun, celetuknya tetap celetuk ilmu. Namanya benar-benar sosok kiai. Versi kedua berargumen bahwa tiap-tiap sesuatu mesti punya tempat sendiri-sendiri. Saat mengkiai, bolehlah kondang berkoar-koar. Tatkala jagungan ngopi, jangan tiba-tiba dalil demi dalil terurai, khawatir warungnya tutup siang-siang.

Lalu, terjadi suatu ironi. Disebabkan kentalnya hubungan antartokoh agamis dan manusia-manusia “awam-is”, orang-orang merasa “harus” menyalam-templek tatkala seorang tokoh datang—walau secara tak diundang—ke rumahnya. Lebih-lebih, seandainya kesakralan “beliau” telah terbukti. Seakan berpotensi menjadi “fitnah sayyi’ah” di mulut tetangga yang kemungkinan berlangsung pekan demi pekan, kalau saja tak menyajikan paling bagusnya sajian. Mengenai keutamaan menghaturkan hadiah kepada para alim ulama tak usah ditanya lagi. Alumni manapun dapat spontan ngedalil tanpa perlu melambungkan tangan menggeledah lembar kitab di rak.

Namun, dunia tak pernah sepi dari manusia-manusia aneh bin nyeleneh. Salah satu penduduk memiliki pandangan asyik. Tersebutlah Pak Sarepeng, nama yang dibuat-buat. Ia berpendapat bahwasanya dirinya sendiri lebih sreg tidak menemplek tangan kiai dengan amplop-amplop. Argumennya sederhana, merasa ada jarak terhadap pribadi kiai bilamana antartangan harus disatiri oleh lembaran uang atau kertas amplopan. Kiai datang bertamu—selain tak mungkin demi mencari templek—juga pasti menginginkan keakraban lebih bersama masyarakat. Yang mana itu sulit diperoleh di situasi-situasi acara resmi hajatan. Dan—bagi Pak Sarepeng—uang terlalu sensitif di balik keakraban yang butuh keintiman rasa. Bagaimana akan terus-menerus bertamu jika sekadar duduk harus dibiayai sesalam templek? Penduduk lain yang sempat mendengar tidak dapat membantah. Itu realistis. Walau tak bisa serta-merta mereka mengamalkan atau mempraktikkan. Sebab menyalahi kebiasaan, kata masyarakat itu, rawan menjadi buah bibir orang.

Tak heran bila Pak Sarepeng mendapat perhatian lebih dari para tokoh-tokoh. Analogi antartangan yang berjabat terselip uang kertas atau tidak, terbukti berbeda. Batas pemisah antarjiwa bisa pula disebabkan kebiasaan templek yang dipaksakan. Namun, tak semua menyetujui resep ini. Ada yang berkata, itu sebab karakter “plenganger” seorang Pak Sarepeng. Seandainya bukan manusia-manusia (plenganger) macam dia, akan lebih tak nyaman lagi bila tiada templek sama sekali. Kalau begitu adanya, ajaibnya juga si Sarepeng ini.

Di sisi lain, tersebut juga Pak Dilahoya. Nama yang tak asli juga. Menyanggah resep Pak Sarepeng setelah beberapa pekan mulai dibicarakan orang-orang di cangkrukan sawah. Katanya, “Kita ini pendosa. Alangkah sedikit terpuji, nun tak hina-hina amat apabila menghadiahkan sesuatu berharga untuk tokoh-tokoh yang berkah.” Pendapat ini banyak diacungkan jempol. Menekankan pada pengikisan ego di hadapan “situasi tabarrukan” yang menawar-nawar kesempatan. Tak setiap hari orang macam sawah bertatap orang macam rembulan. Urusan tak seakrab Pak Sarepeng tak jadi persoalan. Malah, kedekatan sering menjebak rawannya jurang hitam, jurus pungkasan Pak Dilahoya.

Bertubi-tubi telinga Pak Sarepeng dilempar sanggahan-sanggahan karya Pak Dilahoya. Tetap tak bergeming. Dua pendapat di atas seru dijadikan bahan renungan. Betapa orang-orang awam mau berpikir mengapa ia bertindak begini dan begitu, merupakan keistimewaan yang langka. Seandainya dipetakan dan mau menelisik secara mendalam nun utuh; asyik. Patut kita tiru dari titik temu kedua bapak-bapak tadi adalah: menolak berprasangka buruk pada kiai. Kedua, berani mencari-cari makna dari kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlangsung antargenerasi. Ketiga, tiada provokasi demi melambungkan pendapatnya sendiri. Terakhir, fokus pada sikap mereka terhadap kiai. Bukan menghakimi sikap kiai terhadap mereka. Sisanya, yang tak berani merenung hanya bersikap ikut-ikutan. [ ]

Penulis


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apacapa Kyaè Nabuy Madura Totor Wisata Situbondo

Apalessèran ka Pèngghir Sèrèng Blekko’

Resensi

Resensi: Teka Teki Rumah Aneh

Esai Hayyi Tislanga

Berperan Tanpa Perasaan

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen : Sebuah Hujan dan Guguran Kesedihan Karya Ahmad Zaidi

M. Suhdi Rasid Mored Moret

Puisi Mored: Ibu dan Puisi Lainnya

Puisi Madura

Puisi Madura: Pètto Bellâs

apokpak Cerpen N. Fata

Cerpen : Nanti Kutukar Cincin Pemberian Ibumu itu

Apacapa Madura

Lancèng Takaè’

Puisi Zainul Anshori

Seuntai Pengorbanan

Apacapa Fendy Sa’is Nayogi

Kemarau Tiba, Hati-Hati Kekeringan

Nurul Fatta Sentilan Fatta

Menolak Sesat Pikir Pendidikan Cuma Cari Ijazah

Apacapa Harjakasi Wahyu Aves

HARJAKASI: Hari Jadi Kabupaten Situbondo

Apacapa Supriyadi

Lagu Religi, Musim, dan Kelindannya

Cerpen

Menjelang Perayaan

Resensi

Resensi: My Magic Keys

Baiq Cynthia Cerpen

Kau dan Kehilangan

Cerpen Gusti Trisno

Cerpen – Joe dan Dua Orang Gila

Puisi

Kemerdekaan Sebatas Kalender dan Puisi Lainnya

Buku Dani Alifian Ulas

Ulas Buku: Dahulu Mereka dan Puisi

Ahmad Zaidi Cerpen

Cerpen; Clarissa