Burnik City, Manchester United, dan “Pengkhianatan” Kecil Mas Rio

Akhir-akhir ini saya sibuk menulis. Saat memikirkan satu tema tulisan, pikiran saya kok tiba-tiba teringat teringat Burnik City. Ya udah saya tulis aja deh. 

Begini. 

Saya benar-benar gagal paham dengan jalan pikiran Mas Rio. Serius nih. Di tengah usahanya yang oke banget menyulap bantaran sungai yang dulunya punya kesan suram dan negatif menjadi sentra UMKM yang sip sara, ia malah menyematkan nama yang bikin dahi football lovers Sibon berkerut, yaitu Burnik City.

Oke lah secara semantik, mengubah kata “Burnik” yang tadinya berkonotasi jhubek menjadi sesuatu yang produktif itu niat yang mulia, ya. Nah masalahnya bukan itunya. Masalahnya adalah Mas Rio ini kan ke mana-mana selalu mendaku sebagai loyalis garis keras Manchester United. Coba, bagaimana ceritanya seorang pemuja Setan Alas eh Setan Merah tega-teganya membubuhkan embel-embel “City”? 

Lagi-lagi semua penggemar bola tahu kan kalau musuh bebuyutan MU itu ya Manchester City. Nah pakai nama Burnik City itu rasanya seperti kamu mengaku cinta mati pada istri sendiri tapi malah pasang tato nama selingkuhan di lengan kanan. Kenapa gak sekalian aja dinamai Burnik Red Devils atau GGMU Burnik? Ini sungguh ketidakkonsistenan yang hakiki, Mas!!!

Coba kalau saya yang jadi Mas Rio. Sebagai penggila yang dimabok AS Roma, jangan harap deh ada bau-bau SS Lazio di program yang saya bikin. Kalaupun itu di Burnik, maka namanya haruslah Associazione Sportiva Burnik alias AS Burnik. Keren, puitis, dan yang jelas tidak mengkhianati iman sepak bola saya. (Tolong editor ini dicetak tebal, ya)

Tapi ya sudahlah, toh “Burnik” memang bukan kesebelasan bola. Di tangan Mas Rio, ia berubah jadi ruang wisata UMKM.

Berpihak pada UMKM

Coba kita lihat Burnik City dan Pasar Perreng, terlihat jelas betapa kepemimpinan duet Mas Rio-Mbak Ulfi ini sangat jelas sekali nuansa lokalitasnya. Tapi, jangan salah sangka dulu. Meski judulnya lokal, menu-menu di sana tidak melulu soal tajhin palappa, nasi sodhu, atau rengginang Gelung Panarukan yang itu-itu saja.

Ada aneka kuliner yang siap manyaman lidahmu sambil lalu bes-abesen ke arah barat menikmati sunset. Di sore hari, Burnik City memang cocok sebagai tempat bersantai-santai, Bro. Biar lebih mantap, sikat saja ikan tongkol asapnya tu. Kobessyaaah!

Begitulah Mas Rio. Ia mampu menciptakan ruang-ruang yang selama ini buruk menjadi ruang yang bermanfaat dan itu sesuai dengan harapannya menciptakan ruang sebesar-besarnya bagi para UMKM sesuai dengan visi dan misinya. 

Uang Berputar di Sibon

Melalui Burnik City dan Pasar Perreng, titik-titik ekonomi baru sengaja diciptakan. Ini penting, Bro. Menciptakan titik UMKM berarti kan memastikan uang itu berputar langsung di urat nadi masyarakat Situbondo sendiri. Uangnya tidak perlu “jalan-jalan” dulu ke Jakarta, Jember, apalagi mampir ke kantong-kantong di luar negeri.

Tentu saja ada yang skeptis. Begini yang saya dengar “Lha, kalau tempat jualan diperbanyak, yang beli siapa?”

Awalnya saya juga sempat mikir begitu. Tapi saat saya tanya ke pedagang di Pasar Perreng, jawabannya sungguh filosofis bin fantastis: “Kalau ada penjual, pasti ada pembeli.” Titik. Sebuah logika yang dahsyat kan, Bro?

Memang ada risiko sepi pengunjung sih. Tapi bukankah menghidupkan Burnik adalah tugas kolektif? Kalau kita sepakat bahwa tempat ini sudah berubah dari tempat “nggak bener” menjadi ruang produktif, ya mari kita ramaikan. Belanjalah di sana.

Kalaupun lagi bokek dan nggak mau belanja, ya udah ke sananya untuk lari-lari kecil. Jogging dengan kesayanganmu bowleeeh banget. Nah kalau agak berani dikit, coba nyemplung dan berenanglah di sungai Burnik City. Anggap saja itu upaya manggil nostalgia masa kecil yang penuh bahagia.

Lantas, bagaimana dengan orang yang bahagianya sering angin-anginan? Ya sudah jelas, mereka itu pasti fans Manchester United!

___

Editor: Hans.

Penulis


Comments

One response to “Burnik City, Manchester United, dan “Pengkhianatan” Kecil Mas Rio”

  1. Avatar Pak ti
    Pak ti

    Saya koreksi tulisan anda gus, mas rio benar itu kasih nama city, karena musuh sejarah abadi MU itu liverpool, kalo city itu hanya tetangga kaya raya yg berisik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alvin Hasany Apacapa covid 19

Covid 19: Vaksinasi dan Mobilitas Sosial

Cerpen Muhtadi ZL

Cerpen: Senja yang Menyakitkan

Apacapa

Media Sosial, Jalinan atau Jerat?

Apacapa Indra Nasution

Gepsos dan Kisahnya

Cerpen

Cerpen : Percakapan Malam Hari

Uncategorized

Hari Raya Kurban dan Penghutbah yang Setia

Buku Thomas Utomo Ulas

Ulas Buku: Perlawanan Terhadap Eksploitasi Anak

honor huawei smartphone

Kualitas Dual Kamera Pada Huawei Honor 9 Lite

Cerpen Yolanda Agnes Aldema

Cerpen : Mimpi Setelah Membaca

Diego Alpadani Puisi

Puisi: Rabu Malam

Apacapa fulitik Rasyuhdi

GOR BK Itu Narsisme Politik Saja Sih

Apacapa Feminis Irham Kahfi Yuniansah

Diskursus Feminisme Jawa: Kekuasaan dan Laku Spiritual

Uncategorized

Peran Mahasiswa Sebagai Guardian of Value

Cerpen M Firdaus Rahmatullah

Cerpen: Sebelum Kau Terjun Malam Itu

Muhammad Lutfi 2 Puisi Puisi Anak

Puisi Anak Karya Muhammad Lutfi

Penerbit

Buku: Mata Ingatan

Buku Resensi Ulas Wardedy Rosi

Resensi: Distopia dalam Fiksi Individutopia

Apacapa T. Rahman Al Habsyi

Menjadi Hamba: Membesarkan Allah, Mengerdilkan Diri

Pantun Papparekan Madura

Pantun Madura Situbondo (Edisi 7)

Cerbung Fikri Mored Moret

Cerbung: Fikri dan Kisah-Kasih di Sekolah (Part 2)